Pada hari Jumat, 23 Januari 2026, Pulau Kalimantan menjadi saksi bisu dari dua peristiwa gempa bumi signifikan yang terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat, memicu perhatian serius terhadap dinamika geologi di wilayah yang selama ini kerap diidentikkan dengan stabilitas seismik. Kedua guncangan tersebut, yang sama-sama berpusat di daratan, menghadirkan kompleksitas tektonik regional dan menggarisbawahi urgensi pemantauan seismik yang berkelanjutan. Intensitas guncangan terkuat yang terukur mencapai skala III hingga IV Modified Mercalli Intensity (MMI), sebuah tingkatan di mana getaran dapat dirasakan secara nyata oleh banyak individu di dalam bangunan, bahkan menciptakan ilusi seolah-olah sebuah kendaraan berat seperti truk sedang melintas di dekatnya. Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa meskipun Kalimantan tidak terletak langsung di sabuk gempa utama seperti pulau-pulau di Cincin Api Pasifik, potensi aktivitas seismik internal tetap ada dan memerlukan perhatian khusus.
Menguak Guncangan di Barat Kalimantan: Gempa Sekadau dan Sesar Adang
Gempa pertama yang tercatat pada hari itu memiliki kekuatan Magnitudo (M) 4,8. Pusat gempa ini berlokasi di darat, sekitar 89 kilometer sebelah timur dari kota Sekadau, yang merupakan salah satu kabupaten penting di Provinsi Kalimantan Barat. Karakteristik paling menonjol dari gempa ini adalah kedalaman hiposenternya yang sangat dangkal, hanya sekitar 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Kedalaman yang minim ini secara geofisika sangat berpengaruh terhadap persepsi guncangan di permukaan. Gempa dangkal, meskipun dengan magnitudo menengah seperti M4,8, cenderung melepaskan energinya dalam jarak yang lebih pendek ke permukaan, sehingga efek guncangan yang dirasakan oleh penduduk dan bangunan seringkali lebih intens dibandingkan dengan gempa yang lebih dalam dengan magnitudo serupa atau bahkan lebih besar.

















