Proyek gas raksasa Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang telah lama dinantikan pembangunannya, kini menjadi sorotan utama pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara tegas menyatakan komitmennya untuk menuntaskan berbagai hambatan yang menyebabkan molornya proyek strategis ini. Dengan janji penyelesaian masalah perizinan yang berlapis dan kompleks, serta pembukaan jalur komunikasi intensif dengan investor, Purbaya berupaya keras memastikan proyek yang telah tertunda puluhan tahun ini segera bergerak maju ke tahap pembangunan fisik. Langkah ini diambil menyusul laporan dari INPEX Masela Ltd. mengenai lima tantangan utama yang dihadapi, termasuk isu perizinan dan penerimaan masyarakat, yang diperkirakan akan menelan belanja modal lebih dari 20 miliar dolar AS.
Pemerintah Merespons Keluhan Investor: Jalan Keluar untuk Proyek Masela
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggarisbawahi keprihatinannya atas stagnasi proyek Blok Masela yang dikelola oleh INPEX. Ia mengaku telah mendengar mengenai proyek ini sejak tujuh tahun lalu, namun hingga kini belum ada kemajuan berarti yang terlihat. Ketidakpuasan ini mendorong pemerintah untuk segera bertindak. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan proyek strategis nasional ini terus berlarut-larut tanpa kepastian. Fokus utamanya adalah mengidentifikasi akar permasalahan dan merumuskan solusi konkret agar proyek dapat segera diimplementasikan. Pernyataan ini disampaikan Purbaya dalam sebuah forum penting, yaitu sidang debottlenecking yang diselenggarakan di Kementerian Keuangan pada Selasa, 24 Februari.
Dalam sidang tersebut, Purbaya secara eksplisit menyatakan bahwa proyek ini sudah tertunda selama puluhan tahun. “Ini udah puluhan tahun kelihatannya nih, saya udah denger aja dari tujuh tahun yang lalu sampai sekarang belum jadi-jadi. Jadi kita pengin tahu apa masalahnya dan akan kita coba pecahkan secepatnya,” ungkapnya, menunjukkan urgensi dalam penanganannya.
Perizinan: Batu Sandungan Utama dan Langkah Percepatan Pemerintah
Salah satu penyebab krusial yang diidentifikasi Purbaya atas lambatnya progres pengembangan Blok Masela adalah kompleksitas dan panjangnya proses perizinan. Sistem perizinan yang berlapis-lapis dan memakan waktu menjadi hambatan signifikan bagi investor. Namun, Purbaya mencatat adanya percepatan yang cukup menggembirakan dalam dua bulan terakhir. Khususnya pada bulan Januari dan Februari, berbagai izin esensial, termasuk yang berkaitan dengan aspek lingkungan hidup, berhasil diterbitkan. Hal ini menunjukkan adanya respons positif dari instansi terkait, yang tampaknya terdorong oleh kesadaran akan pentingnya proyek ini dan agenda sidang debottlenecking yang akan segera dilaksanakan. “Itu semuanya dipercepat karena mereka tahu mau dibawa ke sini (sidang debottlenecking). Jadi mereka percepat semua,” papar Purbaya, mengindikasikan bahwa tekanan dari tingkat kementerian dapat memicu akselerasi birokrasi.
Menyadari bahwa perizinan merupakan titik krusial yang seringkali menjadi penyebab kegagalan proyek, Purbaya mengambil inisiatif untuk menciptakan mekanisme yang lebih efisien. Ia membuka pintu pelaporan rutin bagi INPEX dan mitra konsorsiumnya. Lebih dari itu, Purbaya berjanji akan memberikan perlakuan khusus kepada mereka sebagai investor prioritas. Skema ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap kendala yang dihadapi di lapangan dapat segera diangkat dan diselesaikan secara terpusat dalam forum debottlenecking. Bendahara negara ini juga menegaskan kesiapannya untuk memanggil kementerian atau lembaga terkait apabila ditemukan hambatan birokrasi yang secara sengaja atau tidak sengaja menghambat kemajuan proyek.
Tantangan Lingkungan dan Progres AMDAL
Mengenai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Purbaya menyampaikan bahwa proses utamanya kini telah hampir rampung. Namun, ia mengakui bahwa masih ada aspek lanjutan dari dokumen tersebut yang perlu didalami lebih lanjut. “Amdal udah selesai katanya sekarang. Tapi nanti yang lanjutannya. Saya nggak tahu tadi juga bingung, amdal lanjutan tuh seperti apa,” tuturnya, menunjukkan adanya kompleksitas dalam interpretasi dan implementasi dokumen lingkungan. Secara keseluruhan, ia memperkirakan bahwa perizinan lingkungan telah mencapai sekitar 90 persen penyelesaiannya. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan proaktif dari pemerintah, Purbaya optimistis bahwa investor akan segera dapat memasuki tahap pembangunan fisik dan mempercepat realisasi proyek yang telah lama dinantikan oleh masyarakat.
Sebagai catatan penting, proyek pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela oleh INPEX telah memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) sejak Agustus 2025. Target groundbreaking proyek ini ditetapkan sebelum perayaan Idul Fitri tahun 2026, dengan syarat utama persetujuan Amdal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Proyek ini memiliki nilai belanja modal (capex) yang diproyeksikan melampaui 20 miliar dolar AS, namun angka ini berpotensi terdorong lebih tinggi akibat inflasi global dan dinamika pasar internasional yang terus berubah.

















