| Parameter Sistem | Bibit Siklon Tropis 91S | Bibit Siklon Tropis 92P |
|---|---|---|
| Lokasi Lokasi | Samudra Hindia (Selatan Sumbawa) | Teluk Carpentaria |
| Tekanan Udara Minimum | 1.004 hPa | 1.008 hPa |
| Kecepatan Angin Maksimum | 30 Knot | 15 Knot |
| Potensi Menjadi Siklon (24-72 Jam) | Sedang | Rendah |
Gelombang Atmosfer Ekuatorial: MJO, Rossby, dan Kelvin
Kekuatan cuaca ekstrem ini semakin diperkuat oleh kehadiran gelombang atmosfer ekuatorial yang aktif secara bersamaan. Fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) saat ini dilaporkan sedang aktif melintasi wilayah perairan Indonesia. MJO adalah sebuah gangguan atmosfer yang bergerak ke arah timur di wilayah tropis dan memiliki siklus hidup sekitar 30 hingga 60 hari. Kehadiran MJO di fase aktif di atas Indonesia secara langsung meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan berskala besar. Kondisi ini seperti memberikan “dorongan ekstra” bagi sistem cuaca lokal untuk berkembang menjadi badai guntur yang lebih kuat dan tahan lama.
Tidak berhenti di situ, BMKG juga mendeteksi aktivitas Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin yang bergerak melintasi wilayah Sumatera Barat, Selat Malaka, hingga mencapai perairan Dumai. Gelombang Rossby memiliki sifat bergerak ke arah barat dan cenderung menciptakan area tekanan rendah yang mendukung pengumpulan massa udara basah. Sementara itu, Gelombang Kelvin bergerak ke arah timur dengan kecepatan yang lebih tinggi. Kombinasi unik dari ketiga jenis gelombang atmosfer ini—MJO, Rossby, dan Kelvin—menciptakan apa yang disebut oleh para ahli meteorologi sebagai “superposisi gelombang”. Interaksi ini berkontribusi besar pada peningkatan aktivitas konvektif yang sangat intens, yang memicu potensi hujan lebat yang merata di kawasan Sumatera dan Jawa bagian barat.
Sebagai kesimpulan dari analisis mendalam ini, BMKG menegaskan bahwa sinergi antara faktor global seperti La Nina lemah, faktor regional berupa bibit siklon tropis, serta faktor gelombang atmosfer ekuatorial telah menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil. Untuk wilayah Jabodetabek, periode 24-26 Januari 2026 merupakan jendela waktu di mana risiko bencana hidrometeorologi mencapai titik tertinggi. Masyarakat diharapkan untuk selalu waspada terhadap potensi dampak seperti banjir, tanah longsor di wilayah perbukitan Bogor, serta gangguan transportasi akibat genangan air. Pastikan untuk selalu mengikuti pembaruan informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG dan kanal komunikasi resmi lainnya guna meminimalisir risiko yang mungkin terjadi di tengah kondisi alam yang dinamis ini.


















