Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah meluncurkan investigasi mendalam menyusul insiden hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT. Penyelidikan ini dimulai segera setelah laporan hilangnya pesawat diterima, menandai respons cepat dari otoritas keselamatan penerbangan nasional. Dalam langkah awal yang krusial, KNKT segera mengerahkan dua investigator berpengalaman ke lapangan. Misi mereka adalah mengumpulkan data dan informasi komprehensif dari berbagai pihak terkait, termasuk penyelenggara navigasi penerbangan yang bertanggung jawab atas lalu lintas udara, operator pesawat udara IAT yang mengoperasikan pesawat nahas, serta para pendaki yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian pada saat kecelakaan tragis itu berlangsung. Pendekatan multi-sumber ini sangat penting untuk membangun gambaran awal yang akurat mengenai kondisi dan peristiwa yang mendahului insiden tersebut, mulai dari komunikasi terakhir dengan menara kontrol hingga potensi kesaksian visual dari darat.
Mengungkap Misteri Kotak Hitam: Jantung Investigasi Kecelakaan Udara
Fokus utama investigasi KNKT saat ini tertuju pada pengunduhan data vital dari kotak hitam atau black box pesawat yang jatuh. Perangkat ini, yang sebenarnya berwarna oranye terang untuk memudahkan pencarian, adalah inti dari setiap penyelidikan kecelakaan udara, menyimpan rekaman krusial yang dapat mengungkap detik-detik terakhir penerbangan. Menurut Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, proses identifikasi dan analisis data dari kotak hitam ini diharapkan akan memberikan keterangan yang sangat jelas dan rinci mengenai kronologi hilangnya kontak pesawat. Data ini akan menjadi tulang punggung dalam merekonstruksi peristiwa, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab, dan memahami bagaimana serangkaian kejadian tersebut berujung pada kecelakaan. Para ahli forensik penerbangan akan bekerja keras untuk mengekstrak setiap bit informasi, tidak peduli seberapa rusak kondisi fisik kotak hitam tersebut.
Adapun kotak hitam pesawat terdiri dari dua komponen utama yang saling melengkapi fungsinya: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). FDR adalah perangkat yang secara sistematis merekam ratusan parameter data penerbangan, mencakup kecepatan udara, ketinggian, arah, posisi kemudi, kinerja mesin, tekanan hidrolik, dan banyak lagi, biasanya dengan interval beberapa detik. Data ini memungkinkan investigator untuk merekonstruksi lintasan penerbangan pesawat secara presisi, menganalisis kinerja sistem pesawat, dan mengidentifikasi anomali teknis yang mungkin terjadi. Sementara itu, CVR bertugas merekam semua suara di dalam ruang kemudi pesawat udara, termasuk percakapan antara pilot, komunikasi dengan menara kontrol lalu lintas udara, serta suara-suara latar seperti alarm, deru mesin, atau suara benturan. Rekaman CVR sangat berharga untuk memahami pengambilan keputusan kru, kesadaran situasional mereka, dan interaksi internal di kokpit pada saat-saat kritis sebelum kecelakaan. Kombinasi data dari FDR dan CVR memberikan gambaran holistik yang tak tergantikan dalam mengungkap penyebab kecelakaan penerbangan.
Misi Non-Punitive KNKT: Mencari Akar Penyebab, Bukan Kesalahan
Soerjanto Tjahjono juga menegaskan filosofi utama di balik setiap investigasi yang dilakukan KNKT. Ia menyatakan bahwa penyelidikan ini murni dilakukan untuk mencari penyebab kecelakaan dan merumuskan rekomendasi tindakan keselamatan yang konkret. “Investigasi yang dilakukan KNKT sepenuhnya bertujuan untuk mencari penyebab terjadinya kecelakaan, tanpa mencari kesalahan ataupun pertanggungjawaban pihak manapun,” ujarnya. Prinsip non-punitive ini adalah pilar fundamental dalam keselamatan penerbangan global, dirancang untuk mendorong semua pihak, mulai dari pilot hingga teknisi dan manajemen maskapai, untuk memberikan informasi secara jujur dan terbuka tanpa takut akan sanksi hukum atau administratif. Dengan fokus pada identifikasi akar penyebab dan faktor-faktor berkontribusi, KNKT dapat mengeluarkan rekomendasi yang efektif untuk mencegah insiden serupa di masa depan, yang dapat mencakup perubahan prosedur operasional, peningkatan standar pelatihan, modifikasi desain pesawat, atau perbaikan regulasi penerbangan. Tujuan akhir adalah meningkatkan tingkat keselamatan penerbangan secara keseluruhan, bukan untuk menghukum individu atau entitas.
Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan adalah pesawat turboprop regional yang dikenal luas untuk penerbangan jarak pendek dan menengah, sering digunakan di wilayah dengan infrastruktur bandara yang terbatas. Pesawat ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), sebuah maskapai yang biasanya melayani penerbangan charter dan kargo, serta mendukung operasi khusus. Dengan registrasi PK-THT, pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak saat berada dalam fase penerbangan yang sangat kritis: pendekatan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Fase pendekatan dan pendaratan dikenal sebagai salah satu tahapan penerbangan dengan beban kerja kru tertinggi dan memerlukan presisi navigasi yang cermat. Setelah dinyatakan hilang, upaya pencarian intensif mengarah pada penemuan puing-puing pesawat yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, sebuah area dengan medan yang menantang di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Lokasi kecelakaan di daerah pegunungan ini menambah kompleksitas pada operasi pencarian, penyelamatan, dan evakuasi.
Pada saat insiden hilangnya kontak, pesawat ATR 42-500 tersebut membawa total 10 orang di dalamnya. Komposisi penumpang dan kru terdiri dari tujuh kru pesawat yang bertugas mengoperasikan penerbangan, termasuk pilot, kopilot, dan staf pendukung lainnya. Selain kru, terdapat tiga penumpang yang merupakan pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ketiga pegawai KKP ini sedang dalam perjalanan untuk menjalankan tugas penting pengawasan di wilayah perairan Makassar. Misi mereka kemungkinan melibatkan pemantauan aktivitas perikanan, penegakan hukum terhadap penangkapan ikan ilegal, atau penelitian kelautan, menunjukkan bahwa penerbangan ini memiliki tujuan khusus yang terkait dengan kepentingan negara. Keberadaan mereka di pesawat menyoroti dampak insiden ini tidak hanya pada industri penerbangan tetapi juga pada sektor pemerintahan dan tugas-tugas vital yang mereka emban.

















