Pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi I, Kamis (26/2/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas ke level 8.255,18 setelah mengalami koreksi tajam sebesar 0,80 persen atau setara 67,04 poin. Penurunan tajam ini dipicu oleh reaksi negatif investor terhadap eskalasi ketegangan dagang global, menyusul kebijakan proteksionisme Amerika Serikat yang menetapkan tarif tinggi pada produk panel surya asal Indonesia, sehingga menciptakan ketidakpastian di tengah aktivitas perdagangan yang sangat likuid dengan nilai transaksi menembus Rp14,87 triliun. Meskipun indeks komposit berada di zona merah, volume perdagangan terpantau sangat masif mencapai 26,33 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,74 juta kali, mencerminkan adanya volatilitas tinggi dan pergeseran portofolio besar-besaran oleh para pelaku pasar baik domestik maupun asing.
Kondisi pasar yang memanas ini berakar dari sentimen luar negeri yang cukup ekstrem, di mana Amerika Serikat secara resmi “menabuh genderang perang” tarif terhadap produk ekspor unggulan Indonesia. Kebijakan tarif panel surya yang mencapai angka fantastis 104,38 persen menjadi katalis utama yang meluluhlantakkan kepercayaan investor, terutama pada sektor-sektor yang memiliki eksposur terhadap perdagangan internasional. Tekanan jual tidak hanya melanda saham-saham lapis kedua, tetapi juga menyeret emiten berkapitalisasi pasar besar (big caps) seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Meskipun beberapa saham seperti PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sempat berupaya menahan laju penurunan indeks, kekuatan jual di pasar jauh lebih dominan sehingga IHSG gagal mempertahankan level psikologisnya di awal perdagangan hari ini.
Menariknya, di tengah gempuran aksi jual di pasar ekuitas, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan performa yang berlawanan dengan arus pasar saham. Berdasarkan data Bloomberg pada siang hari ini, mata uang Garuda terpantau menguat 38 poin atau sekitar 0,23 persen, membawa posisinya ke level Rp 16.762 per Dolar AS. Anomali ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi aliran modal keluar dari pasar saham, fundamental makroekonomi Indonesia di sisi moneter masih dipandang cukup stabil oleh para pelaku pasar valuta asing. Penguatan Rupiah ini menjadi sedikit angin segar di tengah koreksi IHSG yang cukup dalam, mengindikasikan bahwa tekanan yang terjadi saat ini lebih bersifat sektoral dan reaktif terhadap kebijakan perdagangan spesifik, bukan merupakan krisis kepercayaan sistemik terhadap ekonomi nasional secara keseluruhan.
Analisis Pergerakan Saham: Top Gainers dan Top Losers Sesi I
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan harga yang signifikan, seringkali didorong oleh spekulasi atau aksi korporasi spesifik. PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) memimpin jajaran Top Gainers dengan kenaikan luar biasa sebesar 28,83 persen ke level 210. Diikuti oleh emiten media milik grup MNC, PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), yang melesat 28,21 persen menuju level 100. Sektor komoditas juga menyumbangkan perwakilan melalui PT Ifishdeco Tbk (IFSH) yang melonjak 25 persen ke angka 2.000. Selain itu, PT Calculus Global Ventures Tbk (STAR) dan PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) juga membukukan kenaikan masing-masing sebesar 22,05 persen dan 21,90 persen. Kenaikan tajam pada saham-saham ini menunjukkan bahwa masih ada kantong-kantong keuntungan bagi investor yang berani mengambil risiko di tengah pasar yang sedang terkoreksi.
Sebaliknya, daftar Top Losers diisi oleh emiten yang mengalami tekanan jual hebat. PT Indospring Tbk (INDS) memimpin kejatuhan dengan penurunan 14,95 persen ke level 1.280, disusul oleh PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang merosot 14,88 persen ke posisi 1.030. Sektor manufaktur dan logistik juga terdampak, terlihat dari melemahnya PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) sebesar 13,84 persen dan PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang anjlok 11,11 persen ke level 2.080. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) juga tidak luput dari aksi jual dengan koreksi 10,57 persen ke level 4.740. Penurunan pada saham-saham ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kinerja fundamental perusahaan di tengah potensi hambatan perdagangan global yang semakin nyata.
Dominasi Transaksi dan Likuiditas Pasar
Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan pada sesi pertama ini sangat terkonsentrasi pada beberapa emiten kunci. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) menjadi primadona pasar dengan mencatatkan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp1,13 triliun, sekaligus memimpin dari sisi volume dengan total 35,06 juta lembar saham yang berpindah tangan. Emiten batu bara raksasa, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), juga menunjukkan aktivitas yang sangat cair dengan nilai transaksi Rp670,28 miliar dan volume 24,85 juta lembar. Tingginya minat pada BUMI menunjukkan bahwa sektor energi masih menjadi fokus utama para trader meskipun indeks sedang tertekan. Selain itu, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatatkan nilai transaksi Rp602,62 miliar dengan volume 10,73 juta lembar.
Emiten kelas berat lainnya yang masuk dalam jajaran Top Value adalah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan transaksi senilai Rp419,66 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp401,04 miliar. Kehadiran BBCA dalam daftar nilai transaksi tertinggi namun dibarengi dengan pelemahan indeks menunjukkan adanya aksi distribusi atau pelepasan saham oleh investor institusi. Sementara itu, dari sisi volume, selain BIPI dan BUMI, saham PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) juga sangat aktif diperdagangkan dengan volume 15,10 juta lembar, diikuti oleh BULL dan PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) yang masing-masing mencatatkan volume perdagangan sebesar 10,73 juta dan 8,44 juta lembar saham.
Dinamika Bursa Regional Asia dan Proyeksi Pasar
Berbeda dengan IHSG yang terjerembap di zona merah, bursa saham di kawasan Asia lainnya cenderung bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada siang ini. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat naik 0,54 persen ke level 58.995,39, didorong oleh optimisme investor terhadap kinerja perusahaan teknologi di sana. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng juga menunjukkan performa impresif dengan kenaikan 0,95 persen ke posisi 27.019,74. Singapura pun mencatatkan pertumbuhan positif melalui Indeks Straits Times yang menguat 0,30 persen ke level 5.027,13. Satu-satunya pasar utama Asia yang menemani IHSG di zona merah adalah China, di mana Indeks SSE Composite terkoreksi tipis 0,08 persen ke level 4.144,08.
Divergensi antara IHSG dan bursa regional lainnya menegaskan bahwa tekanan yang dialami pasar modal Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor spesifik domestik dan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat. Investor global tampaknya sedang melakukan penilaian ulang terhadap risiko geopolitik dan hambatan tarif yang dapat mengganggu rantai pasok industri hijau di Indonesia. Untuk sesi kedua nanti, para analis memprediksi IHSG masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap rilis data ekonomi lanjutan dan pernyataan resmi dari pemerintah terkait langkah antisipasi terhadap kebijakan tarif AS, sembari memperhatikan level support kuat di kisaran 8.200 untuk mencegah kejatuhan lebih dalam.

















