Kejutan besar kembali mengguncang panggung Serie A musim 2025/2026 ketika Juventus harus menelan pil pahit setelah ditundukkan oleh Como dengan skor telak 0-2 di hadapan pendukungnya sendiri di Stadion Allianz pada Sabtu (21/2/2026). Kekalahan memalukan ini tidak hanya merusak gengsi Si Nyonya Tua di kandang keramatnya, tetapi juga mempertegas dominasi tak terduga pasukan Cesc Fabregas yang secara luar biasa berhasil menyapu bersih dua pertemuan liga musim ini dengan kemenangan identik atas raksasa Turin tersebut. Hasil negatif ini sekaligus memperpanjang tren buruk Juventus yang kini tercatat gagal meraih kemenangan dalam enam pertandingan terakhir di seluruh kompetisi, sebuah krisis performa yang mulai mengancam stabilitas posisi mereka di zona kompetisi Eropa.
Pertandingan pekan ke-26 ini sejatinya merupakan duel krusial yang mempertaruhkan posisi di papan atas klasemen sementara Liga Italia. Sebelum peluit pertama dibunyikan, Juventus berada di peringkat kelima dengan koleksi 46 poin, sementara Como menempel ketat di urutan keenam dengan 42 poin. Dengan selisih yang sangat tipis, laga ini diprediksi akan menjadi ajang pembuktian bagi Juventus untuk menjauh dari kejaran rivalnya. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Como yang datang dengan status tim promosi yang sedang naik daun, tampil dengan disiplin taktik yang sangat tinggi dan efisiensi serangan balik yang mematikan, membuat barisan pertahanan Juventus yang dipimpin oleh Federico Gatti tampak kewalahan sepanjang sembilan puluh menit laga berjalan.
Analisis Komposisi Pemain dan Strategi Kedua Tim
Pelatih Como, Cesc Fabregas, menurunkan formasi yang sangat solid dengan mengandalkan Jean Butez di bawah mistar gawang. Di lini pertahanan, kuartet Alex Valle, Marc-Oliver Kempf, Jacobo Ramon, dan Ivan Smolcic tampil sangat disiplin dalam menjaga kedalaman. Lini tengah Como menjadi kunci keberhasilan mereka dengan kehadiran Perrone dan Lucas Da Cunha yang bertugas memutus aliran bola, sementara kreativitas serangan diserahkan kepada Martin Baturina, Maxence Caqueret, dan Mergim Vojvoda. Di ujung tombak, Anastasios Douvikas menjadi ancaman konstan bagi lini belakang lawan melalui pergerakan tanpa bolanya yang cerdas.
Di sisi lain, Juventus mencoba merespons dengan kekuatan penuh. Michele Di Gregorio tetap dipercaya mengawal gawang, dilindungi oleh trio bek Teun Koopmeiners, Lloyd Kelly, dan Federico Gatti dalam skema yang fleksibel. Di lini tengah, Andrea Cambiaso, Khéphren Thuram, Manuel Locatelli, dan Weston McKennie diharapkan mampu mendominasi penguasaan bola. Untuk urusan menyerang, Juventus mengandalkan talenta muda Kenan Yildiz dan Fabio Miretti guna menyokong pergerakan penyerang utama, Lois Openda. Namun, meski di atas kertas memiliki materi pemain yang lebih mentereng, Juventus tampak kesulitan menembus blok rendah yang diterapkan oleh Como sejak menit-menit awal pertandingan.
Kronologi Pertandingan: Dominasi Efisiensi Como atas Juventus
Laga baru berjalan empat menit, Como sudah memberikan sinyal bahaya bagi pertahanan tuan rumah. Melalui skema serangan cepat, Martin Baturina menerima umpan matang tepat di tepi kotak penalti. Pemain asal Kroasia tersebut melakukan kontrol bola sekali sebelum melepaskan tembakan keras yang sayangnya masih melambung tipis di atas mistar gawang Di Gregorio. Juventus sempat memberikan respons instan satu menit kemudian melalui aksi individu Kenan Yildiz. Pemain muda Turki tersebut melepaskan sepakan akurat ke arah gawang, namun kesigapan Jean Butez dalam menghalau bola memastikan gawang Como tetap perawan di awal laga.
Petaka bagi Juventus benar-benar terjadi pada menit ke-12. Berawal dari pergerakan Douvikas yang berhasil menarik perhatian para bek Juventus, ia kemudian menyodorkan umpan pendek kepada Mergim Vojvoda. Tanpa membuang waktu, Vojvoda melepaskan tendangan keras dari dalam kotak penalti yang mengarah tajam ke sudut kiri bawah gawang. Meski Michele Di Gregorio sempat menyentuh bola dengan ujung jarinya, derasnya laju si kulit bundar tetap membuat bola bersarang di dalam gawang. Gol ini sontak membungkam publik Allianz Stadium dan memberikan keunggulan 0-1 bagi tim tamu. Juventus mencoba bangkit, dan pada menit ke-20, Lois Openda mendapatkan peluang emas di posisi ideal, namun penyelesaian akhirnya masih melenceng jauh dari sasaran.
Memasuki babak kedua, Juventus melakukan perubahan taktik dengan memasukkan Francisco Conceicao untuk menambah daya gedor dari sisi sayap. Pada menit ke-49, Conceicao hampir saja menyamakan kedudukan saat ia menerima bola di tepi kotak penalti dan melepaskan tembakan ke arah tengah gawang. Sayangnya, eksekusi pemain asal Portugal tersebut kurang bertenaga sehingga Jean Butez dengan mudah mengamankan bola. Keasyikan menyerang justru membuat lubang di pertahanan Juventus. Pada menit ke-61, melalui sebuah skema serangan balik yang sangat rapi, Lucas Da Cunha mengirimkan umpan tarik datar yang sangat presisi ke tengah kotak penalti. Maxence Caqueret yang muncul dari lini kedua langsung menyambar bola untuk mencetak gol kedua bagi Como, mengubah skor menjadi 0-2.
Implikasi Klasemen dan Catatan Sejarah Pahit Si Nyonya Tua
Kekalahan ini membawa konsekuensi serius bagi posisi Juventus di tabel klasemen Serie A. Dengan tambahan nol poin, Juventus kini tertahan di urutan kelima dengan 46 poin, hanya unggul satu angka dari Como yang melonjak ke peringkat keenam dengan 45 poin. Kondisi ini membuat persaingan memperebutkan tiket Liga Champions semakin memanas, mengingat AS Roma yang berada di posisi keempat hanya terpaut satu poin dari Juventus dengan koleksi 47 poin. Bagi Como, hasil ini mempertegas status mereka sebagai “pembunuh raksasa” musim ini, mengingat mereka telah mengalahkan Juventus dua kali, setelah sebelumnya juga menang 2-0 di Stadio Giuseppe Sinigaglia pada Oktober lalu.
Secara historis, kekalahan ini merupakan tamparan keras bagi manajemen dan pendukung Juventus. Ini adalah kali pertama Juventus kehilangan rekor tak terkalahkan mereka atas Como yang sudah bertahan sejak tahun 1952. Statistik akhir pertandingan menunjukkan bahwa meski Juventus mendominasi penguasaan bola hingga 51 persen dan melepaskan lebih banyak tekanan di akhir laga, mereka sangat tidak efektif dalam penyelesaian akhir. Sebaliknya, Como tampil sangat klinis dengan memanfaatkan peluang yang ada. Upaya terakhir dari Teun Koopmeiners pada menit ke-65 melalui sundulan kepala yang melenceng tipis menjadi gambaran frustrasi Juventus yang tak kunjung menemukan jalan keluar hingga peluit panjang dibunyikan.
Dengan hasil ini, beban berat kini berada di pundak staf pelatih Juventus untuk segera melakukan evaluasi total. Kegagalan meraih kemenangan dalam enam laga beruntun di semua kompetisi menunjukkan adanya masalah mendalam, baik dari sisi mentalitas maupun skema permainan. Sementara itu, bagi Como, kemenangan di Allianz Stadium ini akan dicatat sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah klub di kasta tertinggi sepak bola Italia, membuktikan bahwa proyek ambisius mereka di bawah kepemimpinan Cesc Fabregas mulai membuahkan hasil yang nyata di level tertinggi.

















