Wajah gemerlap Dubai, yang selama ini dikenal sebagai oasis kemewahan dan pusat pariwisata global, mendadak redup dan mencekam. Selama dua hari terakhir, kota metropolitan di Uni Emirat Arab ini dihadapkan pada realitas brutal konflik, ketika rentetan serangan rudal dan drone Iran menghantam wilayahnya sebagai respons atas operasi tempur yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Insiden yang dimulai pada Sabtu (28/02) dan berlanjut hingga Minggu (01/03) ini tidak hanya menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur vital seperti hotel mewah dan Bandara Internasional Dubai yang merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia, tetapi juga memaksa sebagian besar warga dan ribuan turis untuk mencari perlindungan, membatalkan rencana, dan menyaksikan langsung transformasi drastis dari kota yang mereka kenal.
Gempuran Iran tersebut, yang menurut otoritas UEA melibatkan setidaknya 137 rudal dan 209 drone yang menerjang wilayah mereka, merupakan eskalasi dramatis yang mengguncang stabilitas regional. Serangan ini secara langsung menargetkan jantung pariwisata dan ekonomi Dubai, mengubah lanskap yang biasa dipenuhi hiruk pikuk wisatawan menjadi suasana tegang dan penuh ketidakpastian. Hotel-hotel mewah yang menjadi ikon kota, seperti Hotel Fairmont The Palm di kepulauan buatan Palm Jumeirah, dilaporkan terkena ledakan besar. Selain itu, puing-puing dari drone yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara UEA menyebabkan “kebakaran kecil” pada fasad Hotel Burj Al Arab, simbol kemewahan yang tak tertandingi. Kerusakan pada infrastruktur vital ini menjadi bukti nyata betapa parahnya serangan yang terjadi, meninggalkan jejak kehancuran di balik citra glamor Dubai.
Kesaksian dari Jantung Konflik: Suara Warga dan Turis yang Terjebak
Di tengah kekacauan ini, suara-suara dari warga setempat dan para turis memberikan gambaran mendalam tentang situasi yang mereka hadapi. Becky Williams, seorang warga Uni Emirat Arab, menceritakan pengalamannya melihat sekitar 15 rudal “diluncurkan dari belakang rumahnya” pada hari pertama serangan. Rudal-rudal tersebut bukan proyektil Iran, melainkan persenjataan pertahanan udara UEA yang ditembakkan untuk mencegat ancaman yang mendekat ke Dubai. “Anda bisa mendengar cegatan itu terjadi di udara,” ujarnya, menggambarkan suara dentuman keras yang memecah keheningan malam. Meskipun demikian, ia dan keluarganya berusaha tetap tenang, menaruh kepercayaan penuh pada kemampuan militer UEA untuk mempertahankan wilayah udaranya. Keyakinan bahwa situasi akan “segera mereda” menjadi pegangan di tengah ketegangan yang melanda.
Namun, tidak semua orang bisa merasakan ketenangan serupa. Satya Jaganathan, seorang warga berusia 35 tahun, terpaksa membatalkan seluruh rencana liburan akhir pekannya. “Beginilah kita sekarang, harus tinggal di rumah,” katanya, mengungkapkan frustrasi dan ketidakberdayaan. Situasi semakin mencekam bagi saudarinya yang tinggal di dekat Pelabuhan Jebel Ali, salah satu pelabuhan tersibuk kesembilan di dunia. Di area tersebut, dilaporkan “banyak puing-puing yang jatuh” akibat serangan. Pada Sabtu (28/02), pejabat setempat mengkonfirmasi bahwa serpihan dari “penyergapan udara” telah mengakibatkan kebakaran di pelabuhan vital tersebut. Jaganathan menggambarkan suasana yang surreal: “Situasinya masih relatif tenang karena hanya ada suara keras setiap beberapa jam, tetapi terasa aneh karena ini bukan Dubai yang kami kenal.” Ungkapan ini menjadi resonansi dari perasaan banyak orang yang menyaksikan kota mereka berubah secara drastis dalam sekejap.
Gangguan Global dan Dampak Psikologis Mendalam
Dampak serangan ini tidak hanya dirasakan oleh penduduk lokal, tetapi juga melumpuhkan ribuan rencana perjalanan global. Bandara Internasional Dubai, yang menjadi hub penting bagi penerbangan internasional, mengalami kerusakan serius dalam apa yang oleh otoritas disebut sebagai “insiden.” Akibatnya, ribuan penerbangan menuju dan dari Timur Tengah terpaksa dibatalkan, mencatatkan insiden ini sebagai salah satu gangguan terparah terhadap perjalanan global sejak merebaknya pandemi Covid-19. Judy Trotter, seorang turis yang seharusnya kembali ke London pada Sabtu (28/02), mendapati semua penerbangan dibatalkan setibanya di bandara. “Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat kesal karena rencana perjalanan mereka terdampak. Ada ribuan orang di bandara,” tuturnya, menggambarkan pemandangan kekacauan dan keputusasaan. Ia bahkan bertemu dengan penumpang yang melewatkan pemakaman orang terkasih dan banyak lainnya yang “sedang transit” dan kini terjebak di Dubai tanpa kejelasan.
Trotter adalah salah satu dari sekitar 1.000 penumpang terlantar yang diberi kompensasi untuk menginap di hotel, namun dengan peringatan tegas untuk menjauhi jendela. “Ada banyak kaca di hotel ini yang mengkhawatirkan. Sepanjang hari, beberapa rudal terdengar,” ujarnya, menyoroti ketakutan akan potensi pecahan kaca dan serangan lanjutan. Ketakutan yang lebih mendalam diungkapkan oleh Kate Fischer, seorang turis Inggris lainnya, yang mengaku “sangat ketakutan.” Pada Sabtu malam, ia dan pasangannya buru-buru mengemas “tas darurat” saat anak-anak mereka tidur pulas, bahkan “menyiram handuk mandi dan handuk” dengan air sebagai persiapan ekstrem jika harus “melarikan diri di tengah malam dalam kondisi kebakaran.” Pengalamannya digambarkan sebagai “sangat surealis, dikelilingi oleh orang-orang yang mencoba menikmati liburan mereka dan menghibur anak-anak mereka sementara kami bisa melihat asap yang terlihat dari area terdekat yang terkena serangan drone atau rudal.” Kontras antara suasana liburan dan ancaman nyata menciptakan trauma psikologis yang mendalam.
Bahkan figur publik pun turut merasakan dampaknya. Vicky Pattison, peserta Strictly Come Dancing dan pemenang acara I’m A Celebrity – Get Me Out Of Here, termasuk di antara mereka yang harus mengungsi di Dubai. Pattison, yang sedang menikmati liburan bersama suaminya, Ercan Ramada, mendapati penerbangan mereka ke Australia dibatalkan. Melalui unggahan di Instagram, ia menulis, “Kami memikirkan semua orang yang merasa tidak tenang dan tidak aman saat ini,” menunjukkan solidaritas dengan ribuan orang lain yang merasakan ketidakpastian dan ketakutan yang sama. Pengalaman kolektif ini secara fundamental mengubah persepsi tentang Dubai, dari surga liburan yang aman menjadi zona yang rentan terhadap gejolak geopolitik, meninggalkan pertanyaan tentang masa depan kota yang selama ini menjadi simbol kemewahan dan stabilitas di Timur Tengah.
- Ayatollah Ali Khamenei wafat, siapa penerusnya dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?
- Presiden Prabowo tawarkan jadi juru runding konflik AS-Israel dengan Iran – ‘Sangat tidak realistis’
- Harga minyak dunia melonjak setelah kapal-kapal diserang di dekat Selat Hormuz

















