Dalam sebuah perhelatan prestisius Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss, pekan ini, Jared Kushner, menantu mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekaligus mantan penasihat senior Gedung Putih, memaparkan sebuah visi yang sangat ambisius sekaligus kontroversial mengenai masa depan Jalur Gaza. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Kushner memperkenalkan konsep “Gaza Baru” dan “Rafah Baru” yang ia klaim akan segera terwujud di bawah naungan sebuah entitas baru yang disebut Dewan Perdamaian atau Board of Peace. Rencana ini bukan sekadar rehabilitasi infrastruktur biasa, melainkan sebuah transformasi radikal yang mengubah wajah wilayah konflik tersebut menjadi sebuah pusat ekonomi modern yang menyerupai kota-kota metropolitan di pesisir Mediterania.
Visi yang dibawa oleh Kushner ini mengedepankan pembangunan fisik yang masif sebagai solusi utama atas krisis berkepanjangan di wilayah tersebut. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Al Jazeera, rencana induk yang dipresentasikan Kushner menggambarkan deretan menara pencakar langit yang berkilauan di sepanjang garis pantai Mediterania, menciptakan siluet kota yang sepenuhnya baru. Proyek ini mencakup pembangunan lebih dari 100.000 unit perumahan modern yang dirancang untuk menampung populasi dalam skala besar, berdampingan dengan kawasan industri yang tertata rapi serta fasilitas transportasi mutakhir, termasuk pembangunan sebuah bandara internasional baru di Gaza. Namun, yang menjadi sorotan tajam adalah fakta bahwa rencana megah ini disusun tanpa melibatkan konsultasi formal dengan masyarakat lokal Palestina, yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama dari pembangunan tersebut.
Sebagai seorang pengembang properti berpengalaman, Kushner memandang Gaza bukan melalui kacamata geopolitik tradisional, melainkan sebagai aset real estat yang memiliki potensi luar biasa namun belum tergarap. Dalam presentasinya, ia menegaskan bahwa kerangka rencana induk ini adalah jalan tunggal menuju stabilitas pasca-perang. “Tidak ada Rencana B,” tegas Kushner saat memaparkan detail teknis dan arsitektural dari proyek tersebut. Pendekatan ini secara eksplisit mengesampingkan kompleksitas politik yang selama ini menghambat perdamaian, dan justru menawarkan solusi berbasis pasar yang sangat agresif. Bagi Kushner, transformasi Gaza menjadi pusat ekonomi adalah kunci untuk mengakhiri siklus kekerasan, meskipun kritikus menilai pendekatan ini terlalu menyederhanakan masalah hak asasi manusia dan kedaulatan.
Meskipun disajikan sebagai sebuah utopia pembangunan, proposal pemerintahan Trump ini menyimpan paradoks yang mendalam. Rencana tersebut sama sekali tidak memberikan rincian atau solusi terkait isu-isu fundamental seperti hak milik atas tanah, status pengungsi, apalagi mekanisme keadilan bagi korban kejahatan perang yang terjadi selama konflik. Lebih jauh lagi, gedung-gedung pencakar langit yang dijanjikan tersebut rencananya akan didirikan di atas hamparan reruntuhan yang luar biasa masif. Diperkirakan terdapat sekitar 68 juta ton puing dan sisa bangunan yang hancur akibat pemboman, di mana di bawah tumpukan tersebut diyakini masih terkubur ribuan jenazah warga Gaza yang belum sempat dievakuasi. Hal ini menimbulkan perdebatan etis yang serius mengenai pembangunan sebuah kemewahan di atas lokasi yang secara teknis merupakan kuburan massal dan situs tragedi kemanusiaan.
Ambisi Menara Pencakar Langit di Atas Puing Peperangan
Donald Trump, yang turut memberikan pidato panjang dalam forum yang sama di Davos, memberikan dukungan penuh terhadap visi menantunya tersebut. Dengan gaya bicaranya yang khas, Trump berargumen bahwa konflik di Gaza akan segera berakhir dan transisi menuju pembangunan harus dimulai segera. Namun, pernyataan optimis ini berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di lapangan. Di saat para elit global membicarakan investasi di Davos, serangan militer Israel ke wilayah Gaza masih terus berlangsung. Sebagai contoh, pada Kamis, 22 Januari 2026, serangan udara dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, termasuk anak-anak dan jurnalis, menunjukkan bahwa stabilitas yang dijanjikan masih sangat jauh dari jangkauan.
Trump secara terbuka menyatakan bahwa pendekatannya terhadap Gaza didasarkan pada insting bisnis propertinya. “Pada dasarnya saya adalah orang yang berkecimpung di bidang properti, dan semuanya tentang lokasi,” ujar Trump di hadapan para peserta forum. Ia memuji letak geografis Gaza yang strategis di tepi laut dan menyebutnya sebagai “lahan yang indah” yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan cara yang benar. Bagi Trump, Gaza memiliki potensi untuk menjadi “Riviera Timur Tengah”, sebuah destinasi mewah yang dapat menarik wisatawan dan investor global, mengabaikan fakta bahwa wilayah tersebut saat ini merupakan salah satu tempat dengan kepadatan penduduk tertinggi dan tingkat kerusakan infrastruktur terparah di dunia.
Dalam presentasi visualnya, Kushner menampilkan slide yang memperlihatkan puluhan apartemen bertingkat dengan desain futuristik, menghadap ke area pejalan kaki yang hijau dan asri. Ia membandingkan potensi kecepatan pembangunan di Gaza dengan proyek-proyek ambisius di negara-negara Teluk lainnya. “Di Timur Tengah mereka membangun kota-kota seperti ini, untuk dua atau tiga juta orang, dalam waktu singkat, hanya tiga tahun,” kata Kushner merujuk pada laporan dari France 24. Ia meyakini bahwa dengan kemauan politik dan dukungan finansial yang tepat, Gaza dapat diubah dari zona perang menjadi destinasi kelas dunia dalam waktu satu dekade, menciptakan lapangan kerja penuh bagi penduduknya dan mengakhiri ketergantungan pada bantuan internasional.
Target ekonomi yang dipatok dalam rencana ini pun tidak main-main. Kushner menjanjikan mobilisasi investasi setidaknya sebesar US$ 25 miliar untuk membangun kembali infrastruktur dasar, layanan publik, dan fasilitas sosial yang telah hancur total. Dalam proyeksi 10 tahun ke depan, ia mengklaim Produk Domestik Bruto (PDB) Gaza akan melonjak hingga mencapai US$ 10 miliar per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, pendapatan rata-rata setiap rumah tangga di Gaza diperkirakan akan mencapai US$ 13.000 per tahun, sebuah angka yang sangat kontras dengan kondisi kemiskinan ekstrem saat ini. Kushner menjanjikan “harapan” dan “martabat” melalui lapangan kerja 100 persen, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang dalam ekosistem ekonomi yang baru.
Kolaborasi dengan Pengusaha Israel dan Dinamika Geopolitik
Salah satu poin yang paling memicu diskusi adalah keterlibatan pengusaha real estat papan atas asal Israel, Yakir Gabay, dalam proyek ini. Kushner mengungkapkan bahwa Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG) telah menjalin komunikasi intensif dengan Gabay untuk memimpin inisiatif pembangunan ini. Menurut Kushner, Gabay menawarkan keahliannya bukan semata-mata untuk mencari keuntungan finansial, melainkan karena dorongan kemanusiaan. “Dia menawarkan diri untuk melakukan ini karena hatinya ingin melihat wilayah ini bangkit,” klaim Kushner. Fokus utama dalam 100 hari ke depan adalah melakukan konsolidasi rencana agar implementasi fisik dapat segera dimulai di lapangan, dengan target-target yang sangat ketat.
Namun, ambisi Kushner dan Trump ini tampak berjalan di jalur yang berbeda dengan inisiatif regional lainnya. Ketidakhadiran Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, dalam presentasi Kushner di Davos menjadi sinyalemen adanya ketidakselarasan. Padahal, Mesir sepanjang tahun 2025 telah memimpin upaya rekonstruksi Gaza yang didukung oleh koalisi negara-negara Arab dan Uni Eropa. Meskipun Trump dan Sisi sempat melakukan pertemuan empat mata yang penuh pujian, di mana Trump menyebut Sisi sebagai “pemimpin hebat”, Sisi memilih untuk meninggalkan Davos lebih awal sebelum presentasi detail mengenai “Gaza Baru” dilakukan. Hal ini memicu spekulasi mengenai perbedaan visi antara rencana Amerika Serikat yang berbasis real estat dengan rencana regional yang lebih menekankan pada stabilitas politik dan kedaulatan.
Di sisi lain, badan-badan internasional tetap memberikan peringatan keras mengenai realitas kemanusiaan yang ada. Pejabat tinggi PBB baru-baru ini memperingatkan bahwa jutaan warga Gaza masih hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi, bahkan di tengah pembicaraan gencatan senjata. Seluruh ekosistem kehidupan, mulai dari rumah sakit, sekolah, hingga sistem sanitasi, telah hancur total, memaksa ratusan ribu orang bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang tidak layak. Kushner berargumen bahwa model ekonomi Gaza saat ini, yang 85 persennya bergantung pada bantuan luar negeri, tidak berkelanjutan dan justru merampas martabat penduduknya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa investasi swasta adalah satu-satunya jalan keluar yang logis.
Sebagai prasyarat mutlak bagi masuknya investasi besar tersebut, Kushner menegaskan perlunya pelucutan senjata sepenuhnya dari pihak Hamas, sejalan dengan poin-poin gencatan senjata yang diusulkan sebelumnya. Ia meyakini bahwa jaminan keamanan total adalah satu-satunya hal yang dapat meyakinkan perusahaan multinasional dan donor internasional untuk menanamkan modal di wilayah tersebut. “Kami akan segera mengumumkan kontribusi besar yang akan diberikan di Washington dalam beberapa minggu mendatang,” tambah Kushner, menjanjikan adanya peluang investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah konflik. Namun, tantangan di lapangan tetaplah masif, mengingat lebih dari 80 persen bangunan di Gaza telah rata dengan tanah akibat pemboman selama dua tahun terakhir, menciptakan krisis pengungsian yang memaksa 2,3 juta penduduk berpindah-pindah tanpa kepastian masa depan.


















