Dalam lanskap media sosial yang dinamis dan penuh gejolak, sebuah pernyataan tunggal mampu memicu badai kontroversi, mengubah sorotan publik menjadi gelombang kritik yang tak terhindarkan. Fenomena ini baru-baru ini dialami oleh Cut Rizki, seorang selebgram dan beauty influencer ternama asal Aceh, yang mendadak viral setelah secara blak-blakan mengungkapkan pandangannya bahwa ritual sahur, santap pagi sebelum fajar di bulan Ramadan, mengganggu waktu tidurnya. Pernyataan tersebut, yang terekam dalam sebuah video dan diunggah ke platform media sosial pribadinya, sontak memantik amarah netizen, menyebabkan akunnya dihujani hujatan, hingga akhirnya mendorong Cut Rizki dan sang suami untuk merilis permintaan maaf dan mengakui kekhilafan mereka atas kegaduhan yang ditimbulkan.
Insiden bermula ketika Cut Rizki, yang dikenal luas melalui akun Instagram @crvhons, membagikan sebuah video yang menampilkan dirinya bersama sang suami, Ali Khan. Dalam cuplikan tersebut, Cut Rizki secara terbuka mencurahkan isi hatinya mengenai rutinitas sahur selama bulan suci Ramadan. Dengan nada santai namun tegas, ia menyatakan bahwa sahur memiliki efek yang mengganggu kualitas tidurnya. “Jadi sahur itu menurut kita agak sedikit ganggu jam tidur kita, karena kita pengen tidur lebih lama,” ujar Cut Rizki dalam video tersebut. Pernyataan ini tidak berhenti di situ; ia melanjutkan dengan argumen bahwa sahur mungkin “enggak buat semua orang,” dan secara pribadi, ia lebih memilih untuk mengonsumsi makanan dalam porsi besar pada malam hari, lalu tidur lebih lama tanpa perlu terbangun untuk sahur. Pilihan pribadinya untuk melewatkan sahur demi waktu tidur yang lebih panjang inilah yang menjadi inti permasalahan dan memicu reaksi keras dari publik.
Tak disangka, ungkapan Cut Rizki tersebut langsung menyulut gelombang kritik yang masif di jagat maya. Video yang diunggahnya segera tersebar luas dan menjadi perbincangan hangat, memicu “gunjingan” dan “hujatan netizen” dari berbagai penjuru. Banyak warganet merasa tersinggung dan kecewa dengan pandangan Cut Rizki, menganggapnya tidak sensitif terhadap nilai-nilai spiritual dan tradisi yang dipegang teguh selama Ramadan. Akun media sosial pribadinya, baik Instagram maupun TikTok, sontak “ramai dihujat,” dengan kolom komentar yang dipenuhi ungkapan kemarahan, kekecewaan, dan bahkan penolakan untuk memaafkan. Nama Cut Rizki pun mendadak viral, menjadi perbincangan utama dan sorotan publik, yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar di benak banyak orang: siapa sebenarnya sosok Cut Rizki ini?
Profil Cut Rizki: Dari Acne Fighter hingga Beauty Influencer Kontroversial
Cut Rizki adalah seorang selebgram dan beauty influencer yang cukup dikenal di Indonesia. Ia lahir pada tahun 1995 dan berasal dari Aceh. Eksistensinya di media sosial dibangun melalui konten-konten seputar kecantikan, khususnya yang berkaitan dengan perawatan kulit. Akun Instagram-nya, @crvhons, telah berhasil mengumpulkan lebih dari 282 ribu pengikut, menjadikannya salah satu figur yang memiliki pengaruh signifikan di platform tersebut. Selain Instagram, Cut Rizki juga aktif di platform lain seperti TikTok dan Threads dengan nama akun yang sama, @crvhons, di mana ia juga memiliki ratusan ribu pengikut, menunjukkan jangkauan audiensnya yang luas.
Perjalanan karier Cut Rizki di dunia digital dimulai dengan kisah inspiratifnya sebagai seorang “acne fighter.” Ia dikenal karena secara terbuka membagikan perjuangannya dalam mengatasi masalah kulit berjerawat. Konten-kontennya yang berfokus pada rekomendasi produk dan tips perawatan kulit untuk kulit berjerawat berhasil menarik perhatian banyak pengikut yang memiliki masalah serupa. Periode antara tahun 2019 hingga 2021 menjadi masa puncak perkembangan kariernya, di mana ia aktif membagikan kisah bagaimana ia bangkit dari ketidakpercayaan diri akibat jerawat menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang untuk menerima dan merawat diri. Citra positif inilah yang kemudian berbenturan dengan kontroversi pernyataan sahurnya.
Gelombang Permintaan Maaf dan Pengakuan Khilaf
Tak lama berselang setelah video kontroversialnya diunggah dan memicu badai hujatan, Cut Rizki menyadari dampak serius dari pernyataannya. Dalam upaya meredakan kegaduhan dan menanggapi kritik pedas yang terus berdatangan, ia segera menghapus postingan video sahur tersebut. Kemudian, pada hari Senin, Cut Rizki mengunggah sebuah permintaan maaf resmi di akun Instagram-nya. Unggahan tersebut menampilkan latar belakang berwarna hitam, sebuah simbol keseriusan dan penyesalan, disertai dengan teks panjang yang menjelaskan posisi dirinya dan sang suami.
Dalam permintaan maafnya, Cut Rizki dan Ali Khan secara eksplisit mengakui “kekhilafan” mereka. Mereka menulis, “Berkaitan dengan postingan saya dan suami beberapa waktu lalu yang menimbulkan kegaduhan, dengan ini kami ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Kami sangat menyadari bahwa tindakan kami sepenuhnya kekhilafan dan tidak ada pembenaran atas pernyataan yang kami sampaikan, terutama terkait kalimat ‘sahur itu mengganggu’ dalam sebuah video di media sosial.” Pernyataan ini menunjukkan pengakuan penuh atas kesalahan yang telah diperbuat. Lebih lanjut, mereka juga menyatakan pemahaman mereka terhadap reaksi publik: “Kami memahami bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman dan kekecewaan banyak pihak, dan kami ingin menjelaskan bahwa itu tidak mencerminkan nilai-nilai dan prinsip yang kami anut.” Melalui klarifikasi ini, Cut Rizki berusaha menegaskan bahwa pandangan yang terlontar dalam video tersebut bukanlah cerminan dari nilai-nilai pribadi mereka secara keseluruhan, melainkan sebuah kekhilafan sesaat.
Sebagai penutup dari unggahan permintaan maaf tersebut, Cut Rizki dan suami juga menyampaikan komitmen mereka untuk belajar dari insiden ini dan berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih bijak di masa mendatang. “Kami berdua berkomitmen untuk belajar dari kesalahan ini dan berusaha menjadi lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di masa depan,” pungkas mereka. Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para figur publik mengenai tanggung jawab besar yang melekat pada setiap perkataan dan tindakan di platform digital, serta bagaimana sebuah pernyataan, sekecil apa pun, dapat dengan cepat memicu reaksi berantai dan membentuk persepsi publik secara luas.

















