Dunia hukum Indonesia kembali dihebohkan dengan perdebatan mengenai valuasi jasa kreatif dalam persidangan. Nama Wira Arizona, seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Negeri Karo, mendadak viral di berbagai platform media sosial, termasuk Threads, setelah pernyataannya dalam kasus Amsal Sitepu memicu polemik luas di kalangan praktisi industri kreatif.
Kasus yang menyeret Amsal Sitepu ini sejatinya merupakan perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait proyek video profil desa. Namun, fokus publik justru teralihkan pada argumen Wira Arizona yang dinilai meremehkan nilai ekonomi dari sebuah karya seni digital. Lantas, siapakah sosok Wira Arizona sebenarnya dan mengapa pernyataannya dianggap kontroversial?
Mengenal Sosok Wira Arizona: Rekam Jejak dan Karier
Wira Arizona merupakan jaksa muda yang bertugas di Kejaksaan Negeri (Kejari) Karo. Sebagai seorang aparat penegak hukum, ia memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal perkara-perkara yang bersinggungan dengan keuangan negara di wilayah hukumnya. Wira tercatat sebagai lulusan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) tahun 2022.
Sebagai jaksa yang relatif baru di lapangan, penanganan kasus Amsal Sitepu menjadi salah satu ujian besar dalam kariernya. Kasus ini berakar dari proyek pengadaan jasa pembuatan video profil desa yang dianggarkan melalui dana desa pada periode tahun anggaran 2020 hingga 2022. Dalam perjalanannya, proyek ini justru berakhir di meja hijau karena adanya temuan indikasi kerugian negara.
Akar Polemik: Mengapa Jasa Editing Video Dianggap “Nol”?
Kontroversi bermula saat persidangan di Pengadilan Negeri Medan berlangsung. Dalam argumennya, Wira Arizona menyoroti selisih harga yang cukup signifikan antara biaya produksi yang dibayarkan oleh desa dengan nilai yang menurutnya pantas. Amsal Sitepu diketahui menawarkan jasa produksi video kepada sekitar 20 desa dengan nominal sekitar Rp30 juta per desa.

Pernyataan yang memicu kemarahan komunitas kreatif adalah ketika Wira disebut-sebut menganggap jasa editing video tersebut tidak memiliki nilai ekonomi atau “bernilai nol”. Bagi kalangan videografer, editor, dan pekerja kreatif, pernyataan ini dianggap sebagai bentuk ketidakpahaman terhadap proses kreatif yang melibatkan tenaga, waktu, alat, hingga keahlian teknis (skill) yang mahal.
Analisis Perspektif Hukum vs Industri Kreatif
Dalam sudut pandang hukum pidana, jaksa memang dituntut untuk menghitung kerugian negara secara objektif. Namun, tantangan muncul ketika objek yang dinilai adalah “jasa” atau “karya seni”. Berikut adalah poin-poin yang menjadi perdebatan:
- Subjektivitas Nilai: Karya kreatif tidak memiliki harga pasar tetap seperti komoditas fisik. Nilai sebuah video ditentukan oleh branding, kualitas produksi, dan output yang dihasilkan.
- Keahlian Khusus: Menganggap jasa editing bernilai nol berarti mengabaikan nilai intellectual property dan biaya operasional yang dikeluarkan oleh penyedia jasa.
- Standar Audit: Seringkali, auditor negara menggunakan standar harga barang (perangkat keras) untuk menilai sebuah jasa kreatif, yang seringkali tidak relevan dengan realita industri.

Mengapa Kasus Ini Penting di Tahun 2026?
Kasus yang ditangani Wira Arizona ini menjadi preseden penting di tahun 2026. Di era ekonomi digital, di mana jasa konten kreator menjadi bagian dari pengadaan barang dan jasa pemerintah, diperlukan aturan yang lebih jelas mengenai cara menghitung nilai jasa kreatif agar tidak terjadi kriminalisasi terhadap para pelaku industri kreatif.
Perdebatan ini juga menyoroti pentingnya peran saksi ahli di bidang kreatif dalam persidangan. Jika jaksa hanya berpegang pada audit keuangan konvensional tanpa melibatkan ahli industri, maka kesimpulan yang diambil berpotensi merugikan pihak penyedia jasa yang bekerja secara profesional.
Kesimpulan: Pembelajaran bagi Aparat dan Praktisi
Kasus Amsal Sitepu yang melibatkan Wira Arizona sebagai JPU bukan sekadar perkara hukum biasa. Ini adalah refleksi dari ketimpangan pemahaman antara dunia penegakan hukum dan dunia industri kreatif modern. Penting bagi aparat penegak hukum untuk lebih terbuka terhadap dinamika ekonomi kreatif agar setiap tuntutan hukum yang diajukan memiliki dasar yang kuat dan adil bagi semua pihak.
Bagi publik, sosok Wira Arizona menjadi pengingat bahwa di balik setiap kasus korupsi, terdapat proses hukum yang kompleks di mana interpretasi nilai (valuation) memegang peranan krusial dalam menentukan nasib seseorang di mata hukum.

















