Antisipasi publik memuncak seiring dengan pengumuman resmi mengenai adaptasi film panjang dari novel fenomenal Laut Bercerita karya penulis terkemuka Leila S. Chudori. Sebuah proyek ambisius yang digarap oleh PAL8 Pictures bersama VMS Studio, Jagartha Group, dan Lynx Films di bawah arahan sutradara visioner Yosep Anggi Noen, adaptasi ini berjanji untuk membawa kisah pilu aktivisme mahasiswa dan tragedi kemanusiaan era 90-an ke layar lebar. Diskusi mendalam mengenai proses alih wahana ini, yang baru-baru ini diselenggarakan di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, mengungkapkan tantangan dan kompromi kreatif yang harus dilalui oleh tim produksi dan sang penulis sendiri, demi menghadirkan sebuah karya sinematik yang memikat namun tetap setia pada “jiwa dan pilar” cerita aslinya, sekaligus memberikan konteks yang kaya bagi penonton yang belum mengenal novelnya.
Leila S. Chudori, yang dikenal tidak hanya sebagai novelis handal tetapi juga sebagai kritikus film berpengalaman, memiliki pemahaman mendalam tentang perbedaan fundamental antara medium sastra dan sinema. Kesadaran ini menjadi landasan utama dalam proses adaptasi Laut Bercerita. Ia menegaskan bahwa sejak awal proyek ini digagas, dirinya bersama sutradara Yosep Anggi Noen telah sepakat untuk “menyingkirkan” novel aslinya dalam proses penulisan skenario. Pendekatan ini bukan berarti mengabaikan esensi cerita, melainkan sebuah strategi untuk menghindari jebakan adaptasi harfiah yang seringkali berujung pada film yang terasa kaku dan kurang dinamis. Sebagaimana dijelaskan oleh Leila, mengikuti halaman demi halaman novel akan menghasilkan “film yang buruk.” Ini adalah bentuk kompromi kreatif yang menuntut keberanian untuk merelakan bagian-bagian cerita demi keutuhan kualitas film, sebuah seni mengikhlaskan adegan demi adegan agar narasi visual dapat mengalir dengan lancar dan memiliki dampak emosional yang kuat. Fokus utama adalah menangkap “jiwa dan pilar-pilar” cerita, yaitu inti emosi, pesan, dan karakter sentral yang membuat Laut Bercerita begitu resonan di hati pembacanya.
Karakter dan Konteks: Menjaga Esensi di Layar Lebar
Dalam proses adaptasi ini, Leila S. Chudori memastikan bahwa karakter-karakter utama dari novel tetap dipertahankan, meskipun tidak akan persis sama dalam setiap detailnya. Karakter-karakter ini, yang telah melekat kuat dalam benak pembaca, akan dihadirkan dengan interpretasi visual dan dialog yang sesuai dengan medium film. Perihal jalan cerita, secara umum akan mengikuti alur dan konteks yang ada dalam buku. Namun, tim produksi menyadari betul bahwa tidak semua penonton film telah membaca novelnya. Oleh karena itu, penyediaan konteks yang jelas dan mudah dicerna menjadi sangat krusial. Dalam novel, struktur narasi dapat mengandalkan deskripsi panjang, monolog internal, atau kilas balik yang kompleks. Namun, dalam format audio visual, informasi harus disampaikan secara lebih efisien melalui visual, dialog, dan aksi karakter. Penambahan konteks baru ini, seperti yang disebutkan Leila, bertujuan agar penonton yang belum membaca novel dapat sepenuhnya memahami latar belakang isu kehilangan, aktivisme mahasiswa, dan luka keluarga korban penculikan era 90-an yang menjadi inti cerita.
Sutradara Yosep Anggi Noen menambahkan perspektif penting dari sisi penyutradaraan, menekankan bahwa dalam film, visual harus “berbicara dan bercerita.” Hal ini berarti apa yang tertulis indah dalam prosa belum tentu cocok atau efektif ketika diucapkan oleh seorang pemeran di depan kamera. Proses penulisan dialog, menurut Anggi, seringkali melibatkan revisi berulang kali. “Begitu kami bacakan, ‘Eh nggak enak deh,’ gitu kan. Jadi harus kita revisi dan itu yang saya belajar banyak banget dari Mbak Leila bahwa apa yang tertulis selalu berbeda ketika diucapkan,” ujarnya. Ini menyoroti perbedaan mendasar antara bahasa tulis dan bahasa lisan, di mana intonasi, ekspresi, dan dinamika interaksi antar karakter sangat mempengaruhi penerimaan dialog. Kolaborasi erat antara penulis skenario dan sutradara menjadi kunci untuk menciptakan dialog yang tidak hanya informatif tetapi juga otentik dan memiliki daya pukul emosional.
Mengapa Laut Bercerita Begitu Layak Diadaptasi ke Film?
Ketertarikan untuk memfilmkan novel Laut Bercerita, yang telah mencapai cetakan ulang ke-16 dan menjadi mega best seller, dijelaskan oleh Produser Pal8 Pictures, Budi Setyarso, sebagai sebuah “momen yang pas.” Proyek ini juga menandai debut Pal8 Pictures, sebuah unit baru yang dibangun di bawah naungan Tempo. Budi Setyarso menjelaskan bahwa novel ini ditulis oleh Leila S. Chudori saat ia masih menjadi jurnalis di Tempo. Dengan demikian, adaptasi film ini juga menjadi bagian dari upaya Tempo untuk memperbanyak platform dalam menularkan nilai-nilai kebaikan, semangat membangun bangsa, dan melawan korupsi serta tindakan yang tidak seharusnya dilakukan. Laut Bercerita, dengan temanya yang kuat tentang keadilan, kemanusiaan, dan keberanian, sangat selaras dengan misi jurnalistik dan nilai-nilai yang diusung oleh Tempo.
Pilihan Editor: Laut Bercerita, Fiksi Sejarah yang Menggugah Generasi Muda
Produser Gita Fara juga mengakui bahwa membuat film panjang Laut Bercerita

















