Ketegangan Perdagangan Global Memicu Kewaspadaan Pelaku Pasar
Pelaku pasar global saat ini tengah dilanda gelombang kewaspadaan yang meningkat tajam, dipicu oleh eskalasi ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Situasi ini semakin memanas seiring dengan janji Presiden AS, Donald Trump, untuk memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap sejumlah negara Eropa. Pemberlakuan tarif baru ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari 2026, sebuah tenggat waktu yang memberikan ruang bagi negosiasi namun juga meningkatkan ketidakpastian.
Langkah ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan pada rantai pasok global dan stabilitas ekonomi kawasan Atlantik. Uni Eropa, sebagai pihak yang berpotensi terkena dampak langsung, tidak tinggal diam. Benua Biru ini secara aktif mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan strategis. Rencana pengenaan tarif balasan terhadap Amerika Serikat senilai 93 miliar poundsterling, atau setara dengan sekitar US$108 miliar, kini menjadi sorotan utama. Rencana ini akan diimplementasikan secara resmi oleh Uni Eropa apabila AS benar-benar merealisasikan pengenaan pajak sebesar 10 persen terhadap negara-negara Eropa pada tanggal yang telah ditentukan, 1 Februari 2026.
Dinamika Pasar Asia: Ketidakpastian Politik Jepang dan Kebijakan Moneter Tiongkok
Sementara itu, dinamika pasar di kawasan Asia juga diwarnai oleh sentimen yang beragam. Salah satu sorotan utama datang dari Jepang, di mana ketidakpastian politik tengah membayangi. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, telah menyatakan niatnya untuk membubarkan parlemen dan segera menggelar pemilihan umum. Keputusan ini diambil dengan tujuan strategis untuk mengamankan dukungan pemilih yang lebih kuat, yang krusial bagi keberhasilan implementasi rencana pengeluaran pemerintah serta agenda kebijakan yang lebih luas yang telah dirancang.
Di sisi lain, Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China – PBoC) mengambil sikap yang lebih stabil dalam kebijakan moneternya. PBoC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, yaitu Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun, pada level 3,0 persen. Demikian pula, LPR tenor lima tahun juga tetap dipertahankan pada angka 3,5 persen. Keputusan ini sejatinya telah sesuai dengan ekspektasi pasar yang telah terbentuk sebelumnya.
Keputusan PBoC ini mencerminkan preferensi otoritas moneter Tiongkok untuk memberikan stimulus ekonomi secara lebih selektif. Langkah ini diambil di tengah indikasi perlambatan momentum ekonomi domestik yang masih terasa. Beban permintaan domestik masih tertekan oleh faktor-faktor seperti pengeluaran rumah tangga yang belum pulih sepenuhnya dan kondisi sektor properti yang masih menunjukkan tantangan.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Sektor Unggulan
Di pasar domestik Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang positif sepanjang sesi perdagangan. Sejak awal pembukaan, IHSG berhasil mempertahankan posisinya di teritori positif dan terus berlanjut hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Semangat positif ini tidak luntur pada sesi kedua, di mana IHSG tetap berada di zona hijau hingga akhir penutupan perdagangan saham, mengindikasikan sentimen investor yang cenderung optimis terhadap prospek pasar saham Indonesia.
Analisis lebih mendalam berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC menunjukkan bahwa delapan sektor berhasil mencatatkan penguatan. Sektor barang baku memimpin daftar teratas dengan kenaikan signifikan sebesar 2,49 persen. Diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang mencatat kenaikan sebesar 2,08 persen, serta sektor industri yang juga menunjukkan performa impresif dengan kenaikan 1,86 persen. Kinerja positif di sektor-sektor ini memberikan kontribusi substansial terhadap penguatan IHSG secara keseluruhan.
Sementara itu, tiga sektor tercatat mengalami pelemahan. Sektor transportasi & logistik menjadi yang paling tertekan, dengan penurunan paling dalam mencapai 0,42 persen. Sektor energi juga mengalami koreksi sebesar 0,32 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur yang mencatat penurunan tipis sebesar 0,05 persen. Pelemahan pada sektor-sektor ini, meskipun ada, tidak cukup untuk menahan laju penguatan IHSG.
Volume Perdagangan dan Aktivitas Emiten
Dalam hal aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi saham tercatat mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu sebanyak 3.942.175 kali transaksi. Jumlah saham yang diperdagangkan juga signifikan, mencapai 72,40 miliar lembar saham, dengan total nilai transaksi yang mencapai Rp29,78 triliun. Angka-angka ini mencerminkan tingkat partisipasi investor yang aktif dalam pasar saham.
Distribusi pergerakan saham menunjukkan keseimbangan yang cukup baik. Sebanyak 336 saham berhasil menguat, sementara 323 saham lainnya mengalami penurunan nilai. Terdapat pula 143 saham yang pergerakannya stagnan atau tidak mengalami perubahan nilai, menunjukkan adanya variasi pergerakan di antara emiten-emiten yang terdaftar di bursa.
Pergerakan Bursa Saham Regional Asia
Di bursa saham regional Asia, sentimen yang terlihat cenderung beragam dengan dominasi pelemahan. Indeks Nikkei Jepang mengalami pelemahan yang cukup signifikan, turun sebesar 554,57 poin atau 1,03 persen, berakhir di level 53.029,00. Indeks Shanghai, meskipun melemah, koreksinya relatif kecil, yaitu 0,35 poin atau hanya 0,01 persen, ditutup pada 4.113,65.
Indeks Hang Seng di Hong Kong juga terpantau melemah, turun 76,36 poin atau 0,29 persen, mencapai 26.487,51. Bursa saham Kuala Lumpur juga mengikuti tren pelemahan, dengan indeksnya terkoreksi 13,27 poin atau 0,77 persen, berada di angka 1.699,06. Sementara itu, indeks Strait Times Singapura juga mengalami penurunan tipis sebesar 6,88 poin atau 0,14 persen, ditutup pada 4.828,00. Pelemahan di bursa regional ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh sentimen global terkait ketegangan perdagangan dan ketidakpastian ekonomi makro.
Pilihan Editor: Investor Menanti Pemain Baru di Lantai Bursa


















