Kekhawatiran atas gejolak geopolitik di Timur Tengah kini membayangi roda perekonomian Indonesia, menyusul penutupan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz akibat eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Minggu, 1 Maret lalu. Meskipun ancaman terhadap kelancaran arus perdagangan internasional semakin nyata, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa evaluasi mendalam mengenai dampak spesifik terhadap kinerja ekspor-impor nasional masih memerlukan analisis lebih lanjut. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam keterangan persnya pada Senin, 2 Maret, menyatakan bahwa perhitungan potensi efek lanjutan dari konflik yang memanas ini belum dapat disimpulkan secara definitif, menekankan perlunya kajian yang lebih komprehensif apabila konflik tersebut semakin meningkat intensitasnya.
Perdagangan Indonesia dengan Negara Mitra Strategis Terancam
Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, menjadi arteri krusial bagi pergerakan minyak, gas alam cair (LNG), dan berbagai komoditas penting lainnya. Penutupan jalur ini, yang dipicu oleh serangan militer di kawasan tersebut, secara inheren menimbulkan kekhawatiran signifikan bagi negara-negara yang bergantung pada rute perdagangan ini, termasuk Indonesia. BPS, melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, secara proaktif memaparkan data perdagangan Indonesia dengan tiga negara yang secara geografis berdekatan dan bergantung pada jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Data ini dirilis sebagai gambaran awal mengenai potensi kerentanan yang dihadapi Indonesia dalam konteks perdagangan internasional, mengingat peran strategis ketiga negara tersebut sebagai mitra dagang bagi Indonesia.
Analisis Mendalam Data Perdagangan Nonmigas 2025
Menelisik lebih dalam, Ateng Hartono mempresentasikan gambaran komprehensif mengenai nilai perdagangan Indonesia dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab sepanjang tahun 2025, yang sebagian besar melibatkan komoditas nonmigas. Dari sisi impor, Indonesia mencatat nilai impor dari Iran sebesar USD 8,4 juta. Komoditas utama yang diimpor dari Iran adalah buah-buahan, yang tercatat senilai USD 5,9 juta, menunjukkan tingginya permintaan domestik terhadap produk hortikultura dari negara tersebut. Selain itu, Indonesia juga mengimpor besi dan baja senilai USD 0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS84) senilai USD 0,7 juta, yang mengindikasikan ketergantungan pada pasokan komponen industri dari Iran.
Selanjutnya, impor nonmigas dari Oman menunjukkan angka yang jauh lebih signifikan, mencapai USD 718,8 juta. Komoditas dominan dalam impor ini adalah besi dan baja, dengan nilai mencapai USD 590,5 juta, menggarisbawahi peran Oman sebagai pemasok utama bahan baku industri baja bagi Indonesia. Bahan kimia organik (HS29) menyusul dengan nilai USD 56,7 juta, serta garam, belerang, batu, dan semen (HS25) senilai USD 44,2 juta, yang menunjukkan kebutuhan akan bahan mentah untuk berbagai sektor industri dan konstruksi.
Sementara itu, impor nonmigas dari Uni Emirat Arab mencatat nilai tertinggi di antara ketiga negara tersebut, yaitu sebesar USD 1,4 miliar. Komoditas utama yang diimpor dari UEA adalah logam mulia dan perhiasan, dengan nilai fantastis mencapai USD 511,1 juta, mengindikasikan peran UEA sebagai hub perdagangan barang-barang mewah dan berharga. Aluminium dan barang daripadanya menyumbang USD 181,6 juta, sementara garam, belerang, batu, dan semen (HS25) tercatat senilai USD 43,2 juta, menunjukkan diversifikasi produk impor dari negara Teluk ini.
Tidak hanya dari sisi impor, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke ketiga negara tersebut juga menunjukkan angka yang substansial. Ke Iran, ekspor nonmigas tercatat senilai USD 249,1 juta. Komoditas unggulan ekspor Indonesia ke Iran adalah buah-buahan (HS08), yang mencapai USD 86,4 juta, menunjukkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar Iran. Kendaraan dan bagiannya (HS87) menyusul dengan nilai USD 34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15) senilai USD 22 juta, mengindikasikan potensi pasar yang baik untuk produk olahan dan manufaktur Indonesia.
Ekspor nonmigas ke Oman mencapai USD 428,8 juta. Komoditas utamanya adalah lemak dan minyak hewan nabati, yang menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke Oman dengan nilai USD 227,7 juta, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemasok produk agroindustri. Kendaraan dan bagiannya kembali menunjukkan performa kuat dengan nilai USD 64,2 juta, serta bahan mineral (HS27) senilai USD 48,1 juta, yang mencerminkan diversifikasi ekspor Indonesia ke negara ini.
Sementara itu, ekspor nonmigas ke Uni Emirat Arab menjadi yang terbesar di antara ketiga negara, mencapai USD 4 miliar. Komoditas utama yang diekspor Indonesia ke UEA meliputi lemak dan minyak hewan nabati senilai USD 510,3 juta, kendaraan dan bagiannya senilai USD 363,5 juta, serta logam mulia dan perhiasan senilai USD 183,6 juta. Angka ini menegaskan posisi UEA sebagai pasar utama bagi produk-produk ekspor Indonesia, terutama dalam kategori barang konsumsi bernilai tambah dan produk manufaktur.

















