Dalam sebuah pernyataan yang menandakan komitmen serius terhadap infrastruktur strategis nasional, Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih, Prabowo Subianto, menguraikan kembali rencana ambisius untuk pembangunan Great Sunda Wall (GSW). Proyek monumental ini, yang dirancang untuk membentang sepanjang sekitar 500 kilometer dari pesisir Banten di ujung barat Pulau Jawa hingga Gresik di Jawa Timur, bukan sekadar gagasan baru melainkan kelanjutan dari visi pembangunan jangka panjang yang telah lama ada dalam agenda nasional. Prabowo menegaskan bahwa keberlanjutan proyek ini adalah prioritas utama, mengingat potensinya yang transformatif bagi ketahanan pesisir, mitigasi bencana, dan pengembangan ekonomi maritim Indonesia.
Visi Ambisius: Membangun Tembok Laut Raksasa untuk Masa Depan
Konsep Great Sunda Wall mencerminkan skala proyek yang luar biasa, dengan bentangan 500 kilometer yang akan menghubungkan dua titik geografis dan ekonomi yang krusial di Pulau Jawa. Banten, sebagai gerbang barat Jawa yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda, merupakan titik strategis untuk logistik dan industri. Sementara itu, Gresik di Jawa Timur adalah salah satu pusat industri dan pelabuhan utama yang menopang perekonomian kawasan timur Jawa. Pembangunan tembok laut sepanjang ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi sebuah kompleks infrastruktur terintegrasi yang berpotensi mencakup tanggul raksasa, polder, sistem drainase canggih, dan bahkan reklamasi lahan untuk pengembangan kota pesisir baru atau kawasan industri maritim. Tujuannya multifaset: pertama, sebagai benteng pertahanan terhadap ancaman banjir rob dan kenaikan permukaan air laut yang diakibatkan oleh perubahan iklim; kedua, untuk menciptakan lahan baru yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan permukiman, industri, atau pertanian; dan ketiga, untuk memperkuat infrastruktur maritim nasional, termasuk pelabuhan dan jalur pelayaran. Pernyataan Prabowo yang menyebutkan proyek ini “sudah lama masuk dalam rencana” mengindikasikan bahwa GSW bukanlah respons instan, melainkan hasil dari kajian panjang dan kebutuhan mendesak akan solusi jangka panjang untuk masalah pesisir yang dihadapi Indonesia, khususnya di wilayah padat penduduk seperti Jawa.
Implikasi Finansial dan Strategi Pendanaan Global
Skala proyek GSW juga tercermin dari estimasi biaya yang sangat besar, mencapai angka USD 80 miliar. Angka ini menempatkan GSW sebagai salah satu proyek infrastruktur terbesar yang pernah direncanakan di Indonesia, setara dengan atau bahkan melampaui beberapa mega-proyek global lainnya. Untuk memberikan perspektif, USD 80 miliar adalah jumlah yang signifikan, yang bisa setara dengan anggaran pembangunan beberapa ibu kota baru atau puluhan proyek kereta cepat. Besarnya investasi ini secara langsung menggarisbawahi kompleksitas teknis, kebutuhan material, dan durasi pengerjaan yang panjang. Pendanaan sebesar ini jelas tidak dapat hanya mengandalkan anggaran negara. Oleh karena itu, keterbukaan Prabowo terhadap opsi investasi dari beberapa negara asing menjadi strategi yang sangat realistis dan krusial. Pendekatan ini membuka pintu bagi kolaborasi internasional yang tidak hanya membawa modal segar, tetapi juga transfer teknologi, keahlian rekayasa, dan manajemen proyek kelas dunia. Negara-negara seperti Tiongkok dengan inisiatif Jalur Sutra Maritimnya (Belt and Road Initiative), Jepang dengan rekam jejaknya dalam pembangunan infrastruktur maritim, Korea Selatan, atau bahkan negara-negara Eropa yang memiliki pengalaman mitigasi bencana pesisir, dapat menjadi mitra potensial. Keterlibatan investor asing juga dapat memicu kompetisi yang sehat, memastikan proyek dilaksanakan dengan efisiensi dan standar kualitas terbaik, sambil tetap menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia.
Peran Krusial Pemerintah Provinsi Jakarta dalam Fase Awal
Salah satu detail spesifik yang menarik perhatian adalah penugasan kepada Pemerintah Provinsi Jakarta untuk memulai pembangunan 19 kilometer dari total bentangan GSW. Penugasan ini sangat strategis mengingat posisi Jakarta sebagai ibu kota negara yang paling rentan terhadap ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) dan banjir rob. Sebagian besar wilayah pesisir Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut, menjadikannya garis depan dalam perjuangan melawan dampak perubahan iklim. Pembangunan 19 kilometer oleh Pemprov Jakarta kemungkinan besar akan fokus pada segmen-segmen kritis di sepanjang pantai utara Jakarta, yang mungkin akan terintegrasi dengan proyek tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall/National Capital Integrated Coastal Development – NCICD) yang sudah berjalan atau direncanakan. Tugas ini menuntut koordinasi yang erat antara pemerintah pusat (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Bappenas) dan pemerintah daerah. Pemprov Jakarta akan menghadapi tantangan unik, termasuk pembebasan lahan di area padat penduduk, relokasi komunitas pesisir, serta integrasi dengan infrastruktur kota yang sudah ada. Keberhasilan fase awal ini di Jakarta akan menjadi model percontohan dan bukti konsep bagi kelanjutan proyek GSW secara keseluruhan, sekaligus memberikan perlindungan mendesak bagi jutaan penduduk ibu kota.
Proyek Great Sunda Wall, dengan ambisi dan skalanya, merupakan representasi dari komitmen Indonesia untuk membangun ketahanan jangka panjang terhadap tantangan lingkungan dan ekonomi di abad ke-21. Dari Banten hingga Gresik, tembok laut raksasa ini tidak hanya akan melindungi pesisir dari ancaman alam, tetapi juga berpotensi menciptakan koridor ekonomi baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, dan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara maritim yang tangguh. Meskipun tantangan finansial, teknis, dan sosial akan sangat besar, visi yang jelas dan strategi pendanaan yang inklusif menjadi kunci untuk mewujudkan salah satu proyek infrastruktur paling transformatif dalam sejarah Indonesia ini.


















