Pergantian taktik, drama kartu merah, dan gol-gol krusial mewarnai panggung Super League 2025-2026 pada malam yang penuh gejolak, 21 Februari lalu, saat tiga pertandingan sengit di lokasi berbeda secara fundamental mengubah peta persaingan. Di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, sebuah debut pelatih mengantarkan Persijap meraih kemenangan vital atas Persebaya, sementara di Solo, Stadion Manahan menjadi saksi bisu laga imbang antara Persis dan PSBS Biak, dan di Stadion Gelora Bangkalan, Madura United dan Arema FC berbagi poin dalam duel empat gol. Malam itu tidak hanya menyajikan tontonan menarik bagi para penggemar sepak bola Tanah Air, tetapi juga mengukuhkan dinamika liga yang semakin ketat, dengan tim-tim di papan bawah berjuang mati-matian menghindari zona degradasi dan tim-tim di papan tengah berebut posisi strategis.
Transformasi Persijap di Bawah Mario Lemos: Mengguncang Persebaya
Titik fokus utama dari rangkaian pertandingan malam itu terjadi di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, di mana Persijap berhasil menorehkan kemenangan krusial 3-1 atas raksasa Jawa Timur, Persebaya Surabaya. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin biasa; ia menandai debut manis bagi pelatih anyar Persijap, Mario Lemos, yang baru saja menggantikan posisi Divaldo Alves. Keputusan manajemen untuk membawa kembali Lemos, yang dikenal dengan filosofi taktiknya yang cerdas, terbukti menjadi langkah strategis yang berbuah manis. Lemos, dengan sentuhan magisnya, berhasil meredam permainan agresif Persebaya di bawah asuhan pelatih Bernardo Tavares, membuat tim berjuluk The Green Force itu “babak belur” dan “mati kutu” sepanjang pertandingan.
Pesta gol Persijap dibuka oleh penyerang asing mereka, Iker Guarrotxena, yang berhasil mencetak gol pada menit ke-32. Pemain asal Spanyol ini menunjukkan ketajamannya dengan sebuah penyelesaian klinis yang memecah kebuntuan. Dominasi Laskar Kalinyamat semakin terlihat ketika Alexis Gomez menggandakan keunggulan pada menit ke-71, memberikan Persijap kontrol penuh atas jalannya pertandingan. Puncak penampilan Guarrotxena datang di menit ke-90+12, di masa tambahan waktu yang panjang, di mana ia mencetak gol keduanya, sekaligus mengunci kemenangan telak 3-1 bagi Persijap. Persebaya hanya mampu membalas satu gol melalui tendangan penalti Bruno Moreira pada menit ke-90+2, sebuah gol hiburan yang tidak banyak mengubah hasil akhir. Ironisnya, penderitaan Persebaya semakin lengkap setelah gelandang bertahan andalan mereka, Rachmat Irianto, diganjar kartu merah pada menit ke-86, meninggalkan timnya dengan sepuluh pemain dan memperparah situasi mereka di sisa laga.
Kemenangan heroik ini membawa angin segar bagi Persijap yang tengah berjuang keras di zona degradasi. Dengan tambahan tiga poin, Persijap kini mengoleksi 18 poin, menempatkan mereka di peringkat ke-16. Poin yang sama juga dimiliki oleh PSBS Biak, yang berada satu strip di atas zona merah. Hasil ini membuka peluang besar bagi Persijap untuk segera meninggalkan jurang degradasi, menjauh dari Semen Padang dan Persis Solo yang berada di bawah mereka. Sepanjang musim ini, Persijap telah mencatatkan lima kemenangan, tiga hasil seri, dan 14 kekalahan, sebuah rekor yang mulai membaik setelah debut impresif Lemos. Kemenangan ini juga mengingatkan pada potensi Persijap sebagai tim “pembunuh raksasa”, mengingat catatan mereka pernah mengalahkan tim juara bertahan seperti Persib Bandung dengan skor 2-1 di awal musim, menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk mengejutkan tim-tim besar.

















