Atmosfer di kawasan Westminster, London, tampak begitu khidmat saat iring-iringan kendaraan kepresidenan Republik Indonesia memasuki pelataran ikonik 10 Downing Street. Di tengah udara musim dingin yang mulai menyelimuti ibu kota Inggris tersebut, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan utama media internasional, menandai babak baru dalam hubungan diplomatik antara Jakarta dan London. Kehadiran Prabowo di kediaman resmi Perdana Menteri Inggris bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah manifestasi dari penguatan kemitraan strategis di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Langkah kaki sang Presiden yang mantap di atas aspal bersejarah itu disambut dengan protokol penuh kehormatan, mencerminkan posisi tawar Indonesia yang semakin diperhitungkan di panggung dunia, khususnya dalam kerangka kerja sama ekonomi dan pertahanan di kawasan Indo-Pasifik yang kian krusial bagi kepentingan Inggris pasca-Brexit.
Tepat di depan pintu hitam bernomor 10 yang legendaris—sebuah simbol kekuasaan politik Britania Raya selama berabad-abad—Perdana Menteri Keir Starmer telah berdiri menunggu dengan senyum ramah yang merepresentasikan keterbukaan pemerintahannya terhadap mitra dari Asia Tenggara. Pertemuan ini menjadi sangat signifikan mengingat keduanya merupakan pemimpin yang relatif baru menjabat, di mana Starmer baru saja memimpin Partai Buruh meraih kemenangan besar, sementara Prabowo tengah memulai masa jabatannya dengan visi besar “Asta Cita”. Saat keduanya berjabat tangan dengan erat, kilatan kamera para jurnalis dari berbagai penjuru dunia mengabadikan momen tersebut. Percakapan ringan yang mengalir di antara mereka sebelum melangkah masuk ke dalam gedung menunjukkan adanya chemistry personal yang kuat, sebuah elemen yang sering kali menjadi kunci keberhasilan dalam negosiasi tingkat tinggi yang melibatkan kepentingan nasional yang besar, mulai dari isu transisi energi hijau hingga kolaborasi teknologi militer mutakhir.
Kejutan Tak Terduga di Tengah Protokol Ketat Kenegaraan
Namun, di tengah keseriusan agenda bilateral yang telah disusun rapi oleh para diplomat kedua negara, sebuah anomali yang menggemaskan terjadi dan seketika mencuri perhatian publik serta lensa kamera. Seekor kucing berbulu putih dengan corak abu-abu gelap berjalan dengan langkah yang sangat tenang dan penuh percaya diri, seolah-olah ia adalah pemilik sah dari tanah tersebut. Kucing itu melintas tepat di hadapan Presiden Prabowo dan PM Starmer, memotong jalur protokol yang biasanya steril dari gangguan apa pun. Kehadirannya yang tiba-tiba ini memberikan nuansa humanis yang jarang terlihat dalam pertemuan antar-kepala negara yang biasanya kaku dan penuh aturan formalitas. Momen ini membuktikan bahwa di balik tembok-tembok kekuasaan yang tebal dan pengamanan yang sangat ketat, selalu ada ruang bagi kejutan kecil yang mampu mencairkan ketegangan politik dan menciptakan narasi yang lebih hangat bagi masyarakat luas.
Sosok yang mencuri panggung tersebut tidak lain adalah Larry the Cat, penghuni paling setia dan mungkin yang paling populer di 10 Downing Street. Larry bukanlah kucing sembarangan; ia memegang gelar resmi sebagai Chief Mouser to the Cabinet Office, sebuah jabatan fungsional yang telah ada di pemerintahan Inggris selama ratusan tahun untuk mengatasi masalah hama tikus di pusat pemerintahan. Sejak diadopsi dari Battersea Dogs & Cats Home pada tahun 2011, Larry telah melampaui masa jabatan lima Perdana Menteri Inggris, mulai dari David Cameron, Theresa May, Boris Johnson, Liz Truss, hingga Rishi Sunak, dan kini ia tetap bertahan di bawah kepemimpinan Keir Starmer. Ketangguhan Larry dalam mempertahankan posisinya di tengah badai politik Inggris menjadikannya simbol stabilitas yang unik, dan kehadirannya dalam penyambutan Presiden Prabowo seolah-olah memberikan “restu” informal dari sang penghuni tetap gedung tersebut kepada tamu negara dari Indonesia.
Reaksi yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat melihat Larry sangatlah menarik untuk diamati. Sebagai seorang tokoh yang dikenal luas sebagai pecinta hewan, khususnya kucing—dengan kucing pribadinya, Bobby Kertanegara, yang juga memiliki popularitas tinggi di Indonesia—Prabowo tampak memberikan senyuman lebar dan tatapan penuh minat terhadap Larry. PM Keir Starmer pun tak kuasa menahan tawa kecil melihat tingkah laku kucingnya yang seolah ingin ikut serta dalam penyambutan resmi tersebut. Interaksi non-verbal ini secara instan meruntuhkan dinding-dinding formalitas diplomasi. Dalam dunia hubungan internasional, fenomena ini sering disebut sebagai soft power diplomacy, di mana elemen-elemen budaya atau keseharian digunakan untuk membangun jembatan emosional antara pemimpin negara, yang pada akhirnya dapat mempermudah jalannya diskusi mengenai isu-isu berat seperti perdagangan bilateral dan kerja sama keamanan regional.
Diplomasi Kucing: Jembatan Emosional Antar-Pemimpin Bangsa
Pertemuan antara Prabowo, Starmer, dan “gangguan” menyenangkan dari Larry ini secara tidak langsung menyoroti kesamaan personal antara kedua pemimpin yang sama-sama menghargai kehadiran hewan peliharaan dalam kehidupan mereka. Hal ini menciptakan titik temu yang sangat manusiawi di tengah agenda yang sarat dengan angka-angka investasi dan strategi pertahanan. Di dalam ruang pertemuan, diskusi berlanjut dengan membahas penguatan kerja sama di sektor pendidikan, di mana Inggris merupakan salah satu destinasi utama bagi pelajar Indonesia, serta upaya bersama dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, publik akan selalu mengingat hari itu bukan hanya karena kesepakatan-kesepakatan formal yang ditandatangani, tetapi juga karena bagaimana seekor kucing mampu menjadi pusat perhatian di salah satu lokasi paling berpengaruh di dunia, membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu tentang pidato di podium, tetapi juga tentang momen-momen spontan yang menunjukkan sisi kemanusiaan para pemimpinnya.
Signifikansi dari kunjungan ini juga terlihat dari bagaimana media Inggris memberikan porsi pemberitaan yang cukup besar, menggabungkan aspek politik serius dengan sisi menarik dari kehadiran Larry. Bagi Indonesia, kunjungan ini adalah langkah strategis untuk memperluas jejaring di Eropa pasca-pandemi, terutama dalam mencari dukungan untuk program-program hilirisasi industri dan pengembangan infrastruktur berkelanjutan. Sementara bagi Inggris, Indonesia dipandang sebagai jangkar stabilitas di Asia Tenggara yang memiliki potensi pasar luar biasa besar. Kehadiran Larry di tengah-tengah dua tokoh besar ini seakan menjadi pengingat bahwa di tengah persaingan global yang sengit, keramahan dan aspek-aspek kehidupan yang sederhana tetap memiliki tempat yang istimewa. Kejadian ini menambah daftar panjang sejarah unik 10 Downing Street, di mana diplomasi tingkat tinggi sering kali bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari penghuninya yang berkaki empat.
Sebagai penutup dari rangkaian momen ikonik tersebut, Presiden Prabowo dan PM Starmer melanjutkan agenda mereka ke dalam ruangan tertutup untuk pembicaraan yang lebih mendalam, meninggalkan Larry yang kembali melanjutkan tugasnya menjaga koridor-koridor kekuasaan dari gangguan tikus. Kunjungan ini tidak hanya mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis Inggris, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana sebuah pertemuan kenegaraan dapat terasa begitu hangat dan inklusif. Dengan berbagai tantangan global yang menanti di depan mata, hubungan yang diawali dengan senyuman dan momen kebersamaan yang tulus seperti ini diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan bagi rakyat kedua bangsa, membuktikan bahwa terkadang, diplomasi terbaik dimulai dari sebuah jabat tangan dan seekor kucing yang melintas tanpa beban.

















