Dominasi Mutlak di Sinigaglia: Como 1907 Hancurkan Torino Enam Gol Tanpa Balas
Stadio Giuseppe Sinigaglia menjadi saksi bisu sebuah pertunjukan kekuatan yang luar biasa ketika Como 1907 menjamu Torino dalam lanjutan pekan ke-22 Liga Italia Serie A musim 2025/26. Pada pertandingan yang berlangsung Minggu (24/1) malam WIB tersebut, tim asuhan Cesc Fabregas tidak sekadar menang, melainkan memberikan pelajaran sepak bola menyerang yang sangat mematikan bagi tim tamu. Skor telak 6-0 menjadi cerminan betapa timpangnya kualitas permainan di atas lapangan malam itu. Kemenangan ini bukan hanya sekadar tambahan tiga poin, melainkan sebuah pernyataan tegas kepada para pesaing di papan atas bahwa Como 1907 adalah ancaman nyata yang siap mendobrak dominasi klub-klub tradisional Italia. Sejak peluit pertama dibunyikan, intensitas serangan Como tidak membiarkan Torino bernapas, memaksa tim tamu bertahan total di area penalti mereka sendiri hampir sepanjang sembilan puluh menit jalannya laga.
Pesta gol di Sinigaglia dibuka dan ditutup dengan efisiensi yang mengerikan. Penyerang asal Yunani, Anastasios Douvikas, menjadi bintang utama dengan torehan brace atau dua gol yang menunjukkan insting predatornya di kotak penalti. Namun, kemenangan ini adalah hasil dari kerja kolektif yang sangat rapi. Martin Baturina, playmaker muda berbakat asal Kroasia, menunjukkan visi bermain kelas dunia dengan satu gol dan kontribusi besar dalam mengatur ritme permainan. Lucas Da Cunha, Nicolas-Gerrit Kuhn, dan Maxence Caqueret masing-masing turut mencatatkan nama mereka di papan skor, membuktikan bahwa ancaman Como bisa datang dari lini mana pun. Setiap gol yang tercipta merupakan hasil dari skema serangan balik yang cepat, transisi yang mulus, serta penyelesaian akhir yang sangat klinis, membuat penjaga gawang Torino harus memungut bola dari gawangnya berkali-kali dalam suasana yang penuh tekanan dari pendukung tuan rumah.
Kemenangan impresif ini memberikan dampak signifikan pada tabel klasemen sementara Serie A. Dengan tambahan tiga poin penuh, Como 1907 berhasil mengumpulkan total 40 poin dari 22 pertandingan. Pencapaian ini membawa mereka merangsek naik ke posisi kelima, menggeser raksasa Turin, Juventus, yang saat ini mengoleksi 39 poin. Situasi ini memberikan tekanan psikologis yang besar bagi Juventus, yang baru akan melakoni laga pekan ke-22 mereka pada Senin (26/1) dini hari WIB melawan pemuncak klasemen, Napoli. Keberhasilan Como menembus lima besar di pertengahan musim ini merupakan kejutan besar bagi banyak pengamat sepak bola, mengingat status mereka sebagai tim yang terus bertransformasi menjadi kekuatan baru di Italia. Kini, jarak mereka dengan zona empat besar atau zona Liga Champions menjadi sangat tipis, membuka peluang sejarah baru bagi klub yang bermarkas di pinggir danau tersebut.
Ambisi Eropa dan Mentalitas Rendah Hati di Ruang Ganti Como
Meskipun euforia kemenangan 6-0 masih terasa sangat kental, para pemain Como 1907 memilih untuk tetap membumi dan tidak jemawa. Martin Baturina, yang menjadi salah satu motor serangan tim, menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah konsistensi dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Dalam wawancaranya dengan media lokal, ia mengakui bahwa persaingan untuk memperebutkan tiket Liga Champions sangatlah ketat, mengingat Italia hanya memiliki jatah empat tim teratas untuk lolos langsung ke kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut. Baturina menyadari bahwa di atas mereka masih ada tim-tim papan atas dengan pengalaman dan kedalaman skuad yang luar biasa. Namun, ia menekankan bahwa dengan tekad yang kuat dan komitmen penuh di setiap sesi latihan dan pertandingan, Como tidak akan membatasi diri mereka sendiri untuk bermimpi setinggi mungkin di akhir musim nanti.
Senada dengan Baturina, Anastasios Douvikas juga menyoroti aspek non-teknis yang menjadi kunci kesuksesan Como musim ini, yakni keharmonisan di dalam ruang ganti. Menurut Douvikas, skuad Como saat ini dihuni oleh para pemain yang memiliki komunikasi sangat baik satu sama lain, menciptakan sebuah ikatan kekeluargaan yang jarang ditemukan di klub profesional dengan tekanan tinggi. Persatuan inilah yang kemudian mereka bawa ke dalam lapangan hijau untuk saling menutupi kekurangan dan meningkatkan level permainan secara kolektif. Douvikas menjelaskan bahwa fokus mereka saat ini bukanlah pada tabel klasemen, melainkan pada proses peningkatan kualitas individu dan tim di setiap pekannya. Bagi penyerang yang sedang naik daun ini, bekerja secara konsisten dan intensif adalah satu-satunya jalan untuk memastikan Como tetap berada di level kompetitif seperti sekarang.
Analisis mendalam mengenai peluang kompetisi Eropa bagi Como 1907 menunjukkan skenario yang sangat menarik. Jika mereka mampu mempertahankan performa impresif ini dan finis di posisi kelima, Como akan mengamankan tiket otomatis ke Liga Europa, sebuah pencapaian yang sudah sangat luar biasa bagi klub tersebut. Namun, jika mereka sedikit tergelincir dan berakhir di urutan keenam, jatah bermain di Liga Konferensi Eropa tetap akan menjadi sejarah baru bagi publik Como. Tentu saja, target utama yang tetap berada dalam jangkauan radar mereka adalah finis di empat besar demi mencicipi megahnya panggung Liga Champions. Dengan performa seperti saat menghancurkan Torino, target tersebut bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan target realistis yang bisa dicapai jika konsistensi tetap terjaga hingga akhir musim.
Secara taktis, kemenangan enam gol ini juga menunjukkan kematangan strategi yang diterapkan oleh jajaran pelatih. Kemampuan para pemain tengah seperti Maxence Caqueret dalam memutus serangan lawan dan segera mendistribusikan bola ke sektor sayap yang dihuni oleh Kuhn dan Da Cunha menjadi kunci utama. Efektivitas serangan Como terlihat dari statistik pertandingan di mana hampir setiap peluang emas berhasil dikonversi menjadi gol. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi di antara para pemain depan. Di sisi lain, lini pertahanan mereka juga patut mendapat pujian karena berhasil mencatatkan clean sheet, mematikan setiap upaya serangan balik yang coba dibangun oleh Torino. Keseimbangan antara menyerang dan bertahan inilah yang menjadikan Como 1907 sebagai salah satu tim yang paling sulit dikalahkan di Serie A musim ini.
Menatap sisa musim 2025/26, Como 1907 kini berada di persimpangan jalan menuju kejayaan. Dukungan finansial yang stabil dikombinasikan dengan pemilihan pemain yang tepat serta kepemimpinan pelatih yang visioner telah mengubah wajah klub ini secara total. Pertandingan melawan Torino hanyalah satu babak dari perjalanan panjang mereka, namun skor 6-0 tersebut akan selalu diingat sebagai momen di mana Como benar-benar “datang” dan menantang status quo sepak bola Italia. Dengan semangat persatuan yang ditekankan oleh Douvikas dan fokus pertandingan demi pertandingan yang diusung Baturina, publik sepak bola dunia kini menanti sejauh mana keajaiban dari tepi Danau Como ini akan berlanjut di panggung Serie A yang kejam namun penuh gairah.
| Pemain | Kontribusi Gol | Menit Bermain | Status |
|---|---|---|---|
| Anastasios Douvikas | 2 Gol (Brace) | 82′ | Bintang Pertandingan |
| Martin Baturina | 1 Gol | 90′ | Playmaker Utama |
| Lucas Da Cunha | 1 Gol | 75′ | Winger Kreatif |
| Nicolas-Gerrit Kuhn | 1 Gol | 68′ | Akselerasi Sisi Sayap |
| Maxence Caqueret | 1 Gol | 90′ | Jenderal Lini Tengah |


















