Memasuki tahun 2026, dunia industri di Indonesia kembali menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik global. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah telah memicu disrupsi pada rantai pasok energi dunia. Dampak paling nyata yang dirasakan oleh pelaku usaha di tanah air adalah lonjakan harga plastik yang cukup signifikan, sebuah fenomena yang kini menjadi perhatian serius bagi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kalimantan Selatan.
Ketergantungan industri manufaktur terhadap bahan baku berbasis petrokimia membuat sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana eskalasi konflik di Timur Tengah merembet ke lini produksi domestik dan langkah apa yang harus diambil oleh para pelaku usaha untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi 2026.
Mengapa Konflik Timur Tengah Memicu Kenaikan Harga Plastik?
Secara fundamental, plastik merupakan produk turunan dari industri petrokimia yang bahan bakunya berasal dari minyak bumi dan gas alam. Ketika terjadi ketegangan di Timur Tengah—wilayah yang menjadi jantung pasokan energi global—jalur distribusi minyak menjadi terhambat.
<img alt="Melihat Dampak Eskalasi Perang Timur Tengah ke Perekonomian RI" src="https://mmc.tirto.id/image/otf/1240×0,q70/2024/10/01/2024-09-30t161728z1727713044dpaf240930x911x015812rtrfipp4politics-conflict-war-unrestratio-16×9.jpg” style=”max-width:100%; height:auto; border-radius:8px; margin: 1rem 0;” />
Ketidakpastian ini memicu spekulasi pasar yang mendorong kenaikan harga minyak mentah secara tajam. Akibatnya, biaya produksi bahan baku plastik (seperti polypropylene dan polyethylene) melambung tinggi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di skala global, tetapi dampaknya langsung menghantam industri kemasan dan manufaktur di Indonesia.
Rantai Dampak pada Industri Nasional:
- Kenaikan Biaya Produksi: Produsen harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk mendapatkan bahan baku.
- Kelangkaan Pasokan: Terhambatnya jalur distribusi energi global menyebabkan keterlambatan pengiriman bahan baku ke pabrik-pabrik di Indonesia.
- Tekanan Inflasi: Kenaikan harga plastik akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir melalui kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan kemasan produk.
Sorotan APINDO Kalsel: Tantangan Industri di Daerah
Ketua APINDO Kalimantan Selatan, Winardi Sethiono, secara tegas menyoroti bahwa dampak dari konflik ini tidak hanya terasa di pusat industri besar seperti Jawa, tetapi juga menekan sektor UMKM dan industri manufaktur di Kalimantan Selatan. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku plastik sebesar 40% di beberapa wilayah telah memukul margin keuntungan pelaku usaha secara drastis.
“Kondisi ini sangat membebani biaya operasional. Pelaku industri di daerah kini berada di posisi sulit; antara harus menaikkan harga jual yang berisiko menurunkan daya beli, atau menanggung kerugian demi menjaga stabilitas pasar,” ujar Winardi.

Selain masalah harga, APINDO Kalsel juga mencatat adanya disrupsi distribusi yang membuat operasional pabrik menjadi tidak efisien. Di tahun 2026 ini, ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi titik lemah utama yang perlu segera dibenahi melalui hilirisasi industri petrokimia dalam negeri.
Dampak pada Sektor UMKM dan Pedagang Kecil
Tidak hanya industri besar, para pedagang plastik eceran dan pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan plastik juga menjerit. Di banyak daerah, kenaikan harga bahan baku plastik telah memicu efek domino. Pedagang plastik di Surabaya dan kota-kota besar lainnya melaporkan penurunan volume penjualan karena banyak pelaku industri kecil yang mengurangi produksi akibat mahalnya biaya kemasan.
- Efek Domino ke Harga Pangan: Karena banyak produk makanan menggunakan kemasan plastik, kenaikan harga plastik berkontribusi pada kenaikan harga jual produk makanan di pasar.
- Penurunan Daya Saing: Produk lokal Indonesia terancam kalah bersaing dengan produk impor yang mungkin memiliki efisiensi biaya lebih baik dalam rantai pasok global.
Strategi Bertahan di Tengah Badai Geopolitik
Melihat situasi tahun 2026 yang penuh tantangan, pelaku industri dituntut untuk lebih adaptif. Beberapa langkah strategis yang disarankan oleh para pakar ekonomi dan asosiasi industri meliputi:
- Diversifikasi Bahan Baku: Mulai melirik bahan kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan atau berbasis material nabati (bioplastik) yang tidak terlalu bergantung pada harga minyak bumi.
- Efisiensi Produksi: Melakukan optimalisasi pada lini produksi untuk menekan limbah (waste) yang dapat meminimalisir penggunaan bahan baku plastik.
- Penguatan Rantai Pasok Lokal: Mendorong pemerintah untuk mempercepat kemandirian industri petrokimia nasional agar tidak terus-menerus terpaku pada pasar internasional yang volatil.
- Negosiasi Harga: Melakukan kontrak jangka panjang dengan pemasok untuk mendapatkan kepastian harga dan pasokan, meskipun dengan risiko tertentu.
Kesimpulan
Lonjakan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah adalah pengingat keras bagi Indonesia akan pentingnya kedaulatan industri. APINDO Kalsel dan pelaku industri lainnya berharap adanya intervensi kebijakan yang lebih konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku di tingkat domestik.
Tanpa langkah mitigasi yang tepat, industri manufaktur dan UMKM akan terus menjadi korban dari ketegangan geopolitik yang berada di luar kendali mereka. Di tahun 2026 ini, inovasi dan efisiensi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan hidup di tengah badai ekonomi global.

















