Bulan suci Ramadan 2026 kini bertransformasi menjadi momentum krusial bagi kaum pria di Indonesia untuk melakukan dekonstruksi diri dan memperkuat fondasi spiritualitas melalui gerakan “Bener Bareng” yang diinisiasi oleh Paragon Corp melalui brand perawatan pria, Kahf. CEO Paragon Corp, Harman Subakat, menegaskan bahwa di tengah hiruk-pikuk rutinitas modern yang serba instan, Ramadan harus dipandang sebagai sebuah “pit stop” atau titik henti sementara yang strategis untuk meluruskan niat, melakukan refleksi mendalam (muhasabah), serta menguatkan tekad dalam membangun generasi laki-laki yang sadar akan peran fundamentalnya di masyarakat. Inisiatif yang diluncurkan pada akhir Februari 2026 ini tidak sekadar menjadi kampanye musiman, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menciptakan ruang aman bagi pria dalam menanggalkan ego dan memulai kembali perjalanan spiritual mereka secara kolektif, guna mencapai pertumbuhan pribadi yang holistik baik dari sisi spiritual maupun perilaku sosial.
Harman Subakat menjelaskan lebih lanjut bahwa konsep “pit stop” ini sangat relevan dengan kondisi psikologis masyarakat urban saat ini yang sering kali terjebak dalam kelelahan mental dan pikiran yang runyam akibat tuntutan hidup. Dalam pandangannya, Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk berhenti sejenak dari riuhnya rutinitas agar setiap individu mampu melihat diri sendiri dengan lebih jernih. Melalui brand Kahf, gerakan “Bener Bareng” dirancang untuk mengajak pria Indonesia saling menguatkan dalam sebuah ekosistem yang suportif. Fokus utamanya adalah konsistensi; bagaimana perubahan positif yang dimulai selama bulan puasa dapat terus dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam karakter permanen setelah bulan suci berakhir. Harman menekankan bahwa kualitas kebaikan yang tampak di luar haruslah selaras dengan kejujuran dan kebenaran yang ada di dalam diri, sebuah keseimbangan yang menurutnya sulit dicapai jika dilakukan sendirian tanpa dukungan komunitas.
Filosofi Brotherhood dan Transformasi Maskulinitas di Era Modern
Keresahan mendasar yang menjadi latar belakang lahirnya gerakan ini diungkapkan oleh Brand Representative Kahf, Billy Dharmawan. Ia mengamati adanya fenomena di mana banyak pria sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah mereka, namun sering kali terhambat oleh rasa canggung, kurang percaya diri, atau stigma sosial yang membuat mereka enggan memulai perubahan secara terbuka. Oleh karena itu, “Bener Bareng” mengedepankan nilai brotherhood atau persaudaraan sebagai katalisator perubahan. Dengan bergerak bersama, beban untuk berubah terasa lebih ringan karena adanya rasa senasib sepenanggungan. Gerakan ini berupaya mengubah persepsi bahwa proses memperbaiki diri adalah perjalanan yang sunyi, melainkan sebuah aktivitas kolektif yang memberdayakan, di mana setiap pria bisa saling memberikan validasi positif tanpa harus merasa dihakimi.
Fenomena ini juga dinilai sangat selaras dengan tren sosiologis generasi muda saat ini, khususnya Gen Z dan Milenial, yang semakin gemar mengekspresikan diri melalui komunitas. Mulai dari komunitas olahraga, hobi otomotif, hingga forum diskusi kreatif, semangat kolektif telah menjadi bagian dari identitas mereka. Kahf mencoba membawa semangat komunal tersebut ke ranah yang lebih bermakna dan spiritual. Dengan memanfaatkan kecenderungan pria untuk bergerak dalam kelompok, Ramadan diposisikan sebagai “Madrasah Perubahan Diri”. Di era di mana teknologi sering kali membuat segalanya menjadi instan, gerakan ini mengingatkan bahwa perubahan karakter dan kedalaman spiritual tetap membutuhkan proses, ketekunan, dan bimbingan yang tepat, yang semuanya dapat ditemukan dalam interaksi antaranggota komunitas yang memiliki visi serupa.
Inovasi Spiritual: Iqro Redesign dan Literasi Al-Qur’an
Salah satu pilar utama dalam gerakan “Bener Bareng” adalah penguatan literasi Al-Qur’an melalui kolaborasi strategis dengan Yayasan AMM, lembaga yang dikenal sebagai penyusun dan penerbit metode belajar Iqro yang legendaris di Indonesia. Kolaborasi ini menghadirkan proyek “Iqro Redesign”, sebuah inisiatif untuk mengemas ulang metode pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan visual dan penyampaian yang lebih relevan bagi pria modern tanpa menghilangkan esensi metodologinya. Semangat yang diusung adalah “kembali belajar dari nol”, sebuah ajakan bagi para pria untuk tidak malu mengakui kekurangan dalam bacaan Al-Qur’an mereka dan bersedia memulai kembali proses belajar dengan rendah hati. Inisiatif ini bertujuan untuk meruntuhkan hambatan psikologis bagi pria dewasa yang mungkin merasa terlambat untuk belajar mengaji.
Tidak berhenti pada aspek desain dan metode, implementasi nyata dari semangat ini diwujudkan melalui program “Benerin Bacaan Quran Bareng Ngajilah.id”. Program intensif ini diikuti oleh sedikitnya 255 peserta yang berkomitmen untuk memperbaiki kualitas bacaan surat-surat pendek yang paling krusial dalam ibadah sehari-hari, seperti Al-Fatihah dan tiga surat pendek lainnya yang sering dibaca saat salat. Fokus pada perbaikan bacaan salat ini merupakan langkah praktis untuk memastikan bahwa perubahan diri dimulai dari hal-hal yang paling mendasar dan fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan memperbaiki kualitas komunikasi spiritual dengan Sang Pencipta, diharapkan integritas diri dalam kehidupan sosial juga akan ikut meningkat secara otomatis.
Kolaborasi Kreatif dan Ekspansi Global: Membangun Dampak yang Lebih Luas
Untuk memperluas jangkauan pesan dan memberikan inspirasi yang lebih luas, Kahf juga menggandeng figur publik yang memiliki pengaruh besar di kalangan generasi muda, seperti komedian dan kreator konten Raditya Dika, serta grup musik Perunggu. Melalui siniar (podcast) langsung bertema “Building Impact Through”, mereka berbagi perspektif mengenai pentingnya kolaborasi dalam menciptakan dampak positif. Raditya Dika menggarisbawahi bahwa dalam perjalanan mencapai sesuatu yang besar, termasuk dalam hal perbaikan diri, dukungan dari orang sekitar sangatlah menentukan. Ia menganalogikan bahwa berjalan sendirian mungkin bisa membuat seseorang bergerak lebih cepat, namun berjalan bersama-sama akan membawa seseorang melangkah jauh lebih jauh. Kolaborasi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritualitas dapat dibicarakan dengan gaya yang santai namun tetap memiliki kedalaman makna.
Ambisi gerakan “Bener Bareng” tidak berhenti di level nasional. Setelah memulai rangkaian kegiatannya di Jakarta, Kahf membawa misi ini ke panggung internasional melalui program “Global Open Iftar”. Kegiatan buka puasa bersama ini diselenggarakan di berbagai kota besar dunia yang memiliki komunitas Muslim yang dinamis, mulai dari kota suci Mekkah dan Madinah, hingga kota-kota metropolitan seperti London, New York, dan Chiba di Jepang. Melalui ekspansi global ini, Kahf ingin menyatukan para pria Muslim modern dari berbagai latar belakang budaya dan komunitas untuk berbagi semangat kebaikan yang sama. Tujuannya adalah untuk menciptakan jaringan global yang saling mendukung dalam menjaga konsistensi ibadah dan perilaku positif selama 30 hari penuh di bulan Ramadan, serta menjadikannya sebagai gaya hidup yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, inisiatif yang dilakukan oleh Paragon Corp melalui Kahf ini merupakan sebuah model integrasi antara aspek spiritualitas, pengembangan diri, dan kekuatan komunitas. Dengan menyentuh berbagai dimensi kehidupan pria—mulai dari perawatan diri, hobi, hingga kebutuhan spiritual paling mendasar—gerakan “Bener Bareng” berupaya menjawab tantangan zaman di mana identitas pria sering kali diuji oleh tekanan eksternal yang masif. Melalui refleksi diri yang mendalam di bulan Ramadan, diharapkan lahir generasi pria Indonesia yang tidak hanya kuat secara fisik dan sukses secara materi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan komitmen untuk terus menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri demi kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.
Pilihan Editor: 3 Masalah Kulit yang Sering Dialami Pria















