| Indikator Perdagangan | Pekan Sebelumnya | Pekan Ini | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Rata-rata Volume Harian | 60,13 Miliar Saham | 65,73 Miliar Saham | +9,32% |
| Rata-rata Nilai Harian | Rp 32,67 Triliun | Rp 33,85 Triliun | +3,59% |
| Rata-rata Frekuensi Harian | 3,86 Juta Kali | 3,75 Juta Kali | -2,66% |
| Kapitalisasi Pasar | Rp 16.512 Triliun | Rp 16.244 Triliun | -1,62% |
Kontraksi Frekuensi Transaksi dan Penurunan Kapitalisasi Pasar
Di sisi lain, terdapat anomali pada rata-rata frekuensi transaksi harian yang justru mengalami sedikit perubahan ke arah negatif. Frekuensi transaksi harian tercatat turun sebesar 2,66 persen menjadi 3,75 juta kali transaksi, dibandingkan dengan pekan lalu yang mencapai 3,86 juta kali transaksi. Penurunan frekuensi di tengah kenaikan volume dan nilai transaksi ini memberikan sinyal bahwa transaksi yang terjadi di pasar didominasi oleh transaksi dalam jumlah besar (bulk trades), yang kemungkinan besar dilakukan oleh investor institusi atau pengelola dana besar (big fund). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah transaksi secara total berkurang, namun kualitas dan besaran nominal per transaksi mengalami peningkatan yang cukup berarti.
Dampak dari pelemahan IHSG sebesar 1,37 persen tersebut secara langsung menggerus nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data resmi, total kapitalisasi pasar pada penutupan pekan ini tercatat sebesar Rp 16.244 triliun. Angka ini mengalami penyusutan sebesar 1,62 persen jika dibandingkan dengan posisi pada pekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp 16.512 triliun. Penurunan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 268 triliun dalam sepekan ini mencerminkan besarnya tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Penurunan ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pelaku pasar akan pentingnya diversifikasi portofolio di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Secara keseluruhan, meskipun pekan ini ditutup dengan rapor merah bagi IHSG, fundamental pasar modal Indonesia dinilai masih sangat resilien. Pencapaian level tertinggi sepanjang masa di angka 9.134,7 pada awal pekan menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan jangka panjang masih terbuka lebar. Para analis memprediksi bahwa pada pekan depan, pasar akan mencermati rilis data makroekonomi terbaru serta laporan keuangan emiten untuk kuartal IV tahun 2025 yang mulai dipublikasikan. Pergerakan IHSG di bawah level 9.000 ini diharapkan menjadi pijakan baru bagi investor untuk kembali masuk ke pasar (buy on weakness), mengingat likuiditas yang melimpah dan minat investasi yang tetap terjaga tinggi di Bursa Efek Indonesia.


















