Ketegangan global memuncak pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026. Peristiwa tragis ini seketika memicu gelombang balasan militer dari Iran, yang berujung pada penutupan jalur vital perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. Eskalasi konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko krisis regional hingga internasional. Perkembangan terkini menunjukkan dampak meluas, mulai dari serangan terhadap aset militer strategis, penutupan wilayah udara, hingga seruan internasional untuk meredakan “spiral kekerasan”.
Dampak Ganda: Blokade Hormuz dan Lonjakan Energi
Sebagai respons langsung atas serangan yang merenggut nyawa pemimpin agungnya, Iran secara tegas memblokir Selat Hormuz, arteri krusial bagi sekitar 20-30 persen pasokan minyak dunia. Keputusan strategis ini sontak mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global, menyebabkan lonjakan harga minyak yang signifikan. Penutupan jalur pelayaran vital ini tidak hanya mengancam pasokan energi global, tetapi juga meningkatkan potensi krisis energi yang lebih luas, mengganggu arus perdagangan internasional, dan secara drastis meningkatkan risiko konfrontasi militer terbuka di kawasan Teluk Persia yang sudah bergejolak. Situasi ini menjadi alat tekanan geopolitik yang kuat bagi Iran dalam merespons apa yang mereka anggap sebagai agresi dari Amerika Serikat dan Israel.
Lebih lanjut, dampak dari eskalasi ini meluas ke berbagai sektor. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah berhasil menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di wilayah Teluk dengan empat rudal balistik. Pernyataan ini, meskipun belum terkonfirmasi secara independen oleh pihak AS, menggarisbawahi keseriusan balasan Iran. Di lokasi lain, sebuah kapal yang berlayar di dekat Selat Hormuz dilaporkan terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal, menambah kekhawatiran akan meningkatnya insiden maritim di wilayah tersebut. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi insiden tersebut dan menyatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung.
Seruan Internasional dan Ancaman Global
Menyikapi situasi yang kian memanas, berbagai negara telah mengeluarkan imbauan dan peringatan. Pemerintah Inggris melalui Kementerian Luar Negeri meminta warganya di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk mengambil langkah “berlindung di tempat” (shelter in place) dan memperbarui imbauan perjalanan, menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke negara-negara tersebut kecuali untuk keperluan mendesak. Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menggambarkan serangan balasan Iran sebagai tindakan “tanpa pandang bulu”, termasuk peluncuran dua rudal balistik ke arah Siprus, yang meskipun tidak secara langsung menargetkan pulau tersebut, menunjukkan jangkauan dan intensitas respons Iran.
Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, turut menyerukan penghentian “spiral kekerasan” di Timur Tengah, sebuah seruan yang datang di tengah laporan sirene serangan udara di Tel Aviv dan ledakan akibat sistem pertahanan udara Israel yang mencegat rudal yang diluncurkan dari Iran. Militer Israel mengumumkan serangan skala besar kembali dilancarkan ke “jantung” Teheran, mengklaim telah menghancurkan sebagian besar stok rudal Iran. Di sisi lain, sistem pertahanan udara AS dilaporkan mencegat drone di Erbil, Irak, sementara pemerintah AS memperingatkan warganya di Bahrain dan staf kedutaan di Yordania untuk meningkatkan kewaspadaan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei adalah “deklarasi perang terhadap umat Muslim” dan berjanji akan membalas dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pejabat keamanan Iran, Ali Larijani, mengonfirmasi ancaman ini, sementara Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk dalam dewan kepemimpinan sementara. Laporan juga menyebutkan serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Kurdistan Irak dan kawasan Teluk Persia, serta ledakan yang terdengar di berbagai kota besar di Timur Tengah, termasuk Jerusalem, Dubai, dan Manama.
Kematian Khamenei dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran, yang juga melaporkan bahwa anggota keluarganya turut menjadi korban. Pernyataan dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut Khamenei sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah,” mengindikasikan potensi eskalasi lebih lanjut jika Iran melakukan balasan. Iran juga mengonfirmasi kematian kepala Garda Revolusi, Mohammad Pakpour, dan penasihat keamanan Ali Shamkhani, yang sebelumnya mengancam akan melancarkan operasi “paling ganas” terhadap Israel dan pangkalan militer AS.
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat, di mana perwakilan Iran menuduh AS dan Israel melakukan kemungkinan “kejahatan perang” dengan menyerang warga sipil. Situasi ini diperparah dengan penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara, termasuk Iran, Irak, Kuwait, Suriah, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Israel, yang menyebabkan gangguan signifikan pada penerbangan internasional. Badan energi atom PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA), juga mengagendakan pertemuan darurat atas permintaan Rusia. Gelombang protes mematikan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Iran, Irak, dan Pakistan, menunjukkan kemarahan publik yang meluas.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengevakuasi warga dari Timur Tengah menggunakan armada militer atau charter. Laporan terus berdatangan mengenai korban tewas yang bertambah, termasuk pejabat tinggi Iran seperti kepala intelijen kepolisian Gholamreza Rezaian, kepala staf angkatan bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh. Eskalasi konflik ini, yang meluas ke berbagai wilayah termasuk Oman, Abu Dhabi, Bahrain, dan Tel Aviv, menunjukkan kompleksitas situasi dan potensi dampak yang lebih luas, tidak hanya pada keamanan regional tetapi juga pada stabilitas global.
















