Jakarta, IDN Times – Ketegangan diplomatik yang tajam mencuat pada Jumat, 23 Januari 2026, ketika Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, melontarkan kecaman keras terhadap pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Pernyataan Trump, yang secara terang-terangan meremehkan kontribusi signifikan pasukan sekutu dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam misi di Afghanistan, dinilai sebagai tindakan yang menghina dan telah memicu gelombang keterkejutan serta kemarahan di kalangan pejabat tinggi pemerintah Inggris. Reaksi keras ini menggarisbawahi sensitivitas warisan konflik Afghanistan dan peran krusial yang dimainkan oleh sekutu-sekutu AS dalam upaya keamanan global.
Pernyataan yang memicu kontroversi ini pertama kali diungkapkan oleh Donald Trump dalam sebuah wawancara mendalam dengan jaringan televisi Fox News pada hari Kamis, 22 Januari 2026. Dalam kutipan yang kemudian menjadi sorotan utama, Trump menyatakan, “Mereka akan bilang mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan. Dan mereka memang melakukannya, mereka tinggal sedikit di belakang, sedikit menjauh dari garis depan.” Ia melanjutkan dengan nada yang lebih merendahkan, “Kami tidak pernah membutuhkan mereka, kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka.” Pernyataan ini secara implisit meragukan nilai dan keberanian kontribusi militer negara-negara sekutu NATO, yang telah berjuang bersama AS selama bertahun-tahun dalam salah satu konflik terpanjang dalam sejarah modern.
Perdana Menteri Starmer Menggarisbawahi Pengorbanan Prajurit Inggris yang Tak Ternilai
Menanggapi pernyataan Trump yang dianggap meremehkan, Perdana Menteri Keir Starmer memilih untuk menyampaikan tanggapannya melalui sebuah pesan video yang disiarkan secara luas. Dalam pesan tersebut, Starmer memulai dengan memberikan penghormatan yang mendalam dan penuh rasa hormat kepada 457 prajurit angkatan bersenjata Inggris yang telah gugur dalam menjalankan tugas mulia mereka di Afghanistan. Ia juga tidak melupakan mereka yang kembali dari medan perang dengan luka fisik yang parah, serta mereka yang membawa dampak permanen, baik secara fisik maupun psikologis, akibat pengalaman pahit di zona konflik. Penghormatan ini menjadi fondasi dari kritik Starmer terhadap Trump, menekankan bahwa pengorbanan para prajurit Inggris tidak dapat diabaikan atau diremehkan.
Lebih lanjut, dalam pesan yang sama, Starmer dengan tegas menyatakan bahwa pernyataan Presiden Trump telah secara mendalam melukai perasaan keluarga para prajurit yang gugur dan para veteran yang telah berjuang dengan gagah berani. Ia menekankan bahwa narasi yang dibangun oleh Trump tidak hanya tidak akurat, tetapi juga sangat tidak sensitif terhadap penderitaan yang dialami oleh banyak keluarga di Inggris. “Dan karena itu saya menganggap pernyataan Presiden Trump sebagai menghina dan benar-benar mengejutkan, dan saya tidak terkejut bahwa hal itu telah menyebabkan luka yang begitu dalam bagi orang-orang terkasih dari mereka yang tewas atau terluka,” ujar Starmer, sebagaimana dikutip dari laporan media NDTV. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Inggris memandang dampak emosional dan psikologis dari komentar Trump, terutama bagi mereka yang secara langsung terkena dampak konflik.
Starmer juga menambahkan sebuah dimensi etis yang kuat dalam kritiknya. Ia secara pribadi menyatakan bahwa apabila dirinya pernah mengucapkan pernyataan serupa yang meremehkan kontribusi sekutu, ia akan segera meminta maaf. Hal ini menegaskan standar akuntabilitas dan rasa hormat yang ia pegang teguh dalam hubungan internasional. Inggris, sebagai salah satu sekutu terdekat AS, memegang peranan penting dalam koalisi internasional di Afghanistan. Negara ini tercatat sebagai kontributor terbesar kedua dalam koalisi yang dipimpin oleh AS, terutama setelah serangan teroris 11 September 2001. Sepanjang periode 2001 hingga 2021, Inggris telah mengerahkan lebih dari 150.000 personel militernya ke Afghanistan. Tragisnya, dari jumlah tersebut, 405 dari total 457 kematian prajurit Inggris terjadi akibat aksi permusuhan langsung, sebuah statistik yang menyoroti tingkat bahaya dan pengorbanan yang telah mereka hadapi.
Sekutu NATO Lainnya Juga Menanggung Beban Korban yang Signifikan dalam Perang Afghanistan
Kritik terhadap pernyataan Trump tidak hanya datang dari Inggris. Analisis mendalam terhadap keterlibatan NATO di Afghanistan menunjukkan bahwa banyak negara anggota lainnya juga telah menanggung beban korban yang sangat besar selama konflik yang berkepanjangan ini. Kanada, misalnya, mencatat kehilangan lebih dari 150 prajuritnya. Prancis menyusul dengan 90 korban jiwa, sementara Denmark kehilangan 44 prajuritnya, dan Polandia mencatat 43 korban. Puluhan personel militer dari negara-negara lain seperti Jerman, Italia, dan berbagai negara anggota NATO lainnya juga telah memberikan kontribusi nyawa mereka dalam upaya perdamaian dan keamanan di Afghanistan. Data ini secara gamblang membantah klaim Trump bahwa sekutu-sekutu AS tidak memberikan kontribusi yang berarti atau “tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka.”
Di sisi lain, Amerika Serikat sendiri juga kehilangan lebih dari 2.400 anggota militernya dalam perang yang panjang ini. Namun, perbandingan jumlah korban bukanlah satu-satunya ukuran kontribusi. Proyek Costs of War yang dikelola oleh Universitas Brown, dalam laporannya yang dirilis pada tahun 2021, memberikan gambaran yang lebih luas mengenai dampak konflik ini. Studi tersebut mencatat bahwa setidaknya 46.319 warga sipil Afghanistan tewas secara langsung akibat invasi dan perang yang dimulai sejak tahun 2001. Angka ini belum termasuk korban tidak langsung, seperti mereka yang meninggal akibat penyakit, kelaparan, atau kerusakan infrastruktur yang dipicu oleh konflik, yang kemungkinan besar akan melipatgandakan jumlah korban sipil secara signifikan. Data ini, yang dilansir dari Al Jazeera, menunjukkan skala kemanusiaan dari perang tersebut dan betapa luasnya dampak yang ditimbulkan, bukan hanya bagi personel militer tetapi juga bagi penduduk sipil Afghanistan.
Gedung Putih Berusaha Menepis Kritik, Namun Kecaman Meluas di Seluruh Eropa
Menanggapi gelombang kritik yang datang dari Eropa, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang berusaha menepis dan membenarkan pandangan Presiden Trump. Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa Presiden Trump “benar” dalam pandangannya, dengan menegaskan bahwa AS secara konsisten telah memberikan kontribusi finansial dan militer yang jauh lebih besar bagi NATO dibandingkan negara anggota lainnya dalam aliansi tersebut. Pernyataan ini mencerminkan upaya Gedung Putih untuk mempertahankan narasi Trump, meskipun hal itu justru semakin memperlebar jurang perbedaan pandangan dengan para sekutu.
Menariknya, pernyataan kontroversial Trump ini muncul tidak lama setelah ia melontarkan ancaman untuk memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak proposal AS untuk mengambil kendali atas Greenland, sebuah wilayah semi-otonom Denmark. Ancaman tarif ini kemudian ditarik setelah Trump melakukan pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengenai isu keamanan Arktik. Rentetan peristiwa ini menunjukkan adanya ketegangan yang mendasar dalam hubungan transatlantik, di mana AS di bawah kepemimpinan Trump seringkali mengambil sikap unilateral dan menekan sekutu-sekutunya.
Seiring dengan itu, kecaman terhadap pernyataan Trump tidak hanya berhenti pada level pemerintah, tetapi meluas ke berbagai kalangan di Eropa dan Inggris, melintasi garis partai politik. Menteri Luar Negeri Belanda, David van Weel, secara tegas menyebut pernyataan tersebut “tidak benar dan tidak hormat.” Menteri Pertahanan Polandia, Wladyslaw Kosiniak-Kamysz, menekankan bahwa Polandia adalah “sekutu yang dapat diandalkan” dan menuntut agar “penghormatan diberikan kepada para veteran negaranya.” Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, mengingatkan bahwa 90 prajurit Prancis yang gugur serta mereka yang terluka “layak dihormati.” Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, memberikan penghormatan kepada para prajurit yang tewas sebagai “pahlawan yang mengorbankan nyawa demi bangsa.”
Sikap serupa juga diungkapkan oleh Menteri Angkatan Bersenjata Al Carns, yang memiliki pengalaman pribadi bertugas di Afghanistan sebanyak lima kali. Ia menyebut komentar Trump sebagai “konyol.” Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menilai pernyataan tersebut sebagai “omong kosong yang berpotensi melemahkan NATO.” Bahkan Nigel Farage, pemimpin Reform UK yang dikenal seringkali memiliki pandangan yang berbeda, turut menyampaikan pernyataannya melalui platform X, menyatakan, “Donald Trump salah. Selama 20 tahun angkatan bersenjata kami berjuang dengan gagah berani bersama Amerika di Afghanistan.”
Komentar yang paling menyentuh datang dari Pangeran Harry, yang telah dua kali bertugas di garis depan Afghanistan. Ia berbagi pengalaman pribadinya dengan penuh emosi, mengatakan, “Saya bertugas di sana. Saya membuat teman seumur hidup di sana. Dan saya kehilangan teman di sana. Ribuan kehidupan berubah selamanya. Ibu dan ayah mengubur anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak ditinggalkan tanpa orang tua. Keluarga ditinggalkan menanggung biayanya. Pengorbanan-pengorbanan tersebut pantas dibicarakan dengan jujur dan penuh hormat.” Pernyataan Pangeran Harry ini memberikan perspektif personal yang kuat mengenai dampak nyata dari konflik dan pentingnya menghargai setiap pengorbanan. Sejumlah keluarga prajurit yang gugur, termasuk Lucy Aldridge yang kehilangan putranya, William, pada usia 18 tahun, menggambarkan pernyataan Trump sebagai “sangat menyedihkan.” Direktur Jenderal Royal British Legion, Mark Atkinson, menegaskan bahwa “pengabdian dan pengorbanan pasukan Inggris tak dapat diragukan.”


















