Sebuah temuan ilmiah yang mengejutkan mengungkap infiltrasi mikroplastik ke dalam aliran darah, air susu ibu (ASI), air seni, hingga cairan ketuban pada perempuan di Indonesia, menandai fase baru krisis lingkungan yang mengancam kesehatan masyarakat. Riset mendalam yang dilakukan oleh Ecoton, sebuah lembaga riset lingkungan, bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menemukan tingkat kontaminasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran serius tentang dampak jangka panjang terhadap kesehatan generasi mendatang. Temuan ini, yang bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2026, menyoroti urgensi penanganan sampah plastik yang belum terkelola dengan baik dan kebiasaan konsumsi serta pembuangan yang merusak, yang secara kolektif menempatkan Indonesia sebagai salah satu kontributor sampah plastik terbesar di dunia.
Sofian Azilan Aini, seorang peneliti di Ecoton, menyatakan keprihatinan mendalam atas temuan ini, menggambarkan situasi tersebut sebagai “kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik.” Ia menekankan bahwa plastik sekali pakai dan pembuangan sampah yang tidak memadai pada akhirnya kembali ke dalam tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Fakta bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan global, setelah India dan Nigeria, semakin memperparah masalah ini. Ditambah lagi dengan kebiasaan membakar sampah dan membuang limbah ke sungai, masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi mikroplastik dalam jumlah yang signifikan, yaitu sekitar 15 gram per bulan. Sofian menegaskan bahwa keberadaan plastik dalam tubuh manusia, bahkan hingga ke dalam rahim, adalah kondisi yang tidak seharusnya terjadi dan memerlukan langkah pencegahan segera, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghindari paparan langsung terhadap lingkungan yang terkontaminasi mikroplastik.
Infiltrasi Mikroplastik dalam Aliran Darah dan Organ Vital
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari riset Ecoton dan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya adalah deteksi mikroplastik dalam darah perempuan di Gresik, Jawa Timur. Studi yang melibatkan 100% partisipan ini menunjukkan adanya partikel mikroplastik dalam darah mereka, dengan jumlah berkisar antara 2 hingga 18 partikel per mililiter. Seluruh partikel yang terdeteksi memiliki ukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer, dan jenis yang paling umum ditemukan adalah Fiber (serat) dan Fragmen. Analisis polimer lebih lanjut pada lima sampel darah mengungkapkan keberadaan polyethylene (PE) pada empat sampel dan poly(n-butyl methacrylate) (PBMA) pada satu sampel. Polietilen (PE) merupakan jenis plastik yang sangat umum digunakan dalam berbagai produk kemasan, mulai dari botol minuman hingga kantong plastik. Sementara itu, poly(n-butyl methacrylate) (PBMA) sering ditemukan dalam aplikasi seperti pelapis, perekat, dan bahkan dalam beberapa produk biomedis. Keberadaan mikroplastik dalam aliran darah ini dipandang sebagai ancaman kesehatan masa depan yang paling mengkhawatirkan, karena berpotensi menyebabkan partikel-partikel ini menetap di organ-organ vital dan memicu kerusakan sel jangka panjang. Mengingat plastik tidak dirancang untuk berada di dalam tubuh manusia, infiltrasi ini membuka pintu bagi berbagai risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.
Mikroplastik dalam Air Ketuban: Ancaman bagi Janin
Temuan lain yang tak kalah mengkhawatirkan datang dari analisis 42 sampel air ketuban ibu melahirkan di Gresik. Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, melaporkan bahwa seluruh sampel air ketuban tersebut juga positif mengandung mikroplastik. Jenis polimer yang mendominasi dalam air ketuban adalah Polyethylene (PE), yang berasal dari sumber-sumber umum seperti botol air minum dalam kemasan, wadah makanan plastik bening, tas kresek, dan gelas plastik. Temuan ini mengindikasikan bahwa mikroplastik telah berhasil menembus hingga ke rahim, yang seharusnya menjadi lingkungan paling aman bagi perkembangan janin. Kerja sama riset ini, yang melibatkan Fakultas Kedokteran Unair dan Woonjin Institut, meyakini bahwa keberadaan mikroplastik dalam air ketuban dapat berdampak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Penelitian ini menemukan adanya korelasi antara keberadaan mikroplastik dengan peningkatan kadar Malondialdehide (MDA), yang merupakan penanda peradangan (inflamasi). Peningkatan peradangan kronis ini dikhawatirkan dapat menghambat dan mengganggu proses pertumbuhan serta perkembangan janin secara normal, menimbulkan pertanyaan serius tentang kesehatan generasi yang akan datang.
Dampak Mikroplastik pada Fungsi Kognitif dan Kesehatan Jangka Panjang
Lebih jauh lagi, kekhawatiran tentang dampak mikroplastik meluas hingga ke otak manusia. Sebuah penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Maret 2025 telah berhasil mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam jaringan otak manusia. Keberadaan partikel asing ini diduga kuat berpotensi mengganggu fungsi saraf dan secara bertahap menurunkan kemampuan kognitif. Hal ini disebabkan oleh paparan partikel mikroplastik itu sendiri serta zat kimia toksik yang seringkali terikat padanya. Penelitian ini merujuk pada studi yang lebih luas di Amerika Serikat pada tahun 2024, yang mengungkapkan penumpukan mikroplastik (ukuran di bawah 5 mm) dan nanoplastik (1 hingga 1000 nanometer) di otak manusia dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi—sekitar 7 hingga 30 kali lipat—dibandingkan dengan organ hati dan ginjal. Studi di Amerika Serikat tersebut juga mencatat peningkatan konsentrasi plastik di sampel otak sebesar 50% dibandingkan dengan sampel dari tahun 2016, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Matthew Campen, seorang profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico, menggambarkan fenomena ini sebagai cerminan dari akumulasi lingkungan yang semakin ekstrem. Ia menyoroti bahwa produksi plastik global telah melampaui 300 juta ton per tahun, dengan sekitar 2,5 juta ton di antaranya berakhir mengapung di lautan, yang kemudian terfragmentasi menjadi mikroplastik dan nanoplastik yang meresap ke dalam ekosistem dan tubuh makhluk hidup.
Sofian Azilan Aini dari Ecoton juga memberikan saran pencegahan yang relevan bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Ia menekankan pentingnya menghindari produk kosmetik yang mengandung *scrub* plastik, karena partikel-partikel mikroplastik ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga jalur utama: pernapasan, konsumsi melalui mulut, dan penyerapan melalui kulit. Selain itu, ia menyarankan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai secara drastis dan menghindari kontak langsung dengan udara yang telah terbukti terkontaminasi mikroplastik. Kebiasaan konsumsi yang lebih sadar lingkungan, seperti memilih produk dengan kemasan minimal atau dapat didaur ulang, serta mendukung kebijakan pengelolaan sampah yang lebih baik, menjadi kunci untuk memutus siklus pencemaran mikroplastik. Pemerintah dan industri juga dituntut untuk mengambil langkah tegas dalam mengurangi produksi plastik sekali pakai, meningkatkan sistem daur ulang, dan mencari alternatif material yang lebih ramah lingkungan. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional menjadi momentum penting untuk merefleksikan dampak nyata dari pengelolaan sampah yang buruk dan mendorong perubahan perilaku kolektif demi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

















