Sebuah insiden keracunan massal yang mengguncang Kota Cimahi pada Rabu, 25 Februari 2026, telah memicu kekhawatiran serius terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat dinantikan. Sebanyak 43 individu, terdiri dari siswa, guru, bahkan bayi dan balita dari lima institusi pendidikan di Cimahi Tengah, dilaporkan mengalami gejala keracunan akut setelah mengonsumsi menu MBG yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangmekar 2. Peristiwa ini, yang diduga kuat berasal dari penurunan kualitas makanan, kini menjadi fokus investigasi mendalam oleh berbagai pihak berwenang, sementara operasional SPPG tersebut telah dihentikan sementara demi keselamatan publik dan untuk mengungkap akar permasalahan keamanan pangan yang krusial.
Pascakejadian, Nur Arif Putra Pratama, Kepala SPPG Karangmekar 2, segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden keamanan pangan yang tak terduga ini. Permohonan maaf tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan diikuti dengan serangkaian langkah responsif yang cepat dan terkoordinasi. Pihak SPPG bergerak sigap untuk menangani laporan yang masuk, berkoordinasi erat dengan berbagai fasilitas kesehatan di Cimahi untuk memastikan para korban mendapatkan penanganan medis yang optimal. Dokter-dokter segera diterjunkan untuk memberikan perawatan, khususnya bagi mereka yang menunjukkan gejala muntah berulang, yang dilaporkan terjadi lebih dari dua hingga tiga kali. Komunikasi intensif juga dijalin dengan orang tua siswa, dengan penekanan pada penyampaian informasi yang jelas dan menenangkan, menghindari kepanikan, serta memberikan penjelasan mengenai gizi dan permohonan maaf yang tulus. “Kami memberikan informasi dengan baik kepada orang tua dengan tidak membuat mereka panik dan melakukan penjelasan gizi lalu permohonan minta maaf,” ujar Nur, dalam keterangan tertulis yang dirilis Jumat, 27 Februari 2026, dua hari setelah insiden.

















