Sentimen positif global pasca-pembatalan tarif resiprokal oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat memicu optimisme di pasar modal Indonesia, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (24/2/2026). Keputusan krusial ini, yang membatalkan kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump, memberikan angin segar bagi investor yang sebelumnya dibayangi ketidakpastian tarif. Di sisi lain, ancaman penerapan tarif global baru oleh Trump tetap menjadi faktor kewaspadaan yang perlu dicermati. IHSG sendiri dilaporkan telah menutup perdagangan Senin (23/2/2026) dengan kenaikan signifikan sebesar 111,760 poin atau 1,35 persen, mengakhiri sesi di level 8.383, menandakan momentum positif yang berlanjut.
Analisis Teknis dan Proyeksi Penguatan IHSG
Para analis teknikal memberikan pandangan yang optimis terhadap pergerakan IHSG. Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, indikator teknikal seperti histogram MACD terpantau terus bergerak menguat di area positif, didukung oleh lonjakan volume pembelian yang mengindikasikan minat investor yang meningkat. Meskipun indikator Stochastic RSI mulai menunjukkan perlambatan dan memasuki zona overbought (jenuh beli), penutupan IHSG yang berada di atas level Moving Average 20 (MA20) menjadi sinyal kuat bahwa indeks berpeluang untuk melanjutkan penguatannya. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan menguji dan berpotensi menembus level 8.450 hingga 8.500 pada perdagangan Selasa (24/2).
Lebih lanjut, Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh respons positif investor terhadap pembatalan pemberlakuan tarif resiprokal oleh Mahkamah Agung AS. Keputusan ini secara signifikan meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi perang dagang yang lebih luas. Namun, pernyataan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan penerapan tarif global baru sebesar 15 persen tetap menjadi catatan penting. Investor, menurut Phintraco, memiliki harapan agar perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia yang baru saja ditandatangani pada pekan sebelumnya (19/2) dapat direvisi, mengingat tarif yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut dinilai lebih tinggi, yaitu mencapai 19 persen.
Rekomendasi Saham dan Prediksi Beragam dari Analis
Berdasarkan analisis teknikal dan sentimen pasar yang positif, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk diperdagangkan pada Selasa (24/2). Saham-saham yang masuk dalam radar rekomendasi mereka meliputi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), dan PT Timah Tbk (TINS). Rekomendasi ini didasarkan pada potensi pertumbuhan dan valuasi yang menarik dari emiten-emiten tersebut di tengah kondisi pasar yang kondusif.
Sementara itu, MNC Sekuritas menyajikan prediksi yang sedikit berbeda, menggarisbawahi potensi pergerakan IHSG yang bervariasi pada hari yang sama. MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguat dengan target di kisaran 8.440 hingga 8.503. Namun, mereka juga tidak menutup kemungkinan adanya potensi koreksi jangka pendek ke level 8.257 hingga 8.343. Skenario terbaik (best case scenario) menurut MNC Sekuritas adalah apabila IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 8.170. Jika level ini berhasil dipertahankan, maka IHSG dinilai masih memiliki peluang kuat untuk melanjutkan penguatannya dan membentuk bagian dari pola gelombang (c) dari gelombang [x], yang mengarah pada target harga yang lebih tinggi.
Saham Unggulan dari MNC Sekuritas dan Implikasi Global
Dalam analisisnya, MNC Sekuritas juga turut memberikan rekomendasi saham-saham yang patut dicermati oleh investor pada Selasa (24/2). Saham-saham yang direkomendasikan oleh MNC Sekuritas mencakup PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Pemilihan saham-saham ini kemungkinan besar didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal yang mempertimbangkan prospek industri serta kinerja masing-masing emiten.
Peristiwa pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS memiliki implikasi yang lebih luas dari sekadar pergerakan pasar saham. Keputusan ini dipandang sebagai kemenangan bagi prinsip perdagangan bebas dan dapat mendorong stabilitas ekonomi global dalam jangka pendek. Namun, dinamika kebijakan perdagangan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump selalu menjadi sorotan. Pernyataan Trump mengenai potensi penerapan tarif global baru menunjukkan bahwa ketidakpastian belum sepenuhnya hilang dan investor perlu tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan perdagangan internasional yang dapat memengaruhi pasar keuangan secara keseluruhan.

















