Atmosfer membara menyelimuti Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 24 Januari 2026, saat turnamen bergengsi Indonesia Masters memasuki fase krusial di babak semifinal. Fokus publik pecinta bulutangkis tanah air tertuju sepenuhnya pada lapangan utama, di mana pasangan ganda campuran harapan baru Indonesia, Jafar Hidayatullah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, berjuang memperebutkan tiket menuju partai puncak. Menghadapi lawan tangguh asal Denmark, pasangan senior Mathias Christiansen dan Alexander Boje, Jafar/Felisha memikul beban ekspektasi besar untuk mempertahankan tradisi juara di rumah sendiri. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan angka, melainkan ujian mentalitas bagi pasangan muda Indonesia dalam menghadapi tekanan tinggi di hadapan ribuan pendukung fanatik yang memadati tribun “Rumah Bulutangkis” dunia tersebut.
Gim pertama dibuka dengan intensitas luar biasa, di mana kedua pasangan saling bertukar serangan tajam sejak servis pertama dilepaskan. Jafar Hidayatullah tampil sangat agresif di area belakang lapangan, melepaskan smes-smes keras yang beberapa kali gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Mathias Christiansen. Di sisi lain, Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu menunjukkan ketenangan luar biasa di depan net, memotong bola-bola cepat dan memaksa pasangan Denmark melakukan kesalahan sendiri. Kejar-mengejar angka terjadi dengan sangat ketat hingga mencapai poin kritis 20-20. Dalam situasi deuce yang mencekam, Jafar/Felisha berhasil menunjukkan determinasi tinggi dengan mengamankan dua poin beruntun melalui penempatan bola yang cerdik dan pertahanan yang rapat. Kemenangan 22-20 di gim pertama ini sempat membangkitkan asa publik Istora bahwa kejutan besar akan segera tercipta.
Analisis Taktis: Dominasi Pengalaman Denmark di Poin Kritis
Memasuki gim kedua, dinamika pertandingan mulai mengalami pergeseran yang signifikan. Mathias Christiansen dan Alexander Boje, yang kenyang akan pengalaman di turnamen level dunia, mulai mengubah pola permainan mereka menjadi lebih lambat dan penuh taktik. Mereka berhasil meredam agresivitas Jafar dengan menempatkan bola-bola jauh ke sudut lapangan, memaksa pasangan Indonesia melakukan rotasi yang tidak sempurna. Meskipun Jafar/Felisha terus berusaha mengejar dan sempat menyamakan kedudukan di angka belasan, kematangan mental pasangan Denmark menjadi pembeda. Christiansen/Boje sangat jeli memanfaatkan celah di pertahanan Indonesia saat transisi dari menyerang ke bertahan. Pertarungan sengit ini akhirnya harus diselesaikan dengan skor tipis 19-21 untuk keunggulan Denmark, yang sekaligus memaksa pertandingan berlanjut ke babak penentuan atau rubber game.
Kelelahan fisik dan tekanan psikologis mulai terlihat jelas pada gim ketiga bagi kedua pasangan. Jafar/Felisha mencoba mengambil inisiatif serangan di awal gim untuk membangun momentum, namun Christiansen/Boje tampil sangat solid dengan pertahanan yang sulit ditembus. Beberapa kesalahan sendiri (unforced errors) yang dilakukan oleh pasangan Indonesia di momen-momen krusial menjadi keuntungan besar bagi wakil Denmark. Strategi servis dan penerimaan servis yang variatif dari Boje seringkali membuat Felisha kesulitan untuk melakukan serangan balik yang efektif. Meskipun dukungan dari penonton Istora tidak pernah surut, Jafar/Felisha akhirnya harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 17-21. Kekalahan ini secara otomatis menghentikan langkah heroik mereka di semifinal Indonesia Masters 2026, sebuah hasil yang meski pahit, tetap memberikan sinyal positif bagi masa depan ganda campuran Indonesia.
Statistik Pertandingan Semifinal Indonesia Masters 2026
| Aspek Pertandingan | Jafar/Felisha (INA) | Christiansen/Boje (DEN) |
|---|---|---|
| Skor Gim 1 | 22 | 20 |
| Skor Gim 2 | 19 | 21 |
| Skor Gim 3 | 17 | 21 |
| Durasi Pertandingan | 68 Menit | |
| Status Akhir | Terhenti di Semifinal | Melaju ke Final |
Secara mendalam, kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi Jafar Hidayatullah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu mengenai pentingnya konsistensi dalam menjaga ritme permainan di level elit. Meskipun secara teknis mereka mampu mengimbangi permainan kelas dunia, faktor kematangan dalam mengambil keputusan di poin-poin tua masih menjadi catatan yang perlu diperbaiki. Jafar Hidayatullah dalam konferensi pers pasca-pertandingan mengakui bahwa mereka sempat kehilangan fokus di gim kedua saat lawan mengubah strategi. Namun, pencapaian hingga babak semifinal di turnamen sekelas Indonesia Masters merupakan lonjakan prestasi yang signifikan bagi pasangan ini. Mereka telah membuktikan bahwa potensi ganda campuran lapis kedua Indonesia mampu bersaing dengan pemain-pemain top sepuluh besar dunia, asalkan diberikan jam terbang dan pembinaan yang berkelanjutan.
Kegagalan melaju ke partai final memang menjadi kekecewaan bagi publik tuan rumah yang berharap adanya wakil di sektor ganda campuran. Namun, dari perspektif teknis, performa Jafar/Felisha sepanjang turnamen ini patut diapresiasi. Kemampuan mereka dalam menumbangkan beberapa pemain unggulan di babak-babak sebelumnya menunjukkan bahwa proses regenerasi di Pelatnas PBSI mulai membuahkan hasil. Kekalahan dari Mathias Christiansen dan Alexander Boje ini diharapkan menjadi katalisator bagi Jafar/Felisha untuk mengevaluasi kelemahan mereka, terutama dalam aspek ketahanan fisik dan variasi serangan di gim penentu. Dengan usia yang masih relatif muda, perjalanan karier mereka masih sangat panjang, dan pengalaman pahit di Istora Senayan kali ini akan menjadi modal berharga untuk turnamen-turnamen internasional berikutnya di kalender BWF.















