MADIUN, 17 Januari 2026 – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero, sebagai operator kereta api nasional yang vital, telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa seluruh perjalanan kereta api, baik yang berasal dari maupun melintasi wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, tetap beroperasi sesuai jadwal dan tidak mengalami dampak signifikan akibat genangan air yang melanda jalur antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Meskipun kondisi di jalur Pekalongan-Sragi dilaporkan cukup parah dengan genangan air yang mencapai ketinggian kritis, KAI berhasil memastikan kelancaran operasional untuk rute-rute strategis, khususnya menuju Ibu Kota Jakarta. Pernyataan ini memberikan jaminan penting bagi ribuan penumpang yang mengandalkan moda transportasi kereta api untuk mobilitas antarprovinsi, sekaligus menyoroti kesigapan KAI dalam menghadapi tantangan operasional yang disebabkan oleh faktor alam.
KAI Daop 7 Madiun: Jantung Operasional yang Tangguh di Tengah Tantangan
Manajer Humas KAI Daerah Operasi 7 Madiun, Bapak Tohari, secara lugas menyampaikan bahwa seluruh kereta api jarak jauh (KAJJ) yang berangkat dari wilayah Daop 7 Madiun menuju Jakarta telah diberangkatkan tepat waktu atau sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Daop 7 Madiun sendiri merupakan salah satu daerah operasi KAI yang strategis, mencakup area geografis yang luas di Jawa Timur bagian barat dan Jawa Tengah bagian timur, menjadikannya koridor penting bagi pergerakan logistik dan penumpang antara wilayah timur dan barat Pulau Jawa. Pernyataan dari pejabat setingkat Manajer Humas ini mengindikasikan bahwa KAI telah melakukan koordinasi dan langkah-langkah mitigasi yang efektif untuk menjaga integritas jadwal perjalanan, bahkan ketika sebagian infrastruktur jalur kereta api di wilayah lain mengalami gangguan. Keberangkatan yang “tepat waktu” bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari komitmen KAI terhadap standar pelayanan, efisiensi operasional, dan keandalan yang menjadi harapan utama para pelanggan.
Beberapa kereta api keberangkatan dari Daerah Operasi 7 Madiun yang melintasi atau memiliki rute yang berpotensi terpengaruh oleh kondisi di Sragi-Pekalongan, namun dipastikan berangkat tepat waktu, meliputi sejumlah nama besar yang menjadi tulang punggung transportasi antarkota. Kereta Api Brantas, dengan rute panjang dari Blitar menuju Pasar Senen di Jakarta, misalnya, dipastikan berangkat sesuai jadwal pada pukul 12.55 WIB. Ketepatan waktu yang spesifik ini menunjukkan bahwa KAI mampu menjaga disiplin operasional di tengah situasi yang menantang. Selain Brantas, kereta-kereta lain yang juga dilaporkan berangkat tepat waktu adalah Matarmaja, yang melayani relasi dari Malang menuju Pasar Senen; kemudian Kereta Api Majapahit, yang juga menghubungkan Malang dengan Pasar Senen; serta Kereta Api Brawijaya, yang beroperasi dari Malang menuju Stasiun Gambir di Jakarta. Daftar kereta ini mencakup rute-rute vital yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa Timur dengan pusat ekonomi dan pemerintahan di Jakarta, menggarisbawahi pentingnya menjaga kelancaran operasional pada koridor ini bagi mobilitas nasional.
Menyelami Ancaman Banjir di Jalur Krusial Pekalongan-Sragi
Meskipun perjalanan kereta dari Daop 7 Madiun tidak terdampak, KAI Daerah Operasi 7 Madiun tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi terbaru genangan air yang menutupi jalur kereta api di sekitar Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi. Hal ini menunjukkan pendekatan proaktif KAI dalam mengantisipasi potensi dampak lebih lanjut atau perubahan kondisi di lapangan. Jalur kereta api antara Stasiun Pekalongan dan Sragi memang disebut tidak bisa dilewati akibat tergenang banjir yang melanda wilayah tersebut sejak Sabtu dini hari. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa genangan air telah mencapai batas kepala rel, sebuah indikator kritis yang menandakan potensi bahaya serius bagi operasional kereta api. Bahkan, pada beberapa titik, ketinggian air diketahui sudah mencapai 10 sentimeter di atas rel. Ketinggian air seperti ini dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari gangguan pada sistem persinyalan elektrik, erosi pada fondasi balas (batuan penopang rel), hingga risiko kerusakan pada komponen bawah kereta api dan motor traksi. Kondisi ini secara langsung memaksa KAI untuk menerapkan pembatasan kecepatan atau bahkan penutupan jalur sementara demi keselamatan, yang menunjukkan betapa seriusnya ancaman banjir di lokasi tersebut.
















