Dalam sebuah deklarasi yang menggemparkan panggung aktivisme kemanusiaan global, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sebuah konsorsium yang menghimpun lembaga-lembaga filantropi dan aktivisme kemerdekaan Palestina di Tanah Air, telah secara resmi mengumumkan partisipasi penuhnya dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Pengumuman yang disampaikan pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jakarta ini menandai babak baru dalam upaya kolektif untuk menembus blokade Zionis Israel yang telah mencekik Jalur Gaza, Palestina, selama lebih dari tujuh dekade. Misi ambisius ini, yang diproyeksikan melibatkan lebih dari 10.000 relawan dari 100 negara, akan mengambil rute ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya: melalui laut dan darat, dengan pengerahan masif 100 truk bantuan dari Indonesia dan armada kapal yang siap mengarungi Laut Mediterania. Keberangkatan serempak dijadwalkan pada 12 April 2026, membawa pesan kuat tentang solidaritas, keadilan, dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina.
Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Dr. Maimon Herawati, menegaskan komitmen Indonesia dalam upaya kemanusiaan ini pada acara Launching GPCI untuk GSF 2026. “GPCI akan mengirimkan 100 truk bantuan untuk konvoi darat, dan ikut berpartisipasi dalam konvoi laut untuk kembali membongkar blokade Zionis Israel terhadap warga Gaza di Palestina,” ujar Dr. Herawati. Pernyataan ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah manifestasi dari tujuan fundamental Global Peace Convoy, yakni menjadi gerakan masyarakat sipil internasional yang mampu menembus segala bentuk blokade – fisik, politik, dan moral – guna membuka jalur kemanusiaan dari Gaza ke seluruh dunia. Misi ini juga secara eksplisit menyerukan para sukarelawan untuk bergabung dengan kru laut, darat, dan udara, demi menjadi bagian dari sebuah misi bersejarah. Terjadi sedikit pergeseran jadwal dari pembahasan awal di Afrika Selatan, yang semula menetapkan 29 Maret 2026 sebagai tanggal keberangkatan serempak GSF Jilid 2. Namun, setelah diskusi intensif, tanggal 12 April 2026 akhirnya dibulatkan sebagai hari dimulainya konvoi akbar ini, memberikan waktu lebih bagi persiapan logistik dan mobilisasi relawan yang masif.
Mengukir Jejak Solidaritas Internasional: Skala dan Aliansi Misi
Misi GSF 2026 ini diproyeksikan akan jauh melampaui skala misi-misi sebelumnya, menjadi gelombang solidaritas terbesar yang pernah ada. Dr. Maimon Herawati menjelaskan bahwa gelombang GSF tahun ini bakal lebih besar dari tahun lalu, dengan target partisipasi relawan dan aktivis mencapai lebih dari 10.000 orang yang berasal dari kurang lebih 100 negara. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam jangkauan dan dukungan internasional terhadap perjuangan Palestina. Awalnya, empat kelompok utama telah membulatkan tekad untuk berlayar mengarungi Laut Mediterania menuju perairan Gaza: Sumud Nusantara (yang merupakan kelompok payung GPCI), Sumud Maghribi, Freedom Flotilla Coalition, serta Thousand Madleens to Gaza. Namun, semangat solidaritas yang membara telah menarik partisipasi kelompok-kelompok aktivisme Palestina lainnya, yakni Global March to Gaza dan The People’s Flotilla Movement, yang turut bergabung dalam konvoi darat menuju Gaza. Aliansi yang semakin luas ini menunjukkan konsensus global yang berkembang pesat bahwa dunia tidak bisa terus berpangku tangan menyaksikan Gaza dicekik tanpa jeda. Sejak 2007, Jalur Gaza berada dalam blokade ketat yang membatasi hak politik, ekonomi, dan sosial rakyatnya, sebuah kondisi yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade di bawah pendudukan yang menindas.
Untuk mendukung skala misi yang ambisius ini, kesediaan kapal untuk konvoi laut saat ini telah mencapai 100 unit dan akan terus ditambah, dengan tujuan untuk membawa sekitar 3.000 peserta pelayaran. Dr. Maimon memproyeksikan bahwa partisipasi pada konvoi laut akan melebihi 3.000 orang, sementara jumlah partisipan konvoi darat diproyeksikan akan lebih besar lagi. GPCI akan membagi para partisipannya untuk mengikuti misi GSF tahun ini melalui jalur laut maupun darat. Armada laut direncanakan akan memberangkatkan sedikitnya 100 kapal dari berbagai pelabuhan strategis di Mediterania, termasuk Barcelona (Spanyol), Tunisia, Italia, dan Yunani. Sementara itu, konvoi darat akan bergerak melalui negara-negara di Afrika Utara dan beberapa negara di Asia, membawa bantuan kemanusiaan esensial serta tim pendukung lainnya langsung menuju Gaza. Para partisipan GSF tahun ini akan memprioritaskan relawan umum dan aktivis dengan latar belakang spesifik seperti dokter atau tenaga kesehatan, perawat dan tim trauma healing, kapten serta kru kapal, teknisi dan engineer, kalangan jurnalis, eco builder, guru-guru dan pendidik, serta tim hukum. Dr. Maimon Herawati juga memastikan bahwa GSF 2026, seperti halnya misi serupa GSF 2025, akan teguh memegang prinsip-prinsip nonkekerasan, independensi sipil, transparansi-akuntabilitas, kepatuhan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, serta motivasi solidaritas berbangsa merdeka.
Jalur Nusantara Menuju Gaza: Kampanye dan Rute Spesifik Indonesia

















