Jakarta – Ambisi Bank Indonesia (BI) untuk memperluas jangkauan sistem pembayaran digital nasional, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), ke kancah global tampaknya semakin mendekati kenyataan. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengonfirmasi bahwa QRIS tidak hanya kian terintegrasi di pasar domestik, tetapi juga sedang dalam tahap finalisasi konektivitas dengan negara-negara strategis seperti Tiongkok dan Korea Selatan, serta membuka jalur baru menuju Arab Saudi dan India. Ekspansi ini, yang telah dimulai dengan kesuksesan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang, menandai lompatan signifikan dalam upaya Indonesia untuk memfasilitasi transaksi lintas batas yang lebih mulus dan efisien, sekaligus mendorong akselerasi ekonomi digital nasional.
Ekspansi Global QRIS: Menembus Batas Negara
Langkah strategis Bank Indonesia dalam memperluas jangkauan QRIS ke pasar internasional merupakan bukti nyata komitmennya untuk menjadikan sistem pembayaran digital Indonesia sebagai pemain global. Sebagaimana diumumkan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, pada acara Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia di kantor BI, Jakarta Pusat, Senin, 23 Februari 2026, QRIS telah berhasil menancapkan kukunya di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang menjadi bukti nyata keberhasilan adopsi QRIS di luar negeri, di mana masyarakat dan pelaku usaha dapat melakukan transaksi pembayaran dengan mudah menggunakan standar kode respons cepat yang sama.
Lebih lanjut, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa proses penyambungan QRIS dengan Tiongkok dan Korea Selatan berada di tahap akhir dan akan segera diaktifkan atau ‘live’. Kehadiran QRIS di dua negara dengan pasar ekonomi digital yang masif ini diprediksi akan membuka peluang transaksi yang sangat besar bagi para pelaku usaha Indonesia, baik UMKM maupun perusahaan besar. Tidak hanya itu, BI juga secara proaktif tengah melakukan penjajakan dan proses penyambungan konektivitas QRIS dengan Arab Saudi dan India. Langkah ini sangat krusial mengingat besarnya jumlah warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan ibadah dan bisnis ke kedua negara tersebut, serta potensi pasar ekonomi digital yang terus berkembang pesat di sana.
Menurut data yang dihimpun, nilai transaksi pembayaran cepat di Indonesia sendiri telah mencapai angka fantastis sebesar Rp 1,8 kuadriliun. Angka ini menunjukkan betapa pesatnya adopsi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang efisien dan aman. Dengan perluasan QRIS ke negara-negara baru, diharapkan nilai transaksi global ini akan terus meningkat, memberikan dampak positif yang signifikan terhadap neraca perdagangan dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Transformasi Sistem Pembayaran Domestik: Menuju Kecepatan dan Efisiensi
Di samping fokus pada ekspansi global, Gubernur BI Perry Warjiyo juga memberikan sorotan terhadap kemajuan signifikan dalam sistem pembayaran domestik Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa sebelum adanya inovasi terkini, Indonesia masih mengandalkan sistem kliring yang memiliki keterbatasan dalam kecepatan penyelesaian transaksi, di mana prosesnya hanya dapat dilakukan beberapa kali dalam sehari. Hal ini tentu menjadi kendala dalam mendukung kebutuhan transaksi yang semakin dinamis di era digital.
Perry Warjiyo menjelaskan lebih lanjut mengenai fragmentasi yang terjadi pada Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sebelumnya. Sistem GPN terbagi dalam berbagai *switching* yang melayani kelompok pengguna atau lembaga keuangan masing-masing. Kondisi ini belum mampu menghadirkan sebuah sistem pembayaran yang terpadu dan cepat di seluruh penjuru negeri. Konsep ‘fast payment’ yang diusung oleh BI, termasuk melalui BI-FAST, bertujuan untuk mengatasi permasalahan ini. Sistem pembayaran cepat ini dirancang untuk memungkinkan transaksi berlangsung secara real-time, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dengan biaya yang sangat terjangkau. Kecepatan dan efisiensi ini menjadi kunci utama dalam mendukung geliat ekonomi digital yang membutuhkan respons instan.
Untuk memastikan standarisasi dan interoperabilitas antar berbagai sistem pembayaran, BI juga mengimplementasikan Standard National Open API (SNAP). SNAP berperan penting dalam menyatukan berbagai sistem antarbank di Indonesia ke dalam satu standar nasional yang seragam. Hal ini memudahkan integrasi bagi bank-bank dan penyedia layanan pembayaran lainnya, serta memastikan bahwa setiap transaksi dapat berjalan lancar dan aman di seluruh ekosistem pembayaran nasional.
Ekosistem Digital yang Semakin Matang
Upaya Bank Indonesia dalam mendorong adopsi sistem pembayaran digital tidak lepas dari peran aktif para pelaku industri keuangan. Perry Warjiyo mengapresiasi bahwa saat ini, lebih dari 30 hingga 35 bank di Indonesia telah memiliki dan mengintegrasikan layanan digital mereka, baik melalui aplikasi *mobile banking* maupun *internet banking*, dengan berbagai platform pembayaran digital yang dikembangkan oleh BI. Integrasi ini mencakup QRIS, BI-FAST, SNAP, dan layanan digital lainnya.
Kolaborasi antara regulator dan industri ini menjadi pondasi kuat bagi pengembangan ekosistem digital Indonesia yang semakin matang. Dengan semakin banyaknya bank yang terintegrasi, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dan kemudahan dalam melakukan transaksi digital sehari-hari. Hal ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna, tetapi juga memperluas penetrasi pembayaran digital ke berbagai lapisan masyarakat dan sektor ekonomi. Keberadaan ekosistem yang solid ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus berinovasi dan bersaing di panggung ekonomi digital global.












