Dunia militer Indonesia kembali berduka. Gugurnya Praka Farizal Romadhon, seorang prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon, menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan seluruh masyarakat Indonesia. Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, Praka Farizal mengembuskan napas terakhirnya setelah menjadi korban serangan militer Israel (IDF) yang menghantam pos kontingen Indonesia pada Minggu, 29 Maret 2026.
Artikel ini akan mengupas sisi humanis dan mengharukan di balik keberangkatan seorang putra terbaik bangsa, serta pesan terakhir yang ia sampaikan kepada sang ayah sebelum menjalankan tugas mulia di tanah perantauan.
Kenangan Terakhir: Percakapan Singkat Usai Maghrib
Bagi Senam, ayahanda Praka Farizal, ingatan akan percakapan terakhir bersama putra tercintanya masih terasa begitu nyata. Komunikasi yang dilakukan tepat setelah waktu Maghrib itu kini menjadi kenangan yang tak ternilai harganya. Tidak ada firasat buruk yang dirasakan oleh sang ayah, hanya sebuah obrolan rutin tentang kondisi kesehatan dan keseharian selama menjalankan tugas negara.
Dalam percakapan tersebut, Praka Farizal menunjukkan sosok prajurit yang berbakti. Ia tidak banyak mengeluh mengenai situasi di Lebanon yang semakin tidak menentu. Sebaliknya, ia justru lebih banyak menanyakan kondisi keluarga di Kulon Progo, menunjukkan bahwa meskipun ia berada di zona konflik, perhatiannya tetap tercurah pada orang-orang yang ia cintai.
Permintaan Doa: Senjata Utama Sang Prajurit
Sebelum tragedi yang merenggut nyawanya terjadi, pesan terakhir Praka Farizal ke ayah dan keluarga besarnya sangatlah sederhana namun menyentuh hati. Ia tidak meminta barang mewah atau kemudahan, melainkan meminta doa selamat agar dirinya bisa kembali ke tanah air dengan selamat setelah masa tugasnya berakhir.
- Permintaan Utama: Doa restu orang tua agar selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
- Harapan: Bisa kembali berkumpul bersama istri tercinta, Azila, dan keluarga besar di Indonesia.
- Sikap: Tetap profesional meski menyadari risiko tinggi di medan operasi.
Permintaan doa ini mencerminkan karakter Praka Farizal sebagai sosok yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Ia sadar sepenuhnya bahwa tugas yang diembannya penuh dengan risiko, namun ia memilih untuk fokus pada tugas negara dan menjaga kedekatan batin dengan keluarga melalui untaian doa.

Kehangatan di Balik Jarak: Pesan untuk Sang Istri
Tidak hanya kepada sang ayah, pesan terakhir juga dititipkan kepada istrinya, Azila. Komentar-komentar sederhana yang sering ia kirimkan melalui pesan digital kini menjadi bukti betapa hangatnya hubungan keluarga kecil mereka. Jarak ribuan kilometer antara Lebanon dan Indonesia tidak menyurutkan kasih sayang yang ia berikan.
Kepergian Praka Farizal akibat proyektil serangan IDF menjadi pengingat keras bagi dunia internasional tentang bahayanya konflik yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian. Bagi keluarga, kepergiannya adalah kehilangan sosok pelindung yang sangat dicintai.
Menanti Kepulangan Jenazah ke Tanah Air
Hingga saat ini, pihak keluarga di Kulon Progo masih menanti kepastian mengenai kapan jenazah Praka Farizal akan tiba di rumah duka. Proses administrasi dan logistik internasional menjadi tantangan tersendiri dalam pemulangan jenazah dari wilayah konflik.
Pemerintah Indonesia melalui TNI terus berkoordinasi dengan pihak PBB dan otoritas terkait untuk memastikan hak-hak almarhum terpenuhi dan jenazah dapat segera dimakamkan dengan penghormatan militer yang layak. Kesabaran keluarga dalam menghadapi situasi ini menjadi contoh keteguhan hati yang luar biasa di tengah duka yang mendalam.
Penghormatan Terakhir untuk Pahlawan Perdamaian
Gugurnya Praka Farizal bukan sekadar statistik dalam daftar korban perang. Ia adalah putra daerah yang membanggakan, seorang suami yang penuh kasih, dan prajurit yang setia pada sumpah jabatannya. Pengabdiannya di Lebanon dalam misi PBB merupakan bentuk nyata dedikasi TNI untuk perdamaian dunia.
Sebagai masyarakat, sudah sepatutnya kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengorbanan yang telah ia berikan. Pesan terakhirnya yang meminta doa agar selamat kembali ke tanah air kini telah terjawab dengan cara yang berbeda—ia “pulang” sebagai pahlawan yang namanya akan terus dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa.
Kesimpulan
Kisah pesan terakhir Praka Farizal ke ayah memberikan kita perspektif baru tentang arti pengabdian. Di balik seragam loreng yang gagah, terdapat hati yang lembut dan kerinduan akan kehangatan keluarga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Selamat jalan, Praka Farizal, dedikasimu akan selalu terpatri di hati rakyat Indonesia.

















