- Todd Boehly: CEO Eldridge Industries dan pemilik Chelsea FC serta LA Lakers, yang fokus pada investasi sektor media, olahraga, dan real estat.
- Armen Panossian: CEO Oaktree Capital Management dan pemilik Inter Milan, pakar dalam investasi kredit dan aset alternatif.
- Matt Harris: Perwakilan dari BlackRock Founding Partners dan Global Infrastructure Partners (GIP), pengelola aset terbesar di dunia.
- Martin Escobari: Co-President dan Head of Global Growth Equity General Atlantic, yang fokus pada perusahaan teknologi berkembang.
- Al Rabil: CEO Kayne Anderson, perusahaan yang bergerak di bidang energi, infrastruktur, dan real estat.
- Neil R. Brown: Managing Director Global Institute Infrastructure KKR, salah satu firma ekuitas swasta paling berpengaruh di dunia.
- Michael Weinberg: Chairperson of the Investment Committee Levine Leichtman Capital Partners (LLCP).
- Justin Metz: Managing Partner Related Fund Management (RFM), ahli dalam pengembangan properti dan infrastruktur perkotaan.
- Luke Taylor: Co-President Stonepeak, firma investasi yang fokus pada aset infrastruktur dan energi.
- Nabil Mallick: COO Thrive Capital, perusahaan modal ventura yang banyak berinvestasi di sektor teknologi dan perangkat lunak.
- Jeffrey Perlman: CEO Warburg Pincus, firma ekuitas swasta global dengan portofolio luas di Asia.
- Seth Bernstein: Perwakilan dari Bernstein Equity Partners, pakar dalam manajemen kekayaan dan riset pasar modal.
Membangun Rantai Ekonomi dan Masa Depan Kerja Sama RI-AS
Selain pertemuan eksklusif dengan 12 CEO tersebut, Presiden Prabowo juga memperluas jangkauan diplomasinya dengan berbicara di hadapan para pelaku usaha dalam acara business summit yang diselenggarakan oleh U.S. Chamber of Commerce di Washington D.C. pada Rabu, 18 Februari 2026. Dalam forum tersebut, Prabowo kembali menegaskan bahwa Indonesia sangat terbuka bagi kolaborasi yang dapat menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun rantai ekonomi yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, guna memastikan bahwa setiap investasi yang masuk dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa Presiden ingin Indonesia menjadi mitra strategis yang setara bagi Amerika Serikat, di mana kerja sama ekonomi yang terjalin harus bersifat simbiosis mutualisme.
Langkah agresif Presiden Prabowo di Amerika Serikat ini dipandang sebagai upaya untuk mempercepat realisasi target pertumbuhan ekonomi nasional di atas 8 persen. Dengan menggandeng investor sekaliber BlackRock, KKR, dan Warburg Pincus, Indonesia berpeluang besar untuk mendapatkan pendanaan murah bagi proyek-proyek strategis nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyek hilirisasi nikel serta tembaga. Meskipun tantangan global seperti fluktuasi pasar dan ketegangan geopolitik masih membayangi, optimisme yang dibawa oleh Presiden Prabowo dalam pertemuan di Washington D.C. ini memberikan angin segar bagi iklim investasi di tanah air. Keberhasilan dalam meyakinkan para raksasa keuangan Amerika Serikat ini diharapkan akan segera diikuti dengan penandatanganan kesepakatan konkret (Memorandum of Understanding) yang akan membawa dampak signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.

















