Dalam sebuah momen diplomatik yang sarat makna, Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Raja Yordania Abdullah II ibn Al Hussein menegaskan kembali ikatan persahabatan yang mendalam antara kedua negara dalam pertemuan bilateral di Istana Basman, Amman, pada Rabu, 25 Februari 2026. Kunjungan kenegaraan ini bukan sekadar forum formal, melainkan sebuah penegasan atas hubungan personal yang telah terjalin puluhan tahun, di mana Yordania secara emosional disebut sebagai “rumah kedua” bagi pemimpin Indonesia. Pertemuan ini membuka kembali lembaran sejarah panjang kebersamaan, menyoroti asal-usul pertemanan kedua tokoh, serta membahas isu-isu strategis regional dan global, khususnya terkait konflik Palestina.
Jejak Sejarah dan Ikatan Personal: Dari Fort Benning hingga Istana Basman
Ungkapan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Yordania sebagai “rumah kedua” bukan sekadar basa-basi diplomatik. Pernyataan ini berakar pada sejarah panjang pertemanan yang telah terjalin antara dirinya dan Raja Abdullah II. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan militer yang sama, yaitu sebagai alumni sekolah ranger Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Benning. Momen pertemuan pertama mereka tercatat pada tanggal 4 Desember 1995, sebuah peristiwa penting yang menandai pelantikan Prabowo sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Lebih jauh lagi, Yordania memiliki peran signifikan dalam kehidupan pribadi Prabowo. Pasca-perubahan politik di Indonesia pada tahun 1998, ketika karier militernya mengalami gejolak, Prabowo memilih Yordania sebagai tempat pengasingan diri. Pengalaman ini terekam dalam sebuah cuitan Prabowo di akun X-nya pada 26 Februari 2014, di mana ia menjelaskan keputusannya untuk mencari perlindungan sementara di Yordania akibat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Keputusan tersebut tentu saja memperdalam ikatan emosionalnya dengan negara tersebut dan masyarakatnya.
Raja Abdullah II sendiri telah memegang tahta Yordania sejak tahun 1999, sementara Presiden Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai Presiden Indonesia pada 20 Oktober 2024. Perbedaan waktu menjabat ini tidak mengurangi kedalaman hubungan personal mereka, justru memperkaya narasi persahabatan yang melintasi batas negara dan waktu.
Diplomasi Kunjungan: Momentum Bilateral yang Berkelanjutan
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Yordania pada 25 Februari 2026 ini menandai lawatan kedua kalinya sejak ia menjabat sebagai Presiden. Kunjungan sebelumnya, yang berlangsung pada 13 April 2025, juga diwarnai dengan sambutan hangat dari Raja Abdullah II. Saat itu, Raja Abdullah II secara pribadi menyambut kedatangan Presiden Prabowo di Bandar Udara Militer Marka, Amman, dan bahkan mengantarnya langsung menuju hotel tempatnya menginap. Gestur ini menunjukkan tingkat kedekatan dan keakraban yang luar biasa di luar protokol kenegaraan.
Hubungan bilateral ini tidak hanya bersifat satu arah. Yordania, melalui Raja Abdullah II, telah menunjukkan komitmennya untuk mempererat kerja sama dengan Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan balasan Raja Abdullah II ke Indonesia pada 14-15 November 2025. Selama kunjungan tersebut, kedua pemimpin menyaksikan demonstrasi kemampuan drone yang merupakan hasil kolaborasi antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata Yordania. Pertunjukan ini digelar di Lapangan Tembak Djamsuri AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan menjadi simbol sinergi pertahanan kedua negara.
Dalam pertemuan bilateral kali ini, Raja Abdullah II kembali menegaskan posisi Yordania sebagai “rumah kedua” bagi Presiden Prabowo. “Selalu menyenangkan bertemu Anda, khususnya di rumah kedua Anda di Yordania,” ujar Raja Abdullah II, menekankan pengakuan atas hubungan persaudaraan yang istimewa antara rakyat kedua negara selama bertahun-tahun. Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan kedekatan personal, tetapi juga pengakuan atas fondasi hubungan diplomatik yang kuat antara Indonesia dan Yordania.
Peran Indonesia dalam Solusi Konflik Palestina: Apresiasi dari Yordania
Selain memperkuat ikatan bilateral, pertemuan antara Presiden Prabowo dan Raja Abdullah II juga menjadi forum strategis untuk membahas isu-isu regional yang mendesak, terutama konflik Israel-Palestina. Raja Abdullah II secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dalam mendorong solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan tersebut.
“Saya tahu betapa Anda berkomitmen pada solusi dua negara, betapa Anda menghargai masa depan rakyat Palestina,” ungkap Raja Abdullah II, menyoroti peran aktif dan konsisten Indonesia dalam diplomasi perdamaian. Komitmen Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan mewujudkan solusi dua negara memang telah menjadi prinsip kebijakan luar negeri yang tidak pernah berubah. Upaya Indonesia tidak hanya sebatas retorika, tetapi juga mencakup bantuan kemanusiaan dan advokasi di forum-forum internasional.
Raja Abdullah II juga menyatakan antusiasmenya untuk melanjutkan diskusi lebih lanjut mengenai permasalahan ini. Ia berharap dapat mengeksplorasi berbagai cara untuk memberikan bantuan konkret kepada warga Palestina di Gaza yang terdampak konflik. Yordania, sebagai negara tetangga yang memiliki sejarah panjang dalam isu Palestina, melihat Indonesia sebagai mitra strategis yang penting dalam upaya mencari jalan keluar yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh pihak yang terlibat. Dukungan Yordania terhadap peran strategis Indonesia, baik dalam ranah politik maupun ekonomi, semakin memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sebagai aktor perdamaian yang kredibel.

















