Sebuah awan kelabu menyelimuti institusi kepolisian di Sulawesi Selatan setelah kabar duka menyelimuti seorang bintara muda. Pada Minggu, 22 Februari 2026, Bripda DP, seorang anggota Polri yang baru setahun mengabdi di Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Sulsel, dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kematiannya yang mendadak ini segera memicu gelombang pertanyaan dan kecurigaan, terutama setelah beredar dugaan kuat bahwa Bripda DP menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya di Asrama Polisi (Aspol), kompleks Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Insiden tragis ini, yang kini tengah dalam proses penyelidikan mendalam, tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga dan rekan-rekan, tetapi juga menyoroti isu sensitif terkait kekerasan dalam lingkungan militer dan kepolisian, memicu tuntutan publik akan transparansi dan keadilan.
Tragedi di Asrama Polisi: Kematian Bripda DP dan Dugaan Penganiayaan
Kabar mengenai kematian Bripda DP mulai tersiar pada Minggu petang, menciptakan kegaduhan di kalangan internal kepolisian maupun masyarakat luas. Menurut keterangan resmi yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, Bripda DP dilaporkan mengalami sakit setelah menunaikan shalat subuh. “Iya ada anggota Bripda DP selesai shalat subuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Daya Makassar,” ujar Kombes Pol Didik Supranoto saat dikonfirmasi awak media. Setelah mendapatkan penanganan medis di RSUD Daya Makassar, kondisi Bripda DP terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Namun, narasi resmi ini segera dihadapkan pada informasi lain yang beredar luas, yakni dugaan kuat adanya penganiayaan yang melibatkan senior-seniornya di asrama polisi. Informasi awal dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Bripda DP tewas mengenaskan diduga akibat kekerasan fisik, sebuah klaim yang jika terbukti benar, akan menjadi noda hitam bagi institusi penegak hukum.
Pihak kepolisian, melalui Kombes Pol Didik Supranoto, menegaskan bahwa mereka belum bisa memastikan penyebab pasti kematian Bripda DP, apakah karena pengeroyokan atau faktor lain. “Kita belum bisa pastikan, korban pengeroyokan atau bukan, yang pasti kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang termasuk rekan atau…” ujarnya, mengindikasikan bahwa penyelidikan serius telah dimulai. Jenazah Bripda DP segera dipindahkan dari RSUD Daya Makassar ke RS Bhayangkara Makassar, sebuah langkah standar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk autopsi forensik. Proses ini krusial untuk mengungkap penyebab kematian yang sebenarnya, apakah ada tanda-tanda kekerasan yang konsisten dengan dugaan penganiayaan, ataukah ada faktor medis lain yang mendasari. “Sementara permasalahan masih dilakukan proses pemeriksaan atau pendalaman lebih lanjut, perkembangan akan kami sampaikan,” tutup Didik, menjanjikan transparansi dalam penanganan kasus ini.
Profil Korban dan Jeritan Hati Sang Ayah
Bripda Dirja Pratama, yang akrab disapa Bripda DP, adalah sosok bintara muda yang baru meniti karier di kepolisian. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa ia baru sekitar setahun berdinas di Polda Sulsel setelah dinyatakan lulus Bintara Polri pada tahun 2025. Dengan usia yang baru menginjak 19 tahun, pemuda asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, ini memiliki masa depan yang cerah di hadapannya. Namun, harapan dan cita-citanya kini harus pupus secara tragis. Kepergian Bripda DP bukan hanya meninggalkan duka bagi rekan-rekannya, tetapi juga pukulan telak bagi keluarganya, terutama sang ayah, Aipda Muhammad Jabir, yang juga merupakan seorang anggota polisi.
Aipda Muhammad Jabir, yang turut hadir di RS Bhayangkara Makassar, tidak dapat menyembunyikan kesedihan dan kebingungannya atas kematian putranya. Sebagai seorang polisi, ia tentu memahami prosedur dan aturan, namun sebagai seorang ayah, ia mempertanyakan penyebab kematian anaknya yang begitu mendadak dan penuh misteri. “Ayah korban yang juga seorang polisi mempertanyakan kematian sang…” demikian salah satu kutipan dari referensi yang menggambarkan kegelisahan Aipda Muhammad Jabir. Ia menceritakan kondisi anaknya saat di rumah sakit, sebuah detail yang sangat penting untuk melengkapi gambaran kronologis kejadian. Informasi yang diterima pihak keluarga dan juga beredar luas menyebutkan bahwa sebelum dilarikan ke rumah sakit, Bripda DP mengalami gejala yang sangat mengkhawatirkan: keluar darah dari mulutnya. Gejala ini menjadi indikasi kuat adanya trauma internal atau cedera serius, yang semakin memperkuat dugaan penganiayaan. Kehadiran Aipda Muhammad Jabir di rumah sakit bukan hanya sebagai keluarga korban, tetapi juga sebagai seorang penegak hukum yang menuntut kejelasan dan keadilan atas apa yang menimpa putranya.
Proses Investigasi dan Harapan Keadilan
Dengan dugaan penganiayaan yang semakin menguat, fokus penyelidikan kini tertuju pada pengumpulan bukti dan keterangan saksi. Jenazah Bripda DP di RS Bhayangkara Makassar akan menjalani proses autopsi yang komprehensif. Autopsi forensik adalah kunci untuk menentukan penyebab kematian secara medis, mengidentifikasi ada tidaknya luka-luka akibat kekerasan, serta memperkirakan waktu dan mekanisme cedera. Hasil autopsi ini akan menjadi dasar ilmiah yang tak terbantahkan dalam proses hukum selanjutnya. Selain itu, pihak kepolisian telah memulai pemeriksaan terhadap enam orang, termasuk rekan-rekan Bripda DP yang berada di asrama pada saat kejadian. Pemeriksaan ini mencakup pengambilan keterangan dari saksi mata, baik yang melihat langsung kejadian maupun yang mengetahui dinamika hubungan antara Bripda DP dan seniornya di asrama.

















