Fenomena atmosferik yang mencekam melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Jumat malam, 23 Januari 2026, hingga Sabtu siang berikutnya. Tanpa didahului oleh tanda-tanda konvensional seperti mendung tebal atau intensitas hujan yang tinggi, angin kencang dengan kekuatan destruktif tiba-tiba menyapu pemukiman warga dan infrastruktur publik. Kejadian ini dikategorikan sebagai anomali cuaca ekstrem karena sifatnya yang terjadi secara mendadak di tengah kondisi langit yang relatif bersih dari awan hujan. Dampak yang ditimbulkan sangat masif, memicu kerusakan infrastruktur di puluhan titik koordinat yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, serta secara tragis merenggut nyawa warga yang tidak sempat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan maupun pohon yang tumbang secara simultan.
Berdasarkan data komprehensif yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY hingga Sabtu siang, 24 Januari 2026, tercatat setidaknya 37 titik lokasi yang mengalami dampak kerusakan signifikan akibat terjangan angin tersebut. Kabupaten Sleman tercatat sebagai wilayah dengan eskalasi kerusakan paling parah, di mana terdapat 29 titik kejadian yang dilaporkan. Sementara itu, wilayah pusat administrasi di Kota Yogyakarta mencatat tujuh titik kerusakan, dan Kabupaten Bantul melaporkan satu titik terdampak. Kejadian ini tidak hanya merusak benda mati, namun juga mencatat catatan kelam dengan adanya dua korban jiwa yang dinyatakan meninggal dunia di wilayah DIY akibat tertimpa material yang roboh saat angin kencang mencapai puncak kecepatannya pada dini hari.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, dalam pernyataan resminya memberikan rincian mendalam mengenai kerusakan fisik yang terjadi di lapangan. Secara akumulatif, terjangan angin ini menyebabkan sedikitnya 32 pohon besar tumbang, yang banyak di antaranya merupakan pohon perindang jalan dengan diameter yang cukup besar. Tumbangnya pohon-pohon ini memicu efek domino, di mana 11 akses jalan utama dan penghubung antar-desa mengalami kelumpuhan total akibat tertutup batang pohon. Selain itu, stabilitas energi di wilayah terdampak juga terganggu menyusul rusaknya 11 jaringan listrik milik PLN yang tertimpa dahan. Sektor pemukiman pun tak luput dari kehancuran, dengan 10 unit rumah warga mengalami kerusakan struktural pada bagian atap dan dinding, serta satu unit kendaraan roda empat dilaporkan ringsek akibat tertimpa objek yang terbang terbawa angin. Tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur segera dikerahkan untuk melakukan asesmen cepat dan penanganan darurat guna memitigasi risiko lanjutan bagi keselamatan penduduk setempat.
Analisis Meteorologi: Pengaruh Siklon Tropis Luana terhadap Kecepatan Angin
Investigasi teknis mengenai penyebab fenomena ini merujuk pada aktivitas atmosfer di lapisan atas. Menurut penjelasan Agustinus Ruruh Haryata, angin kencang yang melanda wilayah DIY dan sekitarnya dipicu oleh pergerakan massa udara yang sangat kuat di lapisan 925 milibar. Pada ketinggian tersebut, kecepatan angin tercatat menembus angka 45 knot, atau setara dengan kurang lebih 83 kilometer per jam. Secara meteorologis, kondisi ini diidentifikasi sebagai dampak tidak langsung dari keberadaan Siklon Tropis Luana yang saat ini tengah aktif di perairan barat laut Australia. Meskipun pusat siklon berada jauh di luar wilayah kedaulatan Indonesia, namun tarikan massa udara dan perbedaan tekanan yang ekstrem menciptakan pola aliran angin kencang yang melintasi wilayah selatan Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Operasi penanganan darurat dilakukan dengan melibatkan sinergi lintas sektoral yang masif. Personel dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bergerak bersama unsur TNI, Polri, Tagana, dan teknisi dari PLN untuk memulihkan kondisi wilayah. Dukungan penuh juga datang dari pemerintah kalurahan, pemerintah kabupaten/kota, serta jaringan relawan kebencanaan yang telah terlatih. Fokus utama dalam fase tanggap darurat ini adalah melakukan evakuasi terhadap warga yang terjebak di area berisiko, pembersihan sisa-sisa pohon tumbang yang memblokade jalan, serta upaya percepatan pemulihan jaringan listrik agar aktivitas ekonomi dan sosial warga dapat kembali normal. Tantangan utama di lapangan adalah banyaknya kabel listrik yang masih beraliran aktif tertimbun dahan pohon, sehingga memerlukan kehati-hatian ekstra dalam proses pembersihannya.
Pihak BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta memberikan catatan tambahan bahwa meskipun angin kencang ini bersifat lokal dan berdurasi sementara, potensi bahaya yang ditimbulkan tidak bisa dipandang sebelah mata karena mampu memicu kerusakan struktural ringan hingga sedang pada bangunan yang tidak kokoh. Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan kolektif, terutama dengan menghindari aktivitas atau berteduh di bawah pohon besar, papan baliho, maupun bangunan tua yang rentan roboh saat angin kencang kembali menerjang secara tiba-tiba. Prediksi terbaru menunjukkan bahwa kecepatan angin diperkirakan akan mengalami tren penurunan secara bertahap dalam beberapa hari ke depan seiring dengan pergeseran posisi Siklon Tropis Luana menjauhi wilayah daratan Australia ke arah samudra yang lebih terbuka.
Eskalasi Dampak di Luar DIY: Korban Jiwa dan Kerusakan di Berbagai Provinsi
Bencana angin kencang ini ternyata tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Yogyakarta saja. Laporan yang dihimpun dari Antara pada Sabtu, 24 Januari 2026, menunjukkan bahwa cuaca ekstrem ini juga melanda beberapa wilayah strategis di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dilaporkan sebanyak tujuh orang warga mengalami luka-luka serius akibat tertimpa pohon tumbang yang terjadi secara serentak di tujuh desa yang tersebar di lima kecamatan berbeda. Insiden di Jember ini menggambarkan betapa luasnya cakupan dampak angin kencang tersebut, di mana pohon-pohon yang tumbang tidak hanya menutup akses jalan raya utama, tetapi juga langsung menghantam rumah-rumah warga saat mereka sedang berada di dalam ruangan, mengakibatkan cedera fisik yang memerlukan penanganan medis intensif.
Tragedi yang lebih memilukan terjadi di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Di kawasan wisata religi Gunung Tidar, lima orang peziarah dilaporkan tertimpa pohon besar yang roboh akibat terjangan angin kencang. Dari kelima korban tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Korban teridentifikasi atas nama Sri Istantini, seorang wanita berusia 64 tahun yang merupakan warga Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang. Kejadian ini sempat menimbulkan kepanikan di area objek wisata tersebut, mengingat banyaknya warga yang tengah melakukan aktivitas di luar ruangan saat cuaca tiba-tiba berubah menjadi ekstrem tanpa adanya peringatan dini berupa hujan lebat.
Dampak Fatal di Jawa Barat dan Trenggalek
Ke arah barat, tepatnya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, angin kencang juga memicu insiden fatal yang melibatkan infrastruktur telekomunikasi. Seorang anak laki-laki berinisial MRP yang baru berusia 11 tahun, warga Kampung Cipicung, Desa Girimukti, Kecamatan Pasirkuda, dilaporkan tewas setelah tertimpa tower telekomunikasi yang roboh. Tower tersebut tidak mampu menahan beban angin yang sangat kuat yang melanda kawasan selatan Cianjur pada Sabtu sore. Robohnya infrastruktur ini menunjukkan bahwa kekuatan angin kali ini mampu meruntuhkan struktur baja yang seharusnya dirancang untuk tahan terhadap cuaca, mengindikasikan bahwa kecepatan angin di lapangan mungkin melebihi rata-rata normal.
Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Seorang pengemudi sepeda motor yang tengah melintas di jalan raya menjadi korban tewas setelah tertimpa pohon tumbang yang tercerabut dari akarnya akibat hempasan angin. Secara keseluruhan, rentetan bencana angin kencang di berbagai daerah ini telah mengakibatkan sedikitnya dua tower telekomunikasi roboh total, puluhan rumah mengalami kerusakan pada bagian atap, serta sejumlah akses jalan antar-provinsi sempat tertutup selama berjam-jam. Pemerintah daerah di masing-masing wilayah terdampak kini tengah berupaya keras untuk melakukan pembersihan dan memberikan santunan serta bantuan logistik bagi para korban yang terdampak langsung oleh bencana hidrometeorologi ini.


















