Kabar mengejutkan menyelimuti raksasa Spanyol, Real Madrid, menjelang laga hidup mati di panggung Eropa setelah bintang utama mereka, Kylian Mbappe, dipastikan absen dalam pertandingan leg kedua babak playoff 16 besar Liga Champions melawan Benfica yang dijadwalkan berlangsung di Santiago Bernabeu pada Kamis (26/2/2026) dini hari WIB. Absennya kapten tim nasional Prancis ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Carlo Ancelotti, mengingat laga ini merupakan penentu langkah Los Blancos untuk melaju ke fase gugur yang lebih bergengsi. Keputusan manajemen klub untuk tidak memasukkan nama Mbappe ke dalam daftar skuad resmi dipicu oleh masalah kebugaran serius pada bagian lututnya yang kembali kambuh di saat-saat krusial. Situasi ini menciptakan atmosfer penuh tekanan di Madrid, di mana sang juara bertahan harus mempertahankan keunggulan agregat tipis mereka tanpa kehadiran mesin gol utama di lini depan.
Kondisi medis Kylian Mbappe menjadi sorotan utama tim medis Real Madrid setelah cedera lutut yang dialaminya menunjukkan tanda-tanda inflamasi yang persisten. Penyerang berusia 27 tahun tersebut sebenarnya telah berjuang melewati proses pemulihan yang panjang sejak akhir tahun lalu, yang sempat membuatnya menepi dari lapangan hijau selama periode sibuk di bulan Desember dan Januari. Meskipun sempat kembali merumput, kebugaran fisiknya belum mencapai level optimal, terbukti dengan absennya Mbappe dalam pertandingan domestik La Liga melawan Real Sociedad awal bulan ini sebagai langkah pencegahan. Namun, kambuhnya cedera lutut lama ini memaksa staf pelatih untuk mengambil langkah konservatif guna menghindari risiko kerusakan ligamen yang lebih parah, meskipun itu berarti harus kehilangan daya gedor utama mereka dalam laga krusial melawan wakil Portugal tersebut.
Kehilangan Mbappe bukan sekadar kehilangan satu pemain, melainkan kehilangan separuh kekuatan ofensif Real Madrid musim ini. Secara statistik, kontribusi mantan pemain Paris Saint-Germain ini sangat sulit untuk digantikan; ia tercatat sebagai pencetak gol terbanyak klub dengan torehan fantastis 38 gol di semua kompetisi. Ketajamannya terbagi secara impresif dengan 23 gol di kompetisi domestik La Liga dan 13 gol di Liga Champions, menjadikannya momok paling menakutkan bagi lini pertahanan lawan manapun di Eropa. Tanpa kehadiran Mbappe, Real Madrid kehilangan sosok pemecah kebuntuan yang memiliki kecepatan eksplosif dan penyelesaian akhir yang klinis, memaksa Ancelotti untuk merombak total skema penyerangan yang selama ini sangat bergantung pada pergerakan dinamis sang megabintang di area sepertiga akhir lapangan.
Krisis Lini Serang dan Opsi Terbatas di Santiago Bernabeu
Dengan absennya Mbappe, daftar penyerang yang tersedia bagi Real Madrid terlihat sangat ramping dan mengkhawatirkan untuk level kompetisi setinggi Liga Champions. Klub hanya mendaftarkan empat nama untuk mengisi slot lini depan, yaitu Vinicius Jr, Gonzalo Garcia, Brahim Diaz, dan talenta muda berbakat asal Argentina, Franco Mastantuono, yang baru menginjak usia 18 tahun. Keterbatasan opsi ini menempatkan beban berat di pundak Vinicius Jr untuk menjadi pemimpin tunggal di lini serang. Kehadiran Mastantuono yang masih sangat hijau di kompetisi Eropa menunjukkan betapa tipisnya kedalaman skuad Madrid saat ini akibat badai cedera, memaksa tim untuk mengandalkan pemain remaja dalam situasi tekanan tinggi di hadapan pendukung fanatik mereka sendiri.
Masalah lini depan Real Madrid semakin diperparah dengan absennya Rodrygo Goes yang harus menjalani hukuman larangan bertanding selama dua pertandingan. Sanksi disiplin ini dijatuhkan oleh UEFA setelah Rodrygo terbukti melakukan penghinaan terhadap wasit saat Real Madrid menelan kekalahan pahit 4-2 melawan Benfica di babak penyisihan grup sebelumnya. Kehilangan dua pilar utama di lini depan secara bersamaan—Mbappe karena cedera dan Rodrygo karena sanksi—menciptakan lubang besar yang sulit ditutupi. Kondisi ini menuntut kreativitas maksimal dari Brahim Diaz dan efektivitas dari pemain muda seperti Gonzalo Garcia jika Madrid ingin membongkar pertahanan rapat Benfica yang dikenal sangat disiplin dalam transisi bertahan.
Krisis personel Los Blancos tidak berhenti di lini serang, karena sektor tengah pun mengalami pincang yang signifikan. Gelandang andalan asal Inggris, Jude Bellingham, dipastikan masih harus menepi dari lapangan hijau akibat cedera hamstring yang belum pulih sepenuhnya. Kehilangan Bellingham berarti Madrid kehilangan motor serangan, kekuatan fisik di lini tengah, serta kemampuan penetrasi dari lini kedua yang seringkali menjadi solusi saat penyerang mengalami kebuntuan. Absennya Bellingham, Mbappe, dan Rodrygo secara simultan menciptakan situasi “krisis di Bernabeu” yang nyata, di mana Carlo Ancelotti harus meramu taktik bertahan yang solid sambil berharap pada serangan balik cepat untuk mengamankan tiket ke babak berikutnya.
Tensi Tinggi dan Kontroversi Rasisme yang Membayangi Laga
Pertandingan leg kedua ini diprediksi akan berlangsung dalam tensi yang sangat panas, menyusul berbagai kontroversi yang terjadi pada pertemuan pertama. Real Madrid saat ini memang unggul 1-0 secara agregat berkat gol tunggal yang dicetak oleh Vinicius Jr pada babak kedua di leg pertama, namun kemenangan tersebut dinodai oleh insiden rasisme yang memuakkan. Vinicius Jr secara terbuka menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, telah melontarkan hinaan rasis kepadanya di tengah pertandingan. Insiden ini memicu gelombang protes dari pihak Madrid dan menjadi perhatian serius bagi otoritas sepak bola Eropa, UEFA, yang berjanji akan menindak tegas segala bentuk diskriminasi di atas lapangan hijau.
Menanggapi insiden tersebut, UEFA awalnya memberikan sanksi larangan bertanding sementara kepada Gianluca Prestianni untuk satu pertandingan. Namun, status partisipasi pemain sayap asal Argentina itu dalam laga di Bernabeu menjadi polemik setelah Benfica secara resmi mengajukan banding terhadap sanksi tersebut. Langkah hukum ini memungkinkan Prestianni untuk tetap ikut bersama rombongan skuad Benfica ke Madrid, sebuah keputusan yang dipastikan akan memicu reaksi keras dari publik tuan rumah. Dengan latar belakang perselisihan pribadi antara Vinicius dan Prestianni, serta absennya sejumlah bintang utama Madrid, laga ini bukan sekadar pertarungan taktik sepak bola, melainkan juga ujian mental bagi kedua tim di tengah atmosfer yang penuh dengan dendam dan ambisi untuk membuktikan siapa yang terbaik di daratan Eropa.

















