Kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kembali menjadi sorotan publik di tahun 2026. Bukan karena geliat transaksi komoditas sayur-mayur yang sibuk, melainkan karena pemandangan miris berupa gunungan sampah yang mencapai ketinggian 6 meter. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga menciptakan krisis kesehatan dan kenyamanan bagi pedagang serta warga sekitar.
Bagi masyarakat yang beraktivitas di area pasar, tumpukan sampah yang terletak tepat di depan lapak pedagang sayur bukanlah hal baru. Namun, eskalasi volume sampah yang mencapai ribuan ton di tahun 2026 ini menuntut perhatian serius dari pihak berwenang. Bau menyengat yang tercium hingga ke pusat keramaian pasar menjadi bukti nyata bahwa sistem pengelolaan limbah di salah satu pusat distribusi pangan terbesar di Jakarta ini sedang tidak baik-baik saja.
Akar Masalah: Mengapa Sampah Terus Menumpuk?
Berdasarkan data terbaru hingga Maret 2026, gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati ditaksir mencapai angka fantastis, yakni 6.970 ton. Fenomena ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada beberapa faktor krusial yang mendasari mengapa masalah ini terus berulang.
1. Keterbatasan Armada Pengangkut
Manajer Humas Perumda Pasar Jaya, Topik Hidayatulloh, mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama adalah terbatasnya armada truk pengangkut sampah. Volume sampah yang dihasilkan setiap harinya oleh ribuan pedagang tidak sebanding dengan kapasitas pengangkutan yang tersedia. Akibatnya, sampah menumpuk di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan perlahan membentuk “gunung” sampah yang mengganggu aktivitas ekonomi.
2. Silang Sengketa Tanggung Jawab
Dalam konteks birokrasi, penanganan sampah di kawasan pasar sering kali terbentur pada pembagian wewenang. Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menegaskan bahwa pengelolaan sampah di dalam kawasan Pasar Induk Kramat Jati sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengelola pasar (Perumda Pasar Jaya). Hal ini menciptakan celah koordinasi di mana penanganan menjadi lambat ketika volume sampah melonjak drastis melebihi kemampuan operasional internal pasar.

Dampak Buruk bagi Lingkungan dan Ekonomi Pasar
Keberadaan gunungan sampah setinggi 6 meter di tengah pusat perdagangan membawa dampak domino yang merugikan banyak pihak. Jika dibiarkan berlarut-larut, citra Pasar Induk Kramat Jati sebagai pusat distribusi pangan strategis bisa tercoreng.
- Kesehatan Pedagang dan Konsumen: Bau busuk yang menyengat adalah indikator adanya gas metana dan bakteri berbahaya. Pedagang yang berjualan di dekat TPS berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan dan penyakit kulit.
- Penurunan Higienitas Pangan: Sayur-mayur yang dijual di pasar berdekatan dengan tumpukan sampah. Hal ini memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kebersihan produk pangan yang didistribusikan dari pasar ini ke seluruh Jakarta.
- Gangguan Operasional: Tumpukan sampah yang memakan ruang gerak membuat akses lalu lintas di dalam pasar menjadi macet. Truk logistik pengangkut barang dagangan kesulitan bermanuver, yang pada akhirnya menghambat efisiensi distribusi barang.
<img alt="Bikin Resah Warga! Begini Penampakan Gunungan Sampah 6 Meter di Pasar …" src="https://media-origin.kompas.tv/library/image/thumbnail/3/AI3–2026-01-12T1915561491768220171.a675380.jpg” style=”max-width:100%; height:auto; border-radius:8px; margin: 1rem 0;” />
Langkah Strategis ke Depan: Solusi yang Dibutuhkan
Menangani masalah sampah di pasar modern maupun tradisional di Jakarta memerlukan pendekatan yang lebih holistik, bukan sekadar “pengangkutan darurat”. Beberapa langkah yang mendesak untuk dilakukan antara lain:
- Modernisasi Sistem Pengelolaan Sampah: Perumda Pasar Jaya perlu mengadopsi teknologi pengolahan sampah mandiri, seperti mesin pencacah atau komposter skala besar, untuk mengurangi volume sampah sebelum diangkut ke TPST Bantargebang.
- Peningkatan Kapasitas Logistik: Penambahan armada truk sampah yang beroperasi secara real-time sangat krusial untuk memastikan TPS tidak pernah dalam kondisi overload.
- Sinergi Lintas Sektoral: Tidak bisa lagi saling lempar tanggung jawab. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui DLH harus memberikan supervisi teknis, sementara Perumda Pasar Jaya harus menjalankan manajemen operasional yang disiplin.
- Edukasi Pedagang: Melibatkan pedagang dalam pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumbernya akan sangat membantu mengurangi beban TPS secara signifikan.
Kesimpulan
Krisis sampah di Pasar Induk Kramat Jati pada tahun 2026 adalah pengingat keras bahwa manajemen limbah harus menjadi prioritas dalam tata kelola pasar induk. Dengan volume mencapai hampir 7.000 ton, solusi parsial tidak akan cukup. Diperlukan komitmen kuat dari pengelola pasar untuk melakukan peremajaan sistem logistik dan koordinasi yang lebih erat dengan Dinas Lingkungan Hidup.
Pasar Induk Kramat Jati adalah urat nadi distribusi pangan Jakarta. Sudah saatnya kawasan ini bebas dari “gunungan sampah” agar pedagang bisa berjualan dengan nyaman dan masyarakat mendapatkan produk pangan yang bersih serta sehat. Inovasi teknologi dan manajemen yang transparan adalah kunci untuk mengakhiri masalah klasik ini secara permanen.

















