Hanya berselang dua puluh empat jam sebelum otoritas federal Amerika Serikat melakukan penangkapan dramatis terhadapnya pada Juli 2019, Jeffrey Epstein, terpidana kasus perdagangan seks anak di bawah umur yang kontroversial, dilaporkan tengah berupaya keras merampungkan akuisisi sebuah properti mewah berupa istana megah di Marrakesh, Maroko. Transaksi bernilai jutaan dolar ini bukan sekadar investasi properti biasa, melainkan diduga kuat sebagai bagian dari strategi pelarian terencana untuk menghindari jeratan hukum di tanah kelahirannya. Berdasarkan dokumen yang baru-baru ini dirilis oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ), pengusaha finansial yang memiliki jaringan luas di kalangan elit global tersebut telah menandatangani perintah transfer dana sebesar US$14,95 juta atau setara dengan Rp248 miliar pada tanggal 5 Juli 2019, tepat sehari sebelum ia diringkus oleh agen FBI di Bandara Teterboro, New Jersey. Langkah finansial agresif ini menandai manuver besar terakhir Epstein sebelum kerajaan gelapnya runtuh, sekaligus mengungkap ambisi panjangnya untuk membangun benteng perlindungan di wilayah Afrika Utara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat, sebuah fakta hukum yang krusial bagi seseorang yang berada di bawah pengawasan ketat penegak hukum internasional.
Ketertarikan Epstein terhadap properti yang dikenal sebagai Istana Bin Ennakhil ini bukanlah sebuah impuls sesaat, melainkan obsesi yang telah dipupuk selama hampir satu dekade. Terletak di kawasan Palmeraie yang sangat eksklusif di pinggiran Kota Marrakesh, istana ini bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang diakui secara internasional. Properti megah ini didirikan dengan dedikasi luar biasa, melibatkan setidaknya 1.300 pengrajin lokal yang bekerja secara teliti untuk menciptakan detail interior yang mencengangkan. Setiap sudut bangunan dihiasi dengan ukiran kayu yang rumit, mosaik zellige tradisional yang berwarna-warni, serta langit-langit yang dilukis dengan tangan, mencerminkan kemewahan tingkat tinggi yang menjadi standar hidup Epstein. Sejak tahun 2011, Epstein telah berupaya mengakuisisi properti ini, namun proses negosiasi tersebut kerap menemui jalan buntu dan berlangsung berlarut-larut selama bertahun-tahun akibat perselisihan tajam mengenai valuasi harga serta struktur pembayaran yang kompleks dengan pemilik asli properti tersebut.
Untuk memuluskan akuisisi ini tanpa menarik perhatian otoritas moneter secara langsung, Epstein menggunakan struktur keuangan yang sangat rumit. Sehari sebelum penangkapannya, ia tidak hanya mentransfer uang tunai dalam jumlah besar, tetapi juga telah menyelesaikan pembelian sebuah perusahaan offshore (lepas pantai) yang berbasis di luar yurisdiksi hukum Maroko dengan nilai mencapai €18 juta atau sekitar Rp301 miliar. Strategi ini dilakukan karena perusahaan offshore tersebut secara legal merupakan entitas yang memiliki hak kepemilikan penuh atas Istana Bin Ennakhil. Dengan membeli perusahaan induknya, Epstein secara otomatis akan menjadi pemilik istana tersebut tanpa harus melalui prosedur birokrasi kepemilikan properti domestik yang mungkin lebih transparan. Perusahaan inilah yang memiliki Istana Bin Ennakhil.
Dokumen-dokumen hukum dari Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa rangkaian transaksi ini merupakan pergerakan modal besar terakhir yang dilakukan oleh Epstein sebelum ia kehilangan kebebasannya. Namun, rencana matang tersebut seketika berantakan ketika ia ditangkap atas tuduhan perdagangan seks dan konspirasi. Hanya tiga hari setelah Epstein dijebloskan ke balik jeruji besi, akuntan pribadinya, Richard Kahn, segera mengambil langkah darurat dengan membatalkan instruksi transfer uang tersebut pada 9 Juli 2019. Pembatalan ini secara otomatis menggugurkan seluruh proses akuisisi Istana Bin Ennakhil, meninggalkan tanda tanya besar mengenai apakah Epstein memang bermaksud menjadikan Maroko sebagai tempat pelarian permanen. Sejumlah media massa di Maroko berspekulasi bahwa pemilihan lokasi ini didasari oleh ketiadaan perjanjian ekstradisi antara Maroko dan Amerika Serikat, yang secara teoritis akan memberikan perlindungan hukum bagi Epstein dari pengejaran jaksa federal AS.
Jaringan Pengaruh dan Koneksi Elit di Maroko
Meskipun ada spekulasi mengenai pelarian, seorang mantan rekan dekat Epstein yang berbicara secara anonim memberikan perspektif berbeda. Ia mengklaim bahwa transaksi yang dilakukan tepat di ambang penangkapan menunjukkan bahwa Epstein kemungkinan besar “tidak tahu sama sekali” bahwa otoritas AS sudah siap menyergapnya. Menurut sumber tersebut, Epstein merasa dirinya masih tidak tersentuh oleh hukum dan percaya bahwa ia bisa terus memperluas imperium propertinya. Namun, ia juga menambahkan bahwa sangat masuk akal bagi seseorang dengan profil risiko seperti Epstein untuk menyiapkan tempat perlindungan potensial di mana ia tetap bisa menjalani gaya hidup mewah layaknya seorang raja, jauh dari jangkauan yurisdiksi Amerika. Meskipun demikian, dalam ribuan halaman berkas yang dirilis pemerintah, tidak ditemukan pernyataan eksplisit dari Epstein yang secara langsung membahas Maroko sebagai tempat persembunyian dari kejaran hukum.
Hubungan Jeffrey Epstein dengan Maroko sebenarnya telah terjalin sangat lama, setidaknya sejak awal era 2000-an, jauh sebelum kasus hukumnya meledak ke publik. Virginia Giuffre, salah satu korban utama yang vokal menyuarakan kejahatan Epstein, memberikan kesaksian bahwa ia pernah diterbangkan secara khusus ke Kota Tangier di wilayah barat daya Maroko. Dalam perjalanan tersebut, Giuffre mengaku diminta oleh Epstein untuk mempelajari dan memeriksa desain interior dari berbagai properti mewah di kota tersebut sebagai referensi estetika. Pada masa itu, Epstein dilaporkan sangat terobsesi untuk merenovasi sebagian dari kediaman pribadinya di pulau pribadinya, Little St. James, dengan gaya arsitektur Maroko yang eksotis. Kedekatan Epstein dengan lingkaran kekuasaan di Maroko juga terlihat pada tahun 2002, ketika ia hadir dalam acara pernikahan agung Raja Maroko, Mohammed VI, bersama Ghislaine Maxwell. Kehadiran mereka di acara kenegaraan tersebut disebut-sebut terjadi atas undangan dari mantan Presiden AS, Bill Clinton, yang menunjukkan betapa dalamnya penetrasi Epstein ke dalam jaringan sosial tingkat tinggi internasional.
Setelah sempat mendekam di penjara pada tahun 2008 atas kasus serupa di Florida dan kemudian dibebaskan dari tahanan rumah pada 2010, minat Epstein terhadap Maroko justru semakin menguat. Berkas Departemen Kehakiman mengungkap bahwa pada tahun yang sama, Epstein sempat menghubungi Peter Mandelson, mantan menteri kabinet dari Partai Buruh Inggris, untuk meminta bantuan mencarikan asisten pribadi yang kompeten dalam “menemukan rumah di Marrakesh”. Upaya ini menunjukkan bahwa Epstein secara aktif mencari properti di sana selama bertahun-tahun. Dokumen pemerintah juga merinci serangkaian kunjungan rutin yang dilakukan Epstein ke Maroko sejak tahun 2012, di mana ia sering terlihat berada di lingkungan Palmeraie yang dihuni oleh komunitas ekspatriat super kaya dan anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara Teluk. Salah satu tetangga dan rekan yang sering disebut Epstein sebagai “saudara Arabnya” adalah Jabor al Thani dari keluarga Kerajaan Qatar, yang juga memiliki aset di kawasan tersebut. menemukan rumah di Marrakesh”.
Siasat Transaksi dan Manipulasi Pajak Bin Ennakhil
Dalam proses perburuan properti di Marrakesh, kekasih Epstein, Karyna Shuliak, memegang peranan sentral sebagai ujung tombak negosiasi. Shuliak tercatat melakukan banyak kunjungan lapangan dan korespondensi email yang intensif untuk memastikan setiap detail properti sesuai dengan keinginan Epstein. Marc Leon, perwakilan dari firma properti mewah Kensington Luxury Properties, mengonfirmasi kepada BBC bahwa fokus utama Epstein memang tertuju pada Istana Bin Ennakhil milik pengusaha limbah asal Jerman, Gunter Kiss, sejak tahun 2011. Namun, hubungan antara Epstein dan Kiss sempat memburuk di awal negosiasi karena Epstein mengajukan penawaran harga yang dianggap sangat menghina oleh Kiss. Hal ini membuat Kiss sempat menolak mentah-mentah untuk berurusan kembali dengan Epstein. Untuk mengatasi penolakan tersebut, Epstein menggunakan taktik licik dengan meminta Shuliak mengajukan penawaran baru pada tahun 2018 sambil berpura-pura bertindak atas nama Leon Black, seorang miliarder pendiri Apollo Global Management sekaligus teman dekat Epstein, guna menyembunyikan identitas aslinya sebagai pembeli.

















