Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia secara proaktif menginisiasi sebuah program ambisius yang bertujuan untuk memperluas jangkauan dan pengakuan sineas-sineas Indonesia di kancah perfilman internasional. Inisiatif strategis ini berfokus pada partisipasi aktif para pembuat film Indonesia dalam berbagai festival film bergengsi di seluruh dunia. Rencana jangka panjang mencakup pengikutsertaan mereka dalam beberapa ajang paling prestisius, termasuk Festival Film Cannes yang ikonik, Festival Film Venesia yang bersejarah, Festival Film Internasional Berlin yang berpengaruh, Festival Film Internasional Toronto yang dinamis, Festival Film Sundance yang inovatif, serta Festival Film Fantastis Internasional Gérardmer yang terspesialisasi.
Pilihan Editor: Rahasia Ledakan Film Indonesia
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di Institut Français d’Indonésie (IFI) Thamrin, Jakarta Pusat, pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 2026, menyoroti potensi besar perfilman Indonesia yang ia nilai sangat dinamis dan penuh kreativitas. Namun, ia juga mengamati bahwa keterlibatan industri film Indonesia dengan festival-festival perfilman di Prancis masih tergolong terbatas. “Padahal, ada banyak sineas Indonesia, sutradara, penulis skenario, aktor, produser, yang memiliki aspirasi kuat untuk menembus pasar internasional dan menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Eropa, khususnya dengan Prancis,” ujar Penone. Ia menambahkan bahwa Eropa, dan Prancis khususnya, secara konsisten menunjukkan selera dan minat yang mendalam terhadap karya-karya film yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki keaslian narasi dan estetika yang kuat.
Membangun Jembatan: Sineas Indonesia di Festival Film Prancis
Menyadari adanya potensi yang belum sepenuhnya tergali ini, Duta Besar Penone menekankan pentingnya membangun sebuah jembatan kelembagaan yang kokoh antara kedua negara melalui partisipasi aktif para sineas Indonesia dalam festival-festival film terkemuka di Prancis. “Tentu saja, salah satu panggung paling bergengsi adalah Festival Film Cannes, dan kami telah memulai langkah konkret dari sana dengan mengundang para sineas muda Indonesia yang menunjukkan bakat luar biasa,” jelasnya. Sebagai contoh nyata dari upaya ini, ia menyebutkan pengundangan Yulia Evina, seorang produser film berbakat yang mendapat kehormatan untuk menjadi anggota juri di bagian Cinéma de la Critique pada Festival Film Cannes. Selain itu, film pendek karya Khozy Rizal yang berjudul Basri & Salma in a Never-Ending Comedy juga telah berhasil terpilih dan ditayangkan di Festival Film Cannes, menandai sebuah pencapaian signifikan bagi sineas muda Indonesia.
Penone lebih lanjut menjelaskan bahwa Prancis tidak hanya menawarkan Festival Film Cannes sebagai satu-satunya ajang bergengsi, tetapi juga memiliki serangkaian festival film lain yang memiliki spesialisasi dan audiens internasional yang sangat tertarget. Di antara festival-festival tersebut adalah Festival Film Fantastis Internasional Gérardmer, yang secara khusus berfokus pada genre horor dan fantasi, menarik para penggemar dan profesional di bidang tersebut dari seluruh dunia. Ada pula Festival Film Pendek Clermont-Ferrand, yang menjadi platform utama bagi karya-karya film pendek inovatif, serta Festival Annecy, yang diakui secara global sebagai salah satu festival animasi terkemuka. “Dalam konteks setiap festival ini, kami secara aktif mendorong dan memberikan dukungan kepada mahasiswa serta para sineas Indonesia untuk berpartisipasi. Tujuannya adalah agar karya-karya mereka mendapatkan visibilitas yang layak, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk aktif berperan sebagai juri, mengikuti program-program animasi yang mendalam, terlibat dalam sesi pengajaran, serta mengikuti kelas master yang dipimpin oleh para ahli di bidangnya,” papar Penone.
Peran Lokalitas dan Kualitas dalam Film Indonesia
Dalam kesempatan terpisah, sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar, yang dijadwalkan akan hadir sebagai Tamu Kehormatan pada Festival Film Fantastis Internasional Gérardmer ke-33 yang diselenggarakan pada tanggal 27 Januari hingga 1 Februari 2026 di Prancis, memberikan pandangannya mengenai daya tarik festival film di Prancis. Menurut Joko, salah satu aspek yang seringkali menjadi fokus utama dalam seleksi festival film di Prancis adalah tema-tema yang mengangkat aspek lokalitas. “Lokalitas itu sendiri menjadi sebuah daya tarik yang unik bagi mereka,” ungkapnya. Namun, ia juga menambahkan bahwa untuk festival-festival berskala besar seperti Cannes, penekanan utamanya adalah pada kualitas penceritaan dan narasi. “Festival-festival besar seperti Cannes sangat mengutamakan kualitas dalam penuturan ceritanya,” tegasnya. Ia menekankan bahwa aspek lokalitas, ketika dikemas dengan baik, sangat krusial dalam membentuk identitas sebuah film dan memberikan keunikan yang membedakannya dari karya lain.
Rekam Jejak Sineas Indonesia di Panggung Global
Perjalanan karier Joko Anwar di kancah internasional semakin diperkuat dengan partisipasinya dalam acara “Panorama Sinema Indonesia” yang diselenggarakan di Paris pada bulan Desember tahun sebelumnya. Acara ini merupakan pameran retrospektif pertama yang didedikasikan untuk sinema Indonesia, sebuah inisiatif yang dihelat oleh la Cinémathèque française di Paris. Dalam momen yang bersejarah tersebut, Joko Anwar menerima penghargaan bergengsi berupa medali Chevalier dans l’Ordre des Arts et des Lettres dari Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pengakuan personal bagi Joko Anwar, tetapi juga merefleksikan pencapaian kolektif para sineas Indonesia secara keseluruhan.
Joko Anwar mengutarakan bahwa penghargaan tersebut merupakan bukti nyata dari pencapaian sineas Indonesia yang semakin diakui di kancah internasional. “Ada pencapaian yang signifikan di luar negeri, karena seiring berjalannya waktu, festival-festival film di seluruh dunia semakin giat mencari dan mengapresiasi film-film Indonesia,” ujarnya. Ia memberikan contoh konkret dari tahun ini saja, di mana dua film Indonesia berhasil menembus Festival Film Internasional Berlin (Berlinale), yaitu Ghost in the Cell karya Joko Anwar sendiri dan Monster Pabrik Rambut karya Edwin. Selain itu, film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja juga berhasil terpilih untuk tampil di Festival Film Sundance. “Ini menunjukkan bahwa film-film Indonesia memang sudah sangat dinantikan dan menjadi bagian dari radar para kurator festival internasional,” tutupnya.
Pilihan Editor: Joko Anwar Jadi Tamu Kehormatan di Festival Film Gerardmer


















