- Kelurahan Bidara Cina: 4 RT terdampak dengan ketinggian air yang cukup signifikan, mencapai 85 hingga 140 sentimeter. Penyebab utama adalah curah hujan tinggi yang memicu luapan dari Kali Ciliwung. Ketinggian air yang ekstrem ini berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap aktivitas warga.
- Kelurahan Kampung Melayu: 4 RT terdampak dengan ketinggian air mencapai 110 sentimeter. Sama seperti Bidara Cina, genangan di Kampung Melayu juga disebabkan oleh curah hujan tinggi dan luapan Kali Ciliwung.
- Kelurahan Cawang: 5 RT terdampak dengan ketinggian air yang relatif lebih rendah, yaitu sekitar 20 sentimeter. Meskipun ketinggian air tidak setinggi di Bidara Cina atau Kampung Melayu, genangan ini tetap mengganggu aktivitas warga dan disebabkan oleh curah hujan tinggi serta luapan Kali Ciliwung.
- Kelurahan Cililitan: 2 RT terdampak dengan ketinggian air sekitar 20 sentimeter. Penyebabnya serupa, yaitu curah hujan tinggi yang menyebabkan Kali Ciliwung meluap.
Konsentrasi genangan di Jakarta Timur, khususnya yang berkaitan dengan Kali Ciliwung, menyoroti pentingnya pengelolaan DAS Ciliwung yang terintegrasi dan berkelanjutan, termasuk upaya mitigasi banjir di sepanjang alirannya.
Jakarta Utara: Satu RT Terdampak di Kapuk Muara
Di wilayah Jakarta Utara, data BPBD mencatat adanya 1 RT yang terdampak banjir. Lokasi tersebut adalah:
- Kelurahan Kapuk Muara: 1 RT terdampak dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter. Penyebab genangan di sini adalah curah hujan yang tinggi. Wilayah pesisir seperti Kapuk Muara memang rentan terhadap genangan, terutama ketika curah hujan tinggi bertepatan dengan pasang air laut atau intrusi air laut.
Data Pengungsi: Gambaran Dampak Kemanusiaan
Selain data wilayah terdampak, BPBD DKI Jakarta juga merinci lokasi-lokasi penampungan bagi warga yang terpaksa mengungsi akibat banjir. Data ini memberikan gambaran mengenai skala dampak kemanusiaan dari banjir yang terjadi, serta upaya pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan tempat berlindung sementara.
Lokasi Pengungsian di Jakarta Barat
Di Jakarta Barat, sejumlah lokasi telah dijadikan tempat penampungan bagi warga yang mengungsi, tersebar di beberapa kelurahan:
- Kelurahan Rawa Buaya:
- Masjid Baitul Rahman: menampung 20 Kepala Keluarga (KK) dengan total 97 jiwa.
- Masjid Hidayatussalam: menampung 3 KK dengan total 9 jiwa.
- Mushola Nurul Ikhsan RT 006/01: menampung 10 KK dengan total 18 jiwa.
- Balai Warga RT 09/02: menampung 7 KK dengan total 25 jiwa.
- SDN 02 Rawa Buaya: menampung 11 KK dengan total 63 jiwa.
- SDN 03 Rawa Buaya: menampung 15 KK dengan total 38 jiwa.
- SDN 07 Rawa Buaya: menampung 65 KK dengan total 230 jiwa.
- Kelurahan Kembangan Selatan:
- Kantor JNE Kembangan Selatan: menampung 21 KK dengan total 82 jiwa.
- Kelurahan Kembangan Utara:
- Gg. Nurul Muslimin RT 07 RW 01: menampung 27 KK dengan total 114 jiwa.
- Sekretariat Jl. H.Bule RT.008 RW.01: menampung 15 KK dengan total 40 jiwa.
- SDN 01 RT 01 RW 02: menampung 4 KK dengan total 16 jiwa.
- Mushola Al-Hidayah RT 06 RW 01: menampung 24 KK dengan total 79 jiwa.
- Kelurahan Duri Kosambi:
- Masjid Majlis Al-Falah: menampung 25 KK dengan total 100 jiwa.
Lokasi Pengungsian di Jakarta Timur
Di Jakarta Timur, upaya penampungan juga telah dilakukan di beberapa titik:
- Kelurahan Cawang:
- Musholla Al Islah: menampung 15 KK dengan total 60 jiwa.
- Saung Lapangan Tenis RW03: menampung 13 KK dengan total 60 jiwa.
- Kelurahan Bidara Cina:
- Aula Kelurahan Bidara Cina: menampung 32 KK dengan total 107 jiwa.
- Gedung SKKT RW 11: menampung 6 KK dengan total 15 jiwa.
- Masjid Al Abror RW 11: menampung 12 KK dengan total 40 jiwa.
- Kelurahan Kampung Melayu:
- SDN Kampung Melayu 01 dan 02: menampung 46 KK dengan total 250 jiwa.
- Masjid Jami Itihadul Ikhwan: menampung 18 KK dengan total 70 jiwa.
Lokasi Pengungsian di Jakarta Utara
Di Jakarta Utara, tercatat satu lokasi pengungsian:
- Kelurahan Kapuk Muara:
- Gang Masjid Nurul Jannah RW.02: menampung 25 KK dengan total 97 jiwa.
Data ini mencerminkan upaya kolektif dalam menghadapi bencana banjir, di mana koordinasi antara BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam penanganan dan pemulihan pasca-bencana.


















