Demi memastikan kelancaran dan keamanan jutaan pemudik yang akan melintasi salah satu arteri vital transportasi darat di Pulau Jawa, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) secara agresif mempercepat program preservasi di ruas Jalan Nasional Pemalang-Pekalongan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan kondisi jalan berada dalam status ‘mantap, aman, dan nyaman’ sebelum puncak arus mudik Lebaran 2026 tiba. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, secara tegas menyatakan bahwa ruas jalan yang membentang di pesisir utara Jawa ini memegang peranan krusial dalam jaringan transportasi nasional, mengingat tingginya volume kendaraan yang melintas setiap harinya, menjadikannya prioritas utama dalam agenda perbaikan infrastruktur pemerintah. Keputusan untuk mempercepat pekerjaan ini mencerminkan komitmen mendalam pemerintah dalam menyediakan layanan infrastruktur yang andal dan berkualitas, terutama di jalur-jalur dengan mobilitas tinggi seperti yang terdapat di koridor Pantura.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, dalam pernyataannya yang dilansir dari Antara pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Pemalang, Jawa Tengah, menekankan urgensi penyelesaian proyek ini. “Ruas Pemalang-Pekalongan ini harus dipastikan dalam kondisi mantap dan aman dilalui masyarakat sebelum Lebaran,” ujar Dody. Beliau menambahkan, “Percepatan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan pelayanan infrastruktur yang andal, khususnya pada jalur dengan mobilitas tinggi seperti Pantura.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya ruas jalan ini sebagai tulang punggung logistik dan mobilitas masyarakat, terutama saat momen perayaan hari besar keagamaan yang identik dengan tradisi mudik. Fokus utama preservasi ini adalah pada peningkatan struktur perkerasan jalan, sebuah tindakan teknis yang dirancang untuk memperpanjang usia pakai jalan, meningkatkan daya tahan terhadap beban lalu lintas yang berat, serta secara signifikan meningkatkan kenyamanan bagi para pengguna jalan. Beberapa titik yang diidentifikasi sebagai area kritis dan strategis telah ditetapkan sebagai prioritas utama untuk diselesaikan sebelum periode Lebaran, guna mencegah potensi hambatan yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Progres Fisik Melampaui Target: 78,89 Persen Rampung
Upaya percepatan yang dilakukan oleh Kementerian PU membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta, Moch Iqbal Tamher, melaporkan bahwa progres fisik pekerjaan preservasi di Jalan Nasional Pemalang-Pekalongan hingga saat ini telah mencapai angka yang impresif, yaitu 78,89 persen. Angka ini tidak hanya menunjukkan kemajuan yang signifikan, tetapi juga secara nyata melampaui target yang telah ditetapkan sebelumnya, yang hanya sebesar 37,66 persen. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata dari efektivitas manajemen proyek dan dedikasi tim pelaksana di lapangan yang bekerja ekstra keras untuk mengejar target penyelesaian. Tingkat penyelesaian yang tinggi ini memberikan optimisme besar bahwa jalan tersebut akan siap digunakan dalam kondisi prima sebelum puncak arus mudik Lebaran 2026.
Teknik Preservasi Mutakhir untuk Ketahanan Jalan Maksimal
Dalam rangka mencapai kondisi jalan yang optimal, Kementerian PU menerapkan dua metode penanganan yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi spesifik di setiap segmen jalan. Tipe pertama pekerjaan preservasi dilakukan tanpa perlu membongkar lapisan perkerasan yang sudah ada. Metode ini melibatkan penambahan konstruksi baru yang terdiri dari lapisan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) dengan ketebalan minimum 3 cm, yang kemudian dilapisi kembali dengan beton mutu fc’45 setebal 31 cm. Proses pengerasan beton ini memakan waktu antara 3 hingga 7 hari, sebuah rentang waktu yang efisien untuk memastikan kekuatan struktur yang memadai.
Sementara itu, untuk segmen yang membutuhkan perbaikan lebih mendalam, diterapkan tipe kedua pekerjaan. Metode ini melibatkan pembongkaran total lapisan perkerasan yang lama. Setelah lapisan eksisting dibongkar, dilakukan pekerjaan perbaikan pada lapisan agregat Kelas A dengan ketebalan 20 cm. Di atasnya, diaplikasikan lapisan beton kurus setebal 10 cm, yang kemudian dilanjutkan dengan lapisan beton mutu fc’45 setebal 31 cm. Sama seperti tipe pertama, proses pengerasan beton pada metode ini juga membutuhkan waktu antara 3 hingga 7 hari. Pemilihan metode ini didasarkan pada analisis teknis yang cermat untuk memastikan penguatan struktur jalan secara menyeluruh, sehingga mampu menahan beban lalu lintas yang terus meningkat dan memperpanjang umur layanan jalan secara signifikan.
Selain fokus pada pekerjaan rekonstruksi dan penguatan struktur, program preservasi ini juga mencakup kegiatan pemeliharaan rutin yang esensial. Kegiatan ini meliputi perbaikan campuran aspal panas yang mungkin mengalami kerusakan minor, serta pengendalian vegetasi yang tumbuh di sepanjang tepi jalan. Pengendalian vegetasi ini sangat penting untuk menjaga jarak pandang pengemudi, mencegah potensi pohon tumbang yang dapat membahayakan pengguna jalan, serta menjaga estetika lingkungan jalan. Melalui serangkaian tindakan preservasi yang komprehensif ini, Kementerian PU tidak hanya memastikan bahwa konektivitas antar wilayah di Jawa Tengah tetap terjaga dengan baik, tetapi juga secara proaktif mendukung kelancaran arus mudik pada koridor strategis Pantura Jawa, yang merupakan salah satu jalur terpadat di Indonesia.

















