Di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak antara Amerika Serikat dan Iran, mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melayangkan pesan terbuka yang menggugah kesadaran para pemimpin dunia. Pesan ini, yang ditujukan secara spesifik kepada Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta seluruh pemimpin politik global, muncul pada saat kedua negara adidaya tersebut berada di ambang jurang peperangan. SBY, dengan pengalaman mendalam dalam kancah internasional, menekankan pentingnya akal sehat dan kemanusiaan dalam pengambilan keputusan yang dapat berujung pada konflik bersenjata, seraya menggarisbawahi bahwa prajurit tidak akan berjuang dan rela mati tanpa memahami tujuan yang jelas di balik pengorbanan tersebut.
Pesan SBY ini tidak hanya sekadar retorika diplomatik, melainkan sebuah refleksi mendalam atas kompleksitas perang dan tanggung jawab moral para pemimpin. Ia mengingatkan bahwa di balik keputusan untuk memulai peperangan, terdapat jutaan nyawa prajurit dan perwira yang memiliki akal sehat, keyakinan, serta harapan. Meskipun mereka siap mengorbankan diri demi negara, SBY menegaskan bahwa motivasi terdalam mereka sangat bergantung pada pemahaman akan makna perjuangan. Kalimat bijak yang dikutipnya, “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati), menjadi inti dari pesannya. Ini adalah pengingat kuat bahwa perang bukanlah sekadar pertarungan kekuatan militer, tetapi juga pertarungan ideologi dan tujuan yang harus dipahami oleh setiap individu yang terlibat di garis depan.
Kompleksitas Negosiasi Nuklir Iran: Ego, Ambisi, dan Kepentingan Pribadi
SBY secara khusus menyoroti negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, yang berfokus pada masa depan program nuklir Iran. Ia menggambarkan perundingan ini sebagai sebuah arena yang sangat rumit, dipicu oleh perbedaan kepentingan fundamental antara kedua negara yang kini berada dalam posisi saling berhadapan dan siap berperang. Kompleksitas ini semakin bertambah dengan adanya faktor kepribadian kedua pemimpin kunci, Donald Trump dan Ayatollah Ali Khamenei. SBY mengidentifikasi adanya “ego, ambisi, dan juga personal interest” yang melekat pada diri kedua pemimpin tersebut, yang secara signifikan memengaruhi dinamika negosiasi.
Bagi Donald Trump, kegagalan dalam negosiasi ini berpotensi menghancurkan reputasi dan warisan politik yang ingin ia bangun selama masa kepemimpinannya. Kekhawatiran akan citra diri dan pencapaian di mata sejarah menjadi pendorong kuat baginya untuk mencapai kesepakatan yang dianggap menguntungkan. Di sisi lain, Ayatollah Ali Khamenei menghadapi ancaman eksistensial yang lebih mendasar. SBY mengemukakan bahwa Khamenei sangat khawatir jika tensi dengan Amerika Serikat berujung buruk, hal tersebut dapat memicu pergantian rezim di Iran dan menyingkirkannya dari tampuk kekuasaan. Dengan demikian, negosiasi ini bagi pemimpin Iran bukan hanya soal program nuklir, melainkan sebuah “survival interest” atau kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan rezim yang dipimpinnya.
Para juru runding, menurut SBY, memikul tanggung jawab yang sangat besar. Mereka tidak hanya dituntut untuk cerdas dalam membaca situasi politik, tetapi juga harus mampu membaca pikiran para pemimpin yang memberikan mandat kepada mereka. Kemampuan untuk memahami motivasi tersembunyi, kekhawatiran, dan ambisi kedua belah pihak adalah kunci. Lebih dari itu, mereka harus siap untuk melakukan kompromi, sebuah seni diplomasi yang melibatkan kemampuan untuk menerima dan memberi, demi mencapai titik temu yang dapat diterima oleh kedua pemimpin negara. Kegagalan dalam memahami nuansa-nuansa personal dan politik ini dapat dengan mudah menggagalkan upaya diplomasi yang krusial.
Perang Bukan Pilihan Mudah: Kalkulasi Rasional dan Risiko yang Tinggi
Meskipun banyak pihak memprediksi bahwa kegagalan negosiasi akan segera memicu perang besar, SBY berpendapat bahwa baik Donald Trump maupun Ayatollah Ali Khamenei tidak akan bertindak gegabah dalam memerintahkan pasukan mereka untuk berperang. Ia menekankan bahwa risiko dan harga yang harus dibayar jika keputusan perang diambil secara keliru adalah terlalu tinggi. Keputusan untuk memulai peperangan tidak dapat didasarkan pada emosi atau ambisi semata, melainkan harus melalui kalkulasi rasional yang matang.
SBY menjelaskan bahwa negara akan siap berperang hanya jika kalkulasi rasional mereka menjamin bahwa perang tersebut dapat dimenangkan. Ini menyiratkan bahwa pertimbangan tidak hanya mencakup kekuatan militer, tetapi juga analisis mendalam mengenai potensi kerugian, biaya ekonomi, dampak sosial, dan kemungkinan keberhasilan jangka panjang. Pernyataan ini menyoroti bahwa perang adalah opsi terakhir yang diambil setelah semua alternatif lain telah dieksplorasi dan dinilai tidak memadai. Di balik setiap ancaman perang, terdapat pertimbangan strategis yang rumit dan perhitungan risiko yang cermat.
Lebih lanjut, SBY mengingatkan Donald Trump tentang pengalaman pahit Amerika Serikat dalam konflik-konflik sebelumnya, seperti Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu berarti penyelesaian konflik yang damai dan stabil. Ia menekankan bahwa Iran memiliki karakteristik unik yang berbeda dari Irak dan Afghanistan. “Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan,” tegas SBY. Ini adalah peringatan keras bahwa strategi yang berhasil di satu negara belum tentu efektif di negara lain, terutama ketika berhadapan dengan entitas yang memiliki sejarah, budaya, dan struktur politik yang berbeda. Amerika Serikat, meskipun memiliki kekuatan militer yang superior, harus mempertimbangkan secara serius skenario keluar dari sebuah peperangan dan dampak jangka panjangnya, bukan hanya sekadar ambisi untuk menghancurkan lawan.
Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki tahapan ketiga di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026, menjadi saksi bisu dari ketegangan yang mendalam ini. Tuntutan Amerika Serikat yang sangat tegas, yaitu agar Iran membongkar fasilitas pengembangan nuklir utamanya dan menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya kepada AS, menunjukkan keseriusan Washington dalam upaya membatasi program nuklir Teheran. Laporan dari Wall Street Journal, mengutip seorang pejabat AS, merinci bahwa negara adidaya itu menekan Iran untuk menutup fasilitas-fasilitas krusial seperti Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta menyerahkan sekitar 10.000 kg uranium yang diperkaya. Situasi ini diperparah dengan pengerahan armada pesawat dan kapal perang AS ke Timur Tengah, yang secara jelas merupakan upaya tekanan militer untuk memaksa Iran menyetujui kesepakatan.
Donald Trump melihat peluang untuk menekan Iran semakin besar, terutama setelah negara tersebut dilanda protes dalam negeri bulan lalu. Namun, Iran, meskipun sempat mengalami kerusakan pada proyek nuklirnya, tetap melanjutkan pengayaan uranium. Keputusan Trump untuk memerintahkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran bersama Israel pada Juni tahun lalu semakin mempertegas postur konfrontatif kedua belah pihak. Perundingan ini dinilai sebagai kesempatan terakhir bagi diplomasi, sebelum opsi militer yang lebih drastis diambil. Pesan SBY menjadi pengingat krusial bagi semua pihak bahwa eskalasi konflik hanya akan membawa kerugian yang tak terhitung, dan kebijaksanaan serta pemahaman mendalam atas kompleksitas situasi adalah kunci untuk mencegah bencana.

















