Fenomena kulit kering yang semakin intens selama bulan puasa Ramadan menjadi sorotan utama, bahkan dialami oleh figur publik seperti Tasya Farasya, seorang influencer dan beauty enthusiast ternama. Ia mengungkapkan bahwa kondisi kulitnya yang cenderung kering telah menjadi tantangan tersendiri, dan diperparah lagi saat menjalankan ibadah puasa. Fenomena ini bukan hanya sekadar masalah estetika, tetapi juga indikasi pentingnya perhatian terhadap hidrasi tubuh dan perawatan kulit yang tepat di tengah perubahan pola makan dan minum. Pengalaman Tasya ini merangkum inti permasalahan: mengapa kulit menjadi kering saat puasa, bagaimana dampaknya terhadap penampilan, dan langkah-langkah konkret apa yang bisa diambil untuk mengatasinya, terutama dengan keterbatasan asupan cairan selama periode puasa.
Tasya Farasya, yang dikenal luas di kalangan pecinta kecantikan, berbagi pengalamannya mengenai kulit kering yang kerap menghantuinya, terutama selama bulan suci Ramadan. Ia bahkan mengaku bahwa masalah kulit kering ini sudah menjadi kondisi kronis baginya, bahkan di luar periode puasa. “Jadi di bulan puasa pastinya tambah kering lagi. Saking keringnya bisa kayak ‘melukis’ di betis,” ungkap Tasya dengan nada prihatin saat ditemui dalam acara peluncuran program Vaseline Gluta Hya Hydration Clinic di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, pada tanggal 20 Februari 2026. Deskripsi “melukis” yang ia gunakan merujuk pada munculnya garis-garis putih halus yang terlihat jelas di permukaan kulitnya, terutama di area betis, ketika tersentuh atau tergores ringan. Kondisi ini membuat kulit tampak kusam, kasar, dan kehilangan kehalusan serta elastisitasnya yang normal. Ia menambahkan bahwa perubahan tekstur kulit tubuhnya kini lebih cepat terlihat dampaknya seiring bertambahnya usia. Jika dulu ia bisa sedikit mengabaikan rutinitas perawatan tubuh tanpa konsekuensi signifikan, kini sekecil apapun perubahan pada kulitnya langsung terasa.
Kesadaran Tasya akan perubahan pada kulitnya ini memicu pergeseran fundamental dalam kebiasaan sehari-harinya. Perubahan paling mendasar yang ia lakukan adalah pada pola konsumsi cairannya. “Aku dulu lebih prioritasin kopi. Tapi sekarang aku maksain diri minum air putih 2 sampai 3 liter sehari. Apalagi sejak rajin olahraga dan lebih aware sama kesehatan kulit tubuh,” jelasnya. Keputusan ini diambil setelah menyadari betapa besar dampak kekurangan cairan terhadap kondisi kulitnya. Ketika asupan air berkurang, kulit menjadi lebih rentan kering dan kehilangan kelembapan alami yang krusial. Oleh karena itu, ia bertekad untuk lebih disiplin dalam menjaga hidrasi, terutama selama bulan puasa, ketika waktu untuk mengonsumsi cairan sangat terbatas. Perubahan gaya hidup ini mencerminkan upaya proaktif dalam menjaga kesehatan kulit, yang seringkali terabaikan di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab Kulit Kering Selama Puasa: Dehidrasi dan Dampaknya
Dokter kulit Amanda Lestari memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena kulit kering yang semakin terasa saat berpuasa. Menurutnya, berkurangnya asupan cairan secara signifikan selama periode puasa membuat kulit menjadi sangat rentan kehilangan kelembapan esensialnya. Ia menganalogikan kondisi ini seperti gurun pasir yang kekurangan air, di mana lama-kelamaan tanahnya akan menjadi tandus dan kering kerontang. “Kita bisa melihat kulit yang tampak tandus,” ujar Dr. Amanda, menekankan betapa seriusnya dampak dehidrasi terhadap penampilan kulit.
Secara klinis, ada beberapa tanda yang dapat diamati ketika kulit mengalami dehidrasi. Pertama, relief atau guratan pada permukaan kulit menjadi tampak lebih nyata dan dalam. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya volume sel-sel kulit akibat kekurangan cairan. Kedua, kulit dapat terlihat bersisik dan mengelupas, terutama di area yang lebih kering seperti siku, lutut, atau bahkan wajah. Pengelupasan ini merupakan respons alami kulit yang mencoba melepaskan sel-sel mati akibat kekeringan. Ketiga, barrier kulit, yaitu lapisan pelindung terluar kulit, menjadi melemah. Melemahnya barrier ini membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi, kemerahan, bahkan munculnya bruntusan atau jerawat kecil yang disebabkan oleh peradangan.
Untuk mendeteksi lebih lanjut apakah kulit mengalami dehidrasi, Dr. Amanda menyarankan sebuah uji sederhana yang dapat dilakukan di rumah. Uji ini melibatkan menggores pelan permukaan kulit menggunakan kuku atau ujung pensil yang tumpul. “Kalau sampai meninggalkan garis putih pada kulit, itu tanda bahwa kulit kurang terhidrasi,” jelasnya. Garis putih yang tertinggal ini merupakan indikasi langsung dari hilangnya elastisitas dan kelembapan kulit. Ia menambahkan bahwa area tangan dan kaki biasanya menunjukkan tanda-tanda ini lebih cepat karena lebih sering terpapar udara luar dan aktivitas fisik yang lebih intens, yang dapat mempercepat penguapan cairan dari permukaan kulit.
Strategi Efektif Mencegah dan Mengatasi Kulit Kering Saat Puasa
Menghadapi tantangan kulit kering selama puasa, Dr. Amanda Lestari menekankan dua pilar utama dalam pencegahan dan penanganannya: hidrasi yang memadai dari dalam tubuh dan perlindungan kulit yang optimal dari luar. Untuk aspek hidrasi dari dalam, konsumsi air putih yang cukup menjadi kunci utama. Ia merekomendasikan minimal 2 hingga 2,5 liter air per hari. Saat menjalankan ibadah puasa, asupan ini dapat disiasati dengan pembagian yang terstruktur: setidaknya dua gelas saat sahur, empat gelas didistribusikan dari waktu berbuka puasa hingga malam hari, dan dua gelas lagi sebelum tidur. Pendekatan ini memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik meskipun ada periode tanpa asupan cairan.
Sementara itu, untuk penanganan dari luar, penggunaan produk perawatan tubuh atau body care, khususnya pelembap kulit, menjadi sangat krusial. Pelembap berfungsi untuk mengunci dan menjaga kelembapan yang sudah ada di lapisan kulit agar tidak mudah menguap ke udara. “Kalau puasa, pelembap untuk kulit itu wajib. Kulit juga butuh perhatian,” tegas Dr. Amanda. Penggunaan pelembap secara rutin, idealnya dua kali sehari setelah mandi, dapat membantu menjaga elastisitas dan kelembutan kulit. Bagi individu dengan kondisi kulit yang sangat kering, frekuensi penggunaan pelembap bisa ditingkatkan. Bahkan, ia menyarankan agar pelembap dapat digunakan sebagai “sentuhan akhir” setiap kali selesai berwudu, yang berarti bisa mencapai lima kali sehari. Strategi ini memastikan kulit senantiasa terlindungi dari kekeringan yang disebabkan oleh paparan udara dan perubahan lingkungan.
Meskipun puasa menawarkan peluang berharga untuk regenerasi sel dan keseimbangan metabolik tubuh, tanpa strategi hidrasi dan perawatan kulit yang tepat, kesehatan kulit bisa menjadi “korban yang tak terlihat.” Adaptasi biologis tubuh selama puasa memerlukan kesadaran dan tindakan proaktif dalam perawatan, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang disarankan, manfaat optimal dari ibadah puasa dapat dirasakan tanpa harus mengorbankan kesehatan dan vitalitas kulit.

















