Dinamika pasar modal Indonesia pada pertengahan Januari 2026 menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan, khususnya pada sektor perbankan digital yang selama ini menjadi primadona bagi para investor ritel maupun institusi. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu, 21 Januari 2026, sejumlah emiten bank digital papan atas mengalami koreksi harga yang cukup tajam. Saham PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI), misalnya, harus rela ditutup melemah sebesar 0,67 persen, yang membawa posisinya parkir di level 1.490 per lembar saham. Meskipun terjadi penurunan harian, secara agregat bulanan atau Month-to-Month (MtM), performa BBHI sebenarnya masih menunjukkan tren positif dengan kenaikan tipis sebesar 15 basis poin atau setara dengan 1,02 persen. Hal ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek oleh pelaku pasar setelah saham ini sempat mengalami reli di awal tahun.
Kondisi serupa juga menyelimuti pergerakan saham PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), yang mencatatkan koreksi lebih dalam dibandingkan rekan sejawatnya. Saham BBYB terpangkas sebesar 3,28 persen dan terdorong jatuh ke level 472 pada penutupan perdagangan hari itu. Menariknya, jika ditarik garis lurus secara bulanan, harga saham BBYB tercatat stagnan alias tidak mengalami perubahan nilai sama sekali atau 0 persen (MtM). Sementara itu, emiten pendatang baru di kancah perbankan digital tanah air, yakni PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA), juga tidak luput dari tekanan jual yang masif. Saham SUPA merosot hingga 3,46 persen menuju level 1.115 per lembar. Kendati demikian, SUPA masih memegang predikat sebagai emiten dengan performa bulanan paling impresif di antara ketiganya, di mana secara MtM saham ini masih membukukan kenaikan signifikan sebesar 65 basis poin atau tumbuh 6,19 persen.
Anatomi Pelemahan IHSG dan Sentimen Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Pelemahan kolektif pada saham-saham perbankan digital ini terjadi di tengah situasi pasar yang sangat dinamis, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja mencetak sejarah baru. Pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, IHSG berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) dengan menyentuh angka 9.134,70. Pencapaian ini didorong oleh penguatan tipis 0,01 persen yang dimotori oleh lonjakan harga komoditas global, terutama emas, yang menjadi instrumen lindung nilai utama bagi para investor. Namun, euforia tersebut terbukti berumur pendek. Hanya berselang satu hari, tepatnya pada Rabu, 21 Januari 2026, IHSG justru berbalik arah secara drastis dengan terkoreksi sedalam 1,36 persen atau kehilangan 124,37 poin, yang memaksa indeks kembali ke level psikologis 9.010,33.
Penurunan tajam IHSG ini terjadi secara simultan dengan pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen. Keputusan otoritas moneter ini diambil dengan pertimbangan matang untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang tengah menghadapi tekanan global, sekaligus memastikan sasaran inflasi tetap berada dalam rentang kendali pemerintah. Bank Indonesia menegaskan bahwa kebijakan moneter yang bersifat pro-stability ini tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas dunia yang sulit diprediksi.
Dari perspektif analisis teknikal, Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, memberikan pandangan mendalam mengenai pergerakan indeks. Menurutnya, sinyal pelemahan IHSG sebenarnya sudah mulai terdeteksi sejak sesi pertama perdagangan Rabu pagi, bahkan sebelum Bank Indonesia secara resmi merilis keputusan suku bunga mereka. Pada jeda siang, IHSG sudah terpantau melemah 1,24 persen ke level 9.021,48. Valdy menyoroti bahwa secara teknikal, indeks komposit telah mengalami kondisi breaklow support pada indikator Moving Average 5 (MA5). Kondisi ini diperparah dengan adanya penyempitan histogram pada indikator MACD di zona positif, serta indikator Stochastic RSI yang menunjukkan pergerakan turun dari area jenuh beli (overbought). Dengan indikator-indikator tersebut, pasar cenderung melakukan konsolidasi yang cukup dalam sebelum menemukan titik keseimbangan baru.
Dampak Fluktuasi Rupiah dan Proyeksi Ekspansi Kredit Perbankan 2026
Analyst dari Infovesta Utama, Ekky Topan, turut memberikan catatan kritis mengenai pengaruh nilai tukar terhadap pasar modal. Ia berpendapat bahwa pelemahan Rupiah menjadi sentimen negatif yang cukup dominan bagi sebagian besar sektor, namun memberikan keuntungan bagi emiten yang berorientasi ekspor. Sektor-sektor seperti pertambangan emas, nikel, batu bara, hingga produsen Crude Palm Oil (CPO) justru mendapatkan angin segar dari pelemahan mata uang domestik. Sebaliknya, sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, seperti industri barang konsumsi (consumer goods), farmasi, dan manufaktur, harus menghadapi tekanan margin akibat membengkaknya biaya produksi. Bagi sektor perbankan sendiri, Ekky menilai dampaknya secara fundamental relatif netral, namun sensitivitas terhadap arus modal asing tetap tinggi mengingat porsi kepemilikan investor luar negeri di bank-bank besar Indonesia masih sangat dominan.
Di sisi lain, potret kinerja intermediasi perbankan nasional menunjukkan performa yang cukup menggembirakan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi persnya mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit pada Desember 2025 berhasil mencapai angka 9,69 persen secara tahunan (Year on Year/YoY). Angka ini menunjukkan akselerasi yang signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada November 2025 yang hanya sebesar 7,74 persen (YoY). Pertumbuhan ini berada dalam koridor target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk tahun 2025, yakni di kisaran 8 persen hingga 11 persen. Secara lebih terperinci, kredit investasi tercatat tumbuh paling perkasa sebesar 21,06 persen, disusul oleh kredit konsumsi sebesar 6,58 persen, dan kredit modal kerja yang tumbuh 4,52 persen.
Meskipun pertumbuhan kredit menunjukkan tren positif, Bank Indonesia mencatat masih terdapat ruang ekspansi yang sangat besar bagi dunia usaha. Hal ini terlihat dari tingginya angka undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang telah disetujui namun belum ditarik oleh debitur, yang mencapai Rp2.439,2 triliun atau sekitar 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Dari sisi likuiditas, perbankan Indonesia berada dalam kondisi yang sangat sehat dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57 persen, didukung oleh pertumbuhan DPK sebesar 13,83 persen (YoY). Untuk tahun 2026, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit akan semakin melesat di kisaran 8 persen hingga 12 persen, seiring dengan koordinasi intensif antara BI, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam mengoptimalkan struktur suku bunga nasional.
| Emiten Bank Digital | Harga Penutupan | Perubahan Harian (%) | Perubahan Bulanan (%) |
|---|---|---|---|
| PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) | 1.490 | -0,67% | +1,02% |
| PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) | 472 | -3,28% | 0,00% |
| PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) | 1.115 | -3,46% | +6,19% |
Secara keseluruhan, meskipun pasar saham mengalami guncangan jangka pendek yang menyebabkan koreksi pada sektor perbankan digital dan indeks utama, fundamental ekonomi makro Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat. Likuiditas perbankan yang melimpah dan optimisme terhadap pertumbuhan kredit menjadi fondasi penting bagi stabilitas sektor keuangan di masa depan. Investor kini menantikan langkah-langkah strategis selanjutnya dari otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi global yang kian kompleks.


















