Langit malam di kawasan Cianjur Selatan, Jawa Barat, mendadak berubah menjadi panggung fenomena alam yang luar biasa pada Kamis malam, 22 Januari 2026. Sebuah objek angkasa yang diidentifikasi sebagai meteor dilaporkan menembus lapisan atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, menciptakan jejak cahaya yang memukau sebelum akhirnya jatuh di wilayah perairan laut. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB ini tidak hanya meninggalkan kesan visual yang mendalam bagi warga di sekitar Kecamatan Sindangbarang, tetapi juga memicu kekhawatiran akibat suara ledakan keras yang menyertai hilangnya objek tersebut dari pandangan mata. Rekaman video amatir yang dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial memperlihatkan sebuah bola api raksasa yang membelah kegelapan, memberikan bukti awal bagi para peneliti untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai asal-usul benda antariksa tersebut.
Menanggapi fenomena yang menghebohkan ini, Avivah Yamani, seorang pegiat astronomi terkemuka dari komunitas Langit Selatan Bandung, memberikan analisis awal berdasarkan bukti visual yang tersedia. Menurut pandangannya, objek yang melintas tersebut memiliki karakteristik yang sangat identik dengan fireball atau bola api, yakni meteor yang memiliki tingkat kecerahan yang sangat luar biasa dibandingkan meteor pada umumnya. Avivah menjelaskan bahwa meskipun peristiwa ini tampak spektakuler, ada dua kemungkinan besar mengenai identitas objek tersebut: apakah itu merupakan batuan alami dari ruang angkasa yang terjebak gravitasi Bumi, atau justru sampah antariksa (space junk) berupa sisa-sisa satelit atau roket yang kembali memasuki atmosfer (re-entry). Meskipun demikian, ia mencatat bahwa pada periode tersebut sebenarnya tidak ada jadwal hujan meteor tahunan yang sedang berlangsung, sehingga kemunculan objek tunggal ini dianggap sebagai peristiwa sporadis yang menarik untuk dikaji secara mendalam dari sisi sains antariksa.
Analisis Teknis: Perbedaan Signifikan antara Bolide dan Fireball
Dalam upaya memberikan klasifikasi yang lebih akurat, Astronom dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Hakim Luthfi Malasan, memberikan penjelasan teknis yang membedakan jenis-jenis meteor berdasarkan intensitas cahayanya. Berdasarkan pengamatan terhadap video yang beredar, Hakim cenderung mengklasifikasikan objek di Cianjur tersebut sebagai meteor jenis bolide, sebuah istilah yang setingkat lebih spesifik dibandingkan fireball. Bolide didefinisikan sebagai meteor yang sangat terang, bahkan seringkali melampaui kecerahan planet Venus di langit malam, dan memiliki ciri khas utama berupa ledakan hebat atau fragmentasi saat berada di lapisan atas atmosfer. Hakim menekankan bahwa suara dentuman keras yang didengar oleh warga merupakan hasil dari tekanan ram (ram pressure) yang sangat tinggi, di mana udara di depan meteor terkompresi hingga suhunya meningkat drastis dan menyebabkan batuan tersebut pecah berkeping-keping sebelum mencapai permukaan tanah.
Lebih lanjut, Hakim Luthfi Malasan menguraikan perbedaan mendasar antara kedua istilah yang sering tertukar di masyarakat awam tersebut. Jika fireball adalah istilah umum untuk meteor yang sangat terang dan mampu menerangi area yang luas di permukaan Bumi, maka bolide adalah fenomena yang lebih ekstrem karena melibatkan pelepasan energi kinetik dalam bentuk suara ledakan (sonic boom). Dalam kasus di Cianjur Selatan, fakta bahwa objek tersebut habis terkikis di lapisan atmosfer atas dan sisa-sisanya diduga jatuh ke laut lepas membuat proses penelusuran fisik atau pencarian sisa batuan (meteorit) menjadi tantangan yang sangat berat bagi para ilmuwan. Kehilangan material fisik ini berarti para astronom hanya bisa mengandalkan data sekunder berupa rekaman video dan kesaksian warga untuk memperkirakan massa, kecepatan, dan lintasan orbit objek tersebut sebelum memasuki atmosfer Bumi.
Namun, pandangan yang lebih berhati-hati datang dari Thomas Djamaluddin, Peneliti Senior di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Thomas menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum dapat memberikan konfirmasi resmi mengenai jatuhnya meteor tersebut karena keterbatasan data pendukung yang bersifat saintifik dan terukur. Meskipun ia telah menerima dan mengamati dua video yang viral di masyarakat, Thomas menemukan adanya inkonsistensi visual yang menimbulkan keraguan, di mana ketampakan objek dalam video tersebut tampak saling bertolak belakang atau terbalik. Baginya, tanpa adanya data radar atau rekaman dari berbagai sudut pandang yang sinkron, sulit untuk memastikan apakah itu benar-benar meteor atau fenomena atmosfer lainnya. Thomas juga secara tegas mengesampingkan kemungkinan sampah antariksa, karena berdasarkan data pelacakan orbital yang dimiliki BRIN, tidak ada jadwal jatuh atau re-entry sampah antariksa pada koordinat dan waktu yang dilaporkan tersebut.
Misteri Dentuman di Wilayah Sumatera Barat
Hanya berselang beberapa jam setelah kejadian di Cianjur, sebuah fenomena suara dentuman misterius kembali menggetarkan wilayah Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Agam, Pasaman Barat, dan daerah sekitarnya pada Jumat pagi, 23 Januari 2026. Suara yang terdengar sangat keras ini memicu kepanikan di tengah masyarakat, mengingat wilayah tersebut memiliki sejarah aktivitas seismik yang cukup tinggi. Menanggapi situasi ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Minangkabau segera melakukan investigasi menyeluruh untuk mencari sumber suara tersebut. Hasil analisis awal yang dirilis oleh BMKG menunjukkan sebuah fakta yang mengejutkan: tidak ditemukan adanya aktivitas meteorologi yang ekstrem, seperti pertumbuhan awan konvektif (Cumulonimbus) maupun sambaran petir yang signifikan pada saat dentuman terjadi, yang biasanya menjadi penyebab utama suara keras di atmosfer.
Selain melakukan pemantauan cuaca, BMKG juga memeriksa data dari sensor seismik atau alat pengukur gempa di seluruh wilayah Sumatera Barat. Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan, dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa tidak ada catatan gelombang gempa bumi atau aktivitas tektonik yang terekam pada waktu yang bersamaan dengan munculnya suara dentuman tersebut. Hal ini secara otomatis menggugurkan spekulasi masyarakat mengenai adanya pergerakan lempeng tektonik atau aktivitas patahan lokal yang biasanya memicu suara gemuruh dari dalam tanah. Dengan dikesampingkannya faktor cuaca dan gempa bumi, sumber suara dentuman di Agam dan sekitarnya tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya, memicu diskusi lebih lanjut apakah fenomena ini berkaitan dengan aktivitas di lapisan stratosfer atau fenomena akustik atmosfer lainnya yang jarang terjadi.
Fenomena beruntun yang terjadi di Cianjur dan Agam ini menggarisbawahi pentingnya penguatan sistem pemantauan benda jatuh antariksa dan mitigasi bencana di Indonesia. Para ahli sepakat bahwa koordinasi antara lembaga riset seperti BRIN, BMKG, dan institusi pendidikan seperti ITB sangat krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan menenangkan masyarakat dari simpang siur informasi di media sosial. Di sisi lain, peran aktif masyarakat dalam mendokumentasikan fenomena alam secara jujur dan memberikan kesaksian yang valid, terutama dari kalangan nelayan atau awak kapal yang berada di garis depan area jatuhnya objek, akan sangat membantu para ilmuwan dalam menyusun kepingan teka-teki mengenai dinamika benda-benda di sekitar orbit Bumi yang sewaktu-waktu dapat memasuki atmosfer kita.
| Parameter | Lokasi Cianjur Selatan | Lokasi Agam (Sumbar) |
|---|---|---|
| Waktu Kejadian | 22 Januari 2026, 20.00 WIB | 23 Januari 2026, Pagi Hari |
| Jenis Fenomena | Visual (Cahaya) & Suara | Akustik (Suara Dentuman) |
| Klasifikasi Ahli | Bolide / Fireball | Masih dalam Investigasi |
| Penyebab Tektonik | Nihil | Tidak Terdeteksi Seismograf |
| Penyebab Cuaca | Nihil | Tidak Ada Awan Cumulonimbus |


















