Prediksi Koreksi IHSG: Analisis Mendalam Potensi Pullback dan Sentimen Pasar Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan memasuki fase koreksi minor atau yang dikenal sebagai pullback pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari. Analis memproyeksikan pergerakan IHSG akan berkisar pada level 9.050 hingga 9.200. Prediksi ini muncul setelah pada hari sebelumnya, Selasa, 20 Januari, IHSG berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,827 poin atau 0,01 persen, yang membawanya bertengger di posisi 9.134,700.
Menurut tinjauan mendalam dari Analis Phintraco Sekuritas, momentum penguatan yang telah terjadi pada IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan dari perspektif teknikal. Indikator-indikator kunci seperti Moving Average Convergence Divergence (MACD) memberikan sinyal adanya potensi distribusi, yang seringkali mendahului fase koreksi. Lebih lanjut, indikator Stochastic Relative Strength Index (RSI) juga terpantau berpotensi mengalami Death Cross di area overbought (jenuh beli). Kombinasi dari sinyal-sinyal teknikal ini mengindikasikan bahwa IHSG rentan mengalami pullback akibat aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor. Perkiraan rentang pergerakan IHSG pada fase koreksi ini berada di antara 9.050 hingga 9.200, sebagaimana diuraikan oleh Analis Phintraco Sekuritas dalam rilis tertulisnya pada Rabu, 21 Januari.
Faktor Global Penggerak Potensi Koreksi IHSG
Proyeksi terjadinya pullback pada IHSG ini tidak hanya didasarkan pada analisis teknikal semata, tetapi juga dipengaruhi oleh sejumlah perkembangan signifikan di kancah global. Salah satu pemicu utama adalah laporan mengenai negara-negara di kawasan Eropa yang tengah aktif membahas penerapan tarif balasan terhadap Amerika Serikat. Langkah-langkah ini merupakan respons yang lebih luas terhadap ancaman kenaikan tarif baru yang dilontarkan oleh AS. Eskalasi ketegangan perdagangan ini berpotensi menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.
Di sisi lain, pernyataan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif hingga 200 persen terhadap produk anggur dan sampanye asal Prancis, turut menambah daftar sentimen negatif. Ancaman ini muncul sebagai reaksi atas penolakan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza yang digagas oleh Trump. Tindakan ini dapat diartikan sebagai sinyal negatif bagi stabilitas hubungan internasional dan berpotensi memicu kekhawatiran di kalangan investor pasar modal.
Selain isu perdagangan dan geopolitik, investor global juga menaruh perhatian besar pada pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 Januari 2026 di Davos, Swiss. Kehadiran para pemimpin negara-negara besar dari Eropa dan Amerika Serikat dalam forum ini menjadi sorotan utama. Diskusi dan kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan ini dapat memberikan gambaran arah kebijakan ekonomi global ke depan, serta memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.
Sementara itu, kabar mengenai rencana Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang berencana membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan sela pada 8 Februari 2026, juga menjadi salah satu faktor yang patut diwaspadai. Keputusan ini berpotensi menciptakan ketidakpastian politik di Jepang dan berdampak pada pasar keuangan negara tersebut. Bukti awal dari sentimen negatif ini terlihat dari kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang dengan tenor 40 tahun yang menyentuh level 4 persen untuk pertama kalinya. Hal ini mengindikasikan adanya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Jepang dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, terdapat pandangan yang sedikit berbeda mengenai kondisi fiskal Jepang. Fitch, lembaga pemeringkat kredit internasional, memperkirakan bahwa utang pemerintah Jepang diperkirakan akan mengalami penurunan. Proyeksi Fitch menyebutkan bahwa utang tersebut akan turun ke kisaran 190 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun fiskal 2029. Angka ini lebih rendah dibandingkan estimasi 199,5 persen dari PDB pada tahun fiskal 2025, dan jauh di bawah level tertingginya yang mencapai 222 persen dari PDB pada tahun fiskal 2020. Proyeksi ini, meskipun memberikan sedikit optimisme, tetap tidak sepenuhnya meniadakan potensi volatilitas akibat ketidakpastian politik domestik.
Rekomendasi Saham dan Proyeksi Alternatif
Menyikapi dinamika pasar yang kompleks ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dinilai memiliki potensi menarik untuk diperdagangkan pada Rabu, 21 Januari. Saham-saham yang masuk dalam daftar rekomendasi mereka meliputi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADMR). Pemilihan saham-saham ini kemungkinan didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal spesifik dari masing-masing emiten, serta mempertimbangkan sektor industri yang dianggap resilien atau memiliki prospek pertumbuhan.
Di sisi lain, MNC Sekuritas menawarkan proyeksi yang sedikit berbeda namun tetap mengarah pada potensi pelemahan IHSG pada Rabu, 21 Januari. MNC Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang pelemahan di kisaran 9.088 hingga 9.106. Namun, MNC Sekuritas juga membuka peluang terjadinya penguatan di level yang lebih tinggi, yaitu pada rentang 9.192 hingga 9.229. Dalam analisisnya, MNC Sekuritas menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi koreksi lanjutan yang masih dianggap sebagai bagian dari fase pergerakan gelombang kelima (wave (v)) dari gelombang ketiga (wave [iii]) dalam teori gelombang Elliott. Area penguatan selanjutnya yang diprediksi berada di 9.192-9.229 menjadi target bagi para pelaku pasar yang mengantisipasi pembalikan arah.
MNC Sekuritas juga turut memberikan rekomendasi saham-saham yang patut dicermati pada hari yang sama. Saham-saham yang direkomendasikan oleh MNC Sekuritas pada Rabu, 21 Januari, meliputi PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP). Perbedaan dalam pilihan saham yang direkomendasikan oleh kedua analis ini mencerminkan perbedaan dalam metodologi analisis dan pandangan terhadap prospek masing-masing emiten di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.


















