Jenewa, Swiss – Di tengah lanskap diplomatik yang penuh ketegangan, Iran mengajukan sebuah proposal krusial kepada Amerika Serikat (AS) dalam putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung yang diselenggarakan di Jenewa, Swiss. Langkah strategis ini, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, secara eksplisit disebut sebagai ujian terhadap keseriusan Washington dalam menempuh jalur diplomasi. Draf proposal tersebut diserahkan kepada pihak AS melalui perantara terpercaya, Kesultanan Oman, tepat sebelum sesi perundingan penting yang dijadwalkan berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Jenewa. Meskipun detail substantif dari draf proposal tersebut belum diungkapkan kepada publik, pernyataan tegas dari IRNA menggarisbawahi implikasi penolakan dari pihak AS: “Menolaknya, sama saja dengan membenarkan kecurigaan awal, Amerika Serikat tidak sungguh-sungguh berkomitmen pada diplomasi dan sikap diplomatik mereka hanyalah permainan.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran melihat langkah ini sebagai barometer fundamental untuk menilai niat sebenarnya AS dalam upaya penyelesaian isu nuklir yang kompleks.
Pertemuan Intensif di Jenewa: Momentum Diplomasi Tingkat Tinggi
Persiapan menuju perundingan putaran ketiga ini ditandai dengan kedatangan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Jenewa pada hari Rabu, 25 Februari 2026. Araghchi tidak datang sendiri, melainkan didampingi oleh tim yang solid, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi, serta para ahli yang mumpuni di bidang nuklir, hukum, dan ekonomi. Kehadiran tim multidisiplin ini menunjukkan keseriusan Iran dalam membahas setiap aspek teknis dan strategis yang terkait dengan isu nuklir. Setibanya di tanah Swiss, Araghchi segera mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi. Agenda utama pertemuan ini adalah untuk menyelaraskan pemahaman mengenai garis besar perundingan yang akan dihadapi serta mendiskusikan secara mendalam draf proposal yang telah disiapkan Iran untuk diajukan. Dalam kesempatan tersebut, Araghchi secara tegas menyatakan bahwa keberhasilan perundingan sangat bergantung pada keseriusan dan komitmen dari semua pihak yang terlibat, serta perlunya menghindari tindakan dan retorika yang kontradiktif. Laporan dari Anadolu, yang dirilis pada hari Jumat, 27 Februari 2026, mengonfirmasi bahwa kedua diplomat tersebut secara substantif meninjau proposal yang akan diajukan oleh delegasi Iran. Tujuan utama dari proposal ini adalah untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan, dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip panduan yang telah berhasil disepakati dalam putaran perundingan sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk membangun momentum positif dari diskusi sebelumnya.
Peran Kunci Oman dan IAEA dalam Menjaga Transparansi
Sementara itu, delegasi Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Utusan Khusus Steve Witkoff, juga tiba di Jenewa pada hari Kamis, 26 Februari 2026. Kedatangan delegasi AS ini juga disambut dengan pertemuan bersama Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, tak lama setelah kedatangan mereka. Menariknya, seperti pada putaran perundingan sebelumnya, delegasi AS kembali melibatkan Jared Kushner, menantu dari Presiden Donald Trump, yang menunjukkan tingkat kepentingan strategis dari negosiasi ini. Kementerian Luar Negeri Oman secara resmi mengonfirmasi dimulainya putaran baru perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS di Jenewa pada hari Kamis tersebut. Sesi pembicaraan ini dimulai beriringan dengan pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, dan Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi. Dalam pertemuan tersebut, Busaidi secara tegas menekankan peran krusial IAEA sebagai badan teknis yang profesional dalam proses perundingan ini. Ia juga menyoroti pentingnya memastikan tingkat transparansi, kredibilitas, dan tata kelola yang tepat dalam setiap prosedur yang relevan. Penekanan pada peran IAEA ini menggarisbawahi upaya untuk memastikan bahwa setiap langkah dalam proses nuklir Iran berada di bawah pengawasan ketat dan sesuai dengan standar internasional, yang merupakan elemen kunci dalam membangun kepercayaan antara pihak-pihak yang bernegosiasi.
Tensi Militer yang Meningkat Mengiringi Perundingan Nuklir
Sebelum memulai perjalanannya ke Jenewa, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan optimismenya bahwa Iran akan terus berupaya untuk mencapai kesepakatan yang adil secepat mungkin. Ia secara khusus menyebut bahwa putaran baru perundingan ini merupakan sebuah kesempatan bersejarah yang langka untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua putaran perundingan sebelumnya, yang diselenggarakan di Muscat dan Jenewa pada tanggal 17 Februari, dinilai sebagai langkah positif oleh kedua belah pihak karena berhasil menghasilkan kesepakatan mengenai prinsip-prinsip panduan awal. Namun, optimisme ini harus dihadapkan pada realitas geopolitik yang kompleks. Perundingan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk Persia, yang ditandai dengan peningkatan signifikan kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Selain itu, latihan militer terbaru yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menambah lapisan kompleksitas pada situasi keamanan regional. Sejak diplomasi nuklir kembali dihidupkan melalui mediasi Oman pada bulan sebelumnya, Teheran dan Washington telah menjalani dua putaran pembicaraan tidak langsung sebagai bagian dari upaya kolektif untuk meredakan ketegangan yang ada. Putaran ketiga di Jenewa ini kini dipandang sebagai tahapan lanjutan yang krusial, yang disebut-sebut sebagai ujian nyata dan mendalam atas komitmen kedua belah pihak terhadap prinsip-prinsip diplomasi dan pencarian solusi damai.

















