Krisis kemanusiaan yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pascabencana banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025 telah mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan, terutama terkait akses terhadap air bersih. Di tengah keputusasaan tersebut, Fitri Susanti, seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Karang Baru, berkali-kali melontarkan ucapan syukur yang mendalam. Selama lebih dari satu bulan, ia dan keluarganya terpaksa berjibaku dengan sisa-sisa lumpur dan air yang terkontaminasi demi kelangsungan hidup. Kehadiran sumber air bersih yang layak konsumsi menjadi oase di tengah padang penderitaan mereka. Fitri mengungkapkan bahwa air tersebut sangat krusial, terutama untuk membuat susu formula bagi buah hatinya yang masih balita. Selama masa darurat, ia mengaku sangat kesulitan mendapatkan air minum yang aman, sementara bantuan yang datang seringkali tidak mencukupi kebutuhan harian yang mendesak. Pada Jumat, 9 Januari, Fitri terlihat dengan penuh kehati-hatian menampung air dari sebuah instalasi teknologi yang menjadi penyelamat bagi ratusan warga lainnya.
Penyelamat yang dimaksud adalah Instalasi Pengolahan Air Mobile (IPA Mobile), sebuah inovasi teknologi mutakhir yang diterjunkan langsung oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) ke jantung wilayah terdampak di Aceh Tamiang. Alat ini bukan sekadar mesin penyaring biasa; ia dirancang khusus untuk menghadapi skenario bencana ekstrem di mana sumber air baku biasanya sangat keruh dan tercemar. Dengan memanfaatkan air dari Sungai Tamiang yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan—berwarna cokelat pekat dan dipenuhi material lumpur sisa banjir—IPA Mobile mampu melakukan transformasi fisik dan kimiawi hanya dalam hitungan menit. Proses yang biasanya memakan waktu lama di instalasi pengolahan air konvensional, kini dapat dipangkas secara signifikan sehingga air jernih dapat langsung didistribusikan secara gratis kepada warga yang telah lama menderita akibat kelangkaan air. Sebelum alat ini tiba, warga Karang Baru harus menempuh cara-cara yang tidak higienis, seperti mengendapkan air sungai secara manual di wadah-wadah terbuka atau berjalan kaki berkilo-kilometer mencari bantuan air bersih yang seringkali berujung pada kekecewaan karena stok yang terbatas.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan IPA Mobile ITB dalam Kondisi Darurat
Secara teknis, IPA Mobile ITB merupakan mahakarya teknik lingkungan yang mengedepankan efisiensi dan mobilitas tinggi. Dirancang dengan dimensi yang relatif kompak—panjang, lebar, dan tinggi sekitar 2 meter—alat ini sangat mudah dimobilisasi menggunakan truk standar menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Di Kecamatan Karang Baru, unit ini ditempatkan strategis sekitar 30 meter dari bibir Sungai Tamiang. Mekanisme kerjanya dimulai dengan penggunaan mesin pompa bertenaga tinggi yang menyedot air baku langsung dari sungai. Air tersebut kemudian dialirkan melalui selang-selang menuju wadah persegi yang berisi sistem sekat dan komponen filtrasi berlapis. Di sinilah proses pemurnian inti berlangsung, menggunakan teknologi high-rate yang mampu memisahkan partikel padat dan polutan dengan kecepatan tinggi. Hasilnya sangat impresif: alat ini mampu memproduksi air bersih hingga 2 liter per detik, atau setara dengan 7.000 liter per jam. Kapasitas masif ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air bersih harian bagi 800 hingga 1.600 orang penyintas bencana, sebuah angka yang sangat signifikan dalam upaya mitigasi dampak kesehatan pascabencana.
Kualitas air yang dihasilkan pun tidak main-main dan telah melalui pengujian ketat. Tingkat kejernihan air hasil olahan IPA Mobile tercatat berada pada angka 0.19 Nephelometric Turbidity Unit (NTU), sebuah standar yang jauh melampaui rata-rata air sumur warga yang telah tercemar. Bahkan, alat ini dilengkapi dengan instrumen tambahan yang memungkinkan air hasil olahan langsung dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dahulu, meskipun dalam kondisi darurat warga tetap disarankan untuk memasaknya sebagai langkah preventif tambahan. Diah, salah seorang warga setempat, memberikan testimoni bahwa rasa air yang dihasilkan jauh lebih baik dan segar dibandingkan air sumur bor di wilayahnya yang cenderung berbau lumpur atau besi. Pengoperasian alat di lapangan dikawal langsung oleh personel berpengalaman dari Bandung, yakni Yudo Rianto dan Adi Bowo. Meskipun menghadapi kendala logistik kecil seperti keterbatasan jumlah tandon air dan panjang selang untuk distribusi ke tenda-tenda pengungsian yang lebih jauh, tim teknis ITB terus berupaya mengoptimalkan aliran air agar warga tidak perlu mengantre terlalu lama di lokasi mesin.
Sejarah Pengembangan dan Landasan Regulasi Teknologi Portabel
Inovasi IPA Mobile ITB bukanlah proyek instan, melainkan hasil riset panjang yang dimulai sejak tahun 2000 oleh dua pakar kenamaan ITB, Profesor Bagus Budiwantoro dan Profesor Edwan Kardena. Ide penciptaan alat ini lahir dari refleksi mendalam atas kerentanan geografis Indonesia terhadap bencana alam. Pengalaman pahit saat menangani krisis air bersih pasca-tsunami Aceh tahun 2004 menjadi katalisator utama dalam menyempurnakan teknologi ini. Menurut Profesor Bagus, Indonesia membutuhkan solusi yang bersifat mobile dan respons cepat karena dalam situasi bencana, waktu adalah segalanya. Sistem kerja IPA Mobile mengadopsi teknologi yang digunakan oleh PDAM namun dengan modifikasi radikal agar lebih ringkas dan tahan banting. Dari sisi legalitas dan standar kesehatan, alat ini telah mengantongi hak paten resmi dan hasil produksinya memenuhi kriteria ketat Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/SK/IV/2010 tentang standar kualitas air minum.
Profesor Bagus menekankan bahwa keunggulan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya untuk tetap beroperasi meskipun kualitas air baku sangat buruk. Pada teknologi konvensional, proses pengolahan biasanya harus dihentikan jika tingkat kekeruhan air sungai melampaui ambang batas tertentu, namun IPA Mobile tetap mampu bekerja secara kontinu. Kendati demikian, ia juga mengingatkan bahwa kualitas akhir sangat bergantung pada kandungan kimiawi air baku; jika sungai mengandung logam berat yang ekstrem, diperlukan perlakuan khusus. Untuk saat ini, fokus utama adalah menyediakan air yang aman untuk kebutuhan sanitasi (mandi, cuci, kakus) guna mencegah wabah penyakit kulit yang mulai menyerang warga. Bagi warga seperti Fitri dan Tania, kehadiran teknologi ini adalah jawaban atas doa-doa mereka setelah berminggu-minggu didera diare dan gatal-gatal akibat terpaksa menggunakan air sumur yang telah tercampur limbah banjir.
Respon Pemerintah dan Tantangan Infrastruktur Jangka Panjang
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mencoba mengimbangi kebutuhan mendesak ini dengan berbagai langkah infrastruktur. Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pemulihan akses air bersih adalah prioritas utama dalam fase pascabencana di Sumatra. Saat ini, terdapat proyek pembangunan 24 unit sumur bor yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I di Aceh Tamiang, ditambah 57 titik lainnya oleh Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh. Selain sumur bor, pemerintah juga mengerahkan armada truk tangki dari BNPB dan Damkar setempat untuk mendistribusikan air bersih ke delapan kecamatan terdampak. Namun, upaya ini dianggap masih memiliki celah oleh para pakar. Eko Teguh Paripurno dari UPN Yogyakarta menyoroti adanya “kegagapan” dalam penanganan sanitasi di awal masa darurat, di mana fokus seringkali terlalu berat pada perbaikan fisik bangunan sementara kebutuhan biologis dasar seperti air bersih seringkali terabaikan.
Kritik tajam juga datang dari Avianto Amri, Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI). Ia mempertanyakan efisiensi anggaran pemerintah yang mengalokasikan hingga Rp150 juta untuk satu titik sumur bor baru, sementara banyak sumur warga yang sebenarnya bisa direhabilitasi dengan biaya jauh lebih murah, yakni sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per sumur. Avianto menekankan bahwa restorasi sumur eksisting lebih praktis dan berkelanjutan bagi warga dalam jangka panjang. Tanpa akses air bersih yang memadai dan cepat, para pengungsi di Aceh Tamiang—yang jumlahnya masih mencapai 6.052 orang hingga medio Januari 2026—berada dalam risiko tinggi terkena wabah penyakit menular seperti leptospirosis, ISPA, dan penyakit kulit kronis. Dengan status Tanggap Darurat yang diperpanjang hingga 3 Februari 2026, sinergi antara teknologi inovatif seperti IPA Mobile ITB dan kebijakan pemerintah yang tepat sasaran menjadi kunci utama untuk mencegah krisis kesehatan yang lebih luas di Bumi Muda Sedia.
- Korban banjir Sumatra krisis air bersih, apakah air hujan dan sungai bisa dikonsumsi?
- Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai
- Pemerintah tolak bantuan asing, pemulihan wilayah terdampak banjir-longsor di Sumatra diprediksi butuh 30 tahun
- Pascabanjir dan longsor di Sumatra, warga mencuci di parit – Ancaman penyakit menular mengintai
- Pengungsi Aceh Tamiang kesulitan air bersih, buang air besar di tanah – ‘Saya pakai genangan banjir’
- Gelombang penyakit ancam anak-anak korban banjir Sumatra di tengah capaian imunisasi dasar yang sangat rendah
- Pengungsi Aceh Tamiang kesulitan air bersih, buang air besar di tanah – ‘Saya pakai genangan banjir’
- Korban banjir Sumatra krisis air bersih, apakah air hujan dan sungai bisa dikonsumsi?
- Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai


















