Pertandingan sengit bertajuk drama enam gol mewarnai lanjutan pekan ke-23 BRI Super League 2025/2026 saat PSIM Yogyakarta sukses membungkam PSBS Biak dengan skor meyakinkan 4-2 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada Jumat (27/2/2026) malam. Kemenangan krusial ini tidak hanya memutus tren negatif Laskar Mataram dalam enam laga terakhir, tetapi juga melambungkan posisi mereka ke peringkat enam klasemen sementara, sekaligus membenamkan tim tamu, PSBS Biak, yang kini terjepit di papan bawah dan terancam zona degradasi. Pertarungan yang berlangsung terbuka sejak menit awal ini memperlihatkan dominasi taktis PSIM melalui dwigol Franco Ramos Mingo dan Ze Valente, yang hanya mampu dibalas dua kali oleh Eduardo Barbosa serta Ruyery Blanco di hadapan publik Sleman yang antusias menyaksikan kebangkitan tim kesayangan mereka.
Memasuki babak pertama, PSBS Biak yang mengusung misi mencuri poin demi menjauh dari jeratan zona merah langsung mengambil inisiatif serangan. Tim berjuluk Badai Pasifik ini tampil menekan sejak peluit pertama dibunyikan oleh wasit. Mengandalkan kecepatan Luquinhas dan kreativitas Nelson Alom di lini tengah, PSBS sempat menciptakan beberapa peluang emas di depan gawang Cahya Supriadi. Namun, penyelesaian akhir yang kurang tenang serta rapatnya barisan pertahanan PSIM yang dikomandoi oleh Yusaku Yamadera membuat papan skor tetap tidak berubah hingga sepuluh menit pertama pertandingan berjalan. Tekanan demi tekanan yang dilancarkan anak asuh pelatih PSBS Biak tampak sangat menjanjikan, namun efektivitas serangan justru menjadi milik tuan rumah.
PSIM Yogyakarta yang tampil lebih sabar dan disiplin dalam transisi bertahan ke menyerang justru berhasil membuka keran gol lebih dulu pada menit ke-14. Berawal dari skema bola mati yang dieksekusi dengan sempurna oleh Ezequiel Vidal, bola melambung akurat ke jantung pertahanan lawan. Bek jangkung PSIM, Franco Ramos Mingo, menunjukkan kelasnya dengan memenangi duel udara dan menyundul bola dengan keras ke sudut gawang yang tidak mampu dijangkau oleh kiper Kadu. Gol ini sontak mengubah atmosfer stadion dan memberikan kepercayaan diri tambahan bagi Laskar Mataram. Keunggulan 1-0 ini memaksa PSBS Biak untuk bermain lebih terbuka, yang mengakibatkan jual beli serangan menjadi semakin intens di sisa waktu babak pertama.
Dominasi Udara Ramos Mingo dan Respons Agresif Badai Pasifik
Ketertinggalan satu gol tidak membuat mental para pemain PSBS Biak runtuh. Sebaliknya, mereka meningkatkan intensitas serangan dan hampir menyamakan kedudukan melalui aksi Ruyery Blanco. Penyerang asal Brasil tersebut melepaskan sundulan tajam memanfaatkan umpan silang dari sisi sayap, namun Dewi Fortuna belum berpihak karena bola hanya membentur tiang gawang. Upaya pantang menyerah PSBS akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-36. Melalui sebuah skema serangan balik cepat, Eduardo Barbosa berhasil merangsek masuk ke dalam kotak penalti. Dengan kontrol bola yang tenang, ia melepaskan tendangan keras yang menghujam jala gawang PSIM Yogyakarta, mengubah skor menjadi imbang 1-1. Skor seri ini bertahan hingga turun minum, mencerminkan ketatnya persaingan kedua tim di lapangan hijau.
Berikut adalah komposisi pemain yang diturunkan oleh kedua tim dalam laga penuh gengsi ini:
| Posisi | PSBS Biak (Starting XI) | PSIM Yogyakarta (Starting XI) |
|---|---|---|
| Kiper | Kadu | Cahya Supriadi |
| Belakang | Myun Hyun-hwang, Sandro Sakho, Nurhidayat, Pablo Andrade | Rakhmatzoda, Y. Yamadera, Ramos Mingo, Jop van der Avert |
| Tengah | Arif Budiyono, Luquinhas, Nelson Alom | Jose Valente, Rio Hardiawan, E. Vidal |
| Depan | E. Barbosa, Yano Putra, Ruyery Blanco | Riyatno Abiyoso, Haljeta, Fahreza Sudin |
Memasuki babak kedua, pelatih PSIM Yogyakarta melakukan penyesuaian taktik untuk mengeksploitasi kelemahan bola-bola atas PSBS Biak. Strategi ini terbukti jitu ketika pada menit ke-64, skema sepak pojok kembali menjadi momok bagi pertahanan tim tamu. Franco Ramos Mingo kembali mencatatkan namanya di papan skor untuk kedua kalinya dalam pertandingan ini. Dengan posisi yang sangat ideal, ia menyambut umpan sepak pojok dengan sundulan yang sangat bertenaga, membuat kiper Kadu kembali harus memungut bola dari gawangnya. Gol ini seolah menjadi titik balik bagi PSIM untuk mendominasi jalannya sisa pertandingan, sementara koordinasi pertahanan PSBS mulai terlihat goyah akibat tekanan yang bertubi-tubi.
Brace Ze Valente dan Pesta Gol di Maguwoharjo
Hanya berselang empat menit setelah gol kedua Mingo, tepatnya pada menit ke-68, stadion kembali bergemuruh. Kali ini giliran sang dirigen lapangan tengah, Ze Valente, yang memamerkan kualitas individunya. Pemain asal Portugal tersebut melakukan manuver di luar kotak penalti sebelum melepaskan tendangan melengkung yang sangat akurat. Bola meluncur deras menuju sudut kanan atas gawang PSBS Biak tanpa bisa dihalau, memperlebar jarak keunggulan menjadi 3-1. Gol kelas dunia dari Ze Valente ini membuat PSIM berada di atas angin, namun PSBS Biak menolak untuk menyerah begitu saja. Mereka terus berupaya memperkecil defisit gol dengan memasukkan tenaga baru di lini depan guna menekan pertahanan Laskar Mataram.
Upaya keras PSBS Biak akhirnya membuahkan secercah harapan pada menit ke-82. Berawal dari pergerakan bek Sandro Sakho yang membantu serangan, ia melepaskan umpan tarik yang sangat matang ke arah mulut gawang. Ruyery Blanco yang berdiri di posisi tepat berhasil menyontek bola dengan tenang untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 2-3. Gol ini sempat memicu ketegangan di sisa waktu pertandingan, karena PSBS tampil habis-habisan untuk mencari gol penyeimbang. Namun, kematangan mental para pemain PSIM Yogyakarta berbicara di menit-menit krusial. Alih-alih kebobolan, PSIM justru berhasil mengunci kemenangan lewat serangan balik mematikan di penghujung laga.
Pada menit ke-89, Ze Valente kembali menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Badai Pasifik. Melalui skema transisi yang sangat cepat, ia mendapatkan ruang tembak yang cukup terbuka di area pertahanan lawan. Tanpa ragu, Valente melepaskan tembakan keras yang kembali merobek gawang PSBS Biak untuk kedua kalinya malam itu. Skor 4-2 menjadi hasil akhir yang menutup drama di Stadion Maguwoharjo. Kemenangan ini sangat berarti bagi PSIM Yogyakarta yang kini mengintip peluang untuk menembus posisi lima besar klasemen Super League. Sebaliknya, bagi PSBS Biak, kekalahan ini membuat mereka tertahan di posisi ke-15 dengan poin yang sama dengan Persijap, dan hanya terpaut dua angka dari Semen Padang di zona degradasi, memaksa mereka harus berjuang ekstra keras di laga-laga selanjutnya demi bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

















