JAKARTA – Kekhawatiran mendalam menyelimuti warga Jakarta Barat menyusul insiden hilangnya pelat besi pada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sahabat di Jalan Daan Mogot. Peristiwa ini bukan hanya sekadar vandalisme biasa, melainkan sebuah ancaman serius terhadap keselamatan ribuan pejalan kaki yang setiap hari melintasi jembatan vital ini. Desakan agar pemerintah segera bertindak untuk melakukan perbaikan menyeluruh dan meningkatkan sistem pengamanan menjadi suara dominan dari masyarakat. Mereka berharap agar fasilitas publik esensial ini dapat kembali berfungsi dengan aman dan optimal, tanpa menimbulkan risiko fatal bagi penggunanya.
Salah seorang warga, Sadam, dengan nada cemas mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. “Semoga sih segera diperbaiki jangan sampai nunggu ada korban dulu. Ini kan bahaya banget dan bisa bikin celaka pejalan kaki yang lewat,” ujarnya. Pernyataan Sadam merefleksikan sentimen kolektif masyarakat yang menyoroti urgensi penanganan masalah ini. Hilangnya pelat besi menyisakan lubang menganga pada struktur lantai JPO, yang berpotensi menyebabkan pejalan kaki tersandung, terjatuh, atau bahkan terperosok, terutama bagi anak-anak, lansia, atau mereka yang kurang awas. Bahaya ini semakin meningkat pada malam hari atau saat kondisi pencahayaan minim, di mana visibilitas lubang menjadi sangat rendah. Insiden semacam ini tidak hanya mengancam fisik, tetapi juga menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpercayaan terhadap kualitas pemeliharaan infrastruktur publik oleh otoritas terkait.
Ancaman Berulang: Kronologi dan Dampak Pencurian Pelat Besi
Fakta bahwa hilangnya pelat besi di JPO Sahabat Jalan Daan Mogot bukanlah insiden tunggal, melainkan sebuah pola yang berulang, menambah lapisan kompleksitas pada permasalahan ini. Kejadian ini mengindikasikan adanya celah keamanan yang signifikan dan kurangnya upaya pencegahan yang efektif dari pihak berwenang. Pola pencurian yang berulang kali terjadi pada fasilitas umum yang sama menunjukkan adanya target yang jelas bagi para pelaku, kemungkinan besar karena nilai jual kembali bahan baku besi di pasar gelap. Situasi ini menuntut evaluasi ulang terhadap strategi pengamanan dan pemeliharaan infrastruktur JPO, tidak hanya sekadar perbaikan reaktif tetapi juga solusi proaktif yang berkelanjutan.
Sebagai contoh konkret dari pola berulang ini, pada Juli 2023 lalu, JPO yang sama juga pernah menjadi sasaran pencurian pelat besi. Insiden sebelumnya seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah kota untuk memperketat pengawasan dan mengimplementasikan langkah-langkah pencegahan yang lebih tangguh. Namun, terulangnya kejadian serupa hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun mengindikasikan bahwa langkah-langkah yang diambil sebelumnya, jika ada, mungkin belum memadai atau tidak berkelanjutan. Hal ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai efektivitas patroli keamanan, keberadaan kamera pengawas (CCTV), atau bahkan penggunaan material yang lebih tahan terhadap upaya pencurian. Setiap insiden pencurian tidak hanya merugikan secara material karena biaya perbaikan, tetapi juga merusak citra pemerintah dan mengurangi kepercayaan publik terhadap kemampuan negara dalam melindungi fasilitas umum dan warganya.
Vitalitas JPO dan Dampak pada Mobilitas Urban
JPO Sahabat Jalan Daan Mogot memiliki peran yang sangat strategis dalam menunjang mobilitas warga di kawasan Jakarta Barat. Jembatan ini secara esensial menghubungkan dua kelurahan padat penduduk, yaitu Kelurahan Cengkareng Timur dengan Kelurahan Rawa Buaya. Ribuan warga dari kedua kelurahan ini, mulai dari pelajar yang berangkat dan pulang sekolah, pekerja yang menuju tempat kerja, hingga masyarakat umum yang beraktivitas sehari-hari seperti berbelanja atau mengunjungi sanak saudara, sangat bergantung pada JPO ini untuk menyeberang Jalan Daan Mogot yang padat dan berarus lalu lintas tinggi. Tanpa JPO yang aman dan berfungsi, mereka akan terpaksa menyeberang jalan raya secara langsung, yang sangat berisiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas, atau mencari rute alternatif yang jauh lebih memutar dan memakan waktu.
Disrupsi pada fungsi JPO ini, akibat hilangnya pelat besi, secara langsung mengganggu alur mobilitas urban dan mengancam keselamatan pejalan kaki. Ini bukan hanya masalah kenyamanan, melainkan isu fundamental terkait hak warga atas aksesibilitas dan keamanan dalam menggunakan fasilitas publik. Kerusakan JPO ini dapat menciptakan bottleneck bagi pejalan kaki, memperlambat pergerakan, dan bahkan dapat memicu kemacetan di jalan raya jika ada pejalan kaki yang nekat menyeberang di jalur kendaraan. Oleh karena itu, perbaikan JPO Sahabat bukan hanya sekadar tugas rutin pemeliharaan, melainkan sebuah prioritas mendesak yang membutuhkan respons cepat dan komprehensif dari Dinas Bina Marga dan pihak-pihak terkait lainnya.
Menilik Akar Masalah dan Solusi Jangka Panjang
Untuk mengatasi masalah pencurian infrastruktur publik yang berulang ini, diperlukan pendekatan yang lebih mendalam daripada sekadar perbaikan fisik. Akar masalah seringkali terkait dengan faktor ekonomi, di mana permintaan akan besi bekas di pasar gelap mendorong tindakan kriminal ini. Oleh karena itu, strategi pencegahan harus mencakup beberapa aspek. Pertama, peningkatan pengamanan fisik seperti pemasangan CCTV yang berfungsi optimal dan terhubung ke pusat pemantauan, serta patroli rutin dari petugas keamanan atau Satpol PP, sangat krusial. Kedua, penggunaan material yang lebih sulit dicuri atau memiliki nilai jual rendah di pasar gelap, namun tetap kuat dan aman untuk struktur JPO, bisa menjadi alternatif. Ketiga, edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga fasilitas umum dan melaporkan tindakan mencurigakan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif.
Pemerintah daerah, melalui Dinas Bina Marga, memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan keamanan dan keberfungsian infrastruktur publik. Ini mencakup alokasi anggaran yang memadai untuk pemeliharaan preventif, bukan hanya kuratif. Adanya koordinasi yang lebih baik antara berbagai instansi seperti kepolisian, dinas perhubungan, dan pemerintah kota juga esensial untuk menciptakan sistem pengawasan yang terintegrasi. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pencurian juga akan memberikan efek jera. Tanpa upaya komprehensif ini, JPO Sahabat Jalan Daan Mogot akan terus menjadi target empuk bagi para pencuri, dan ancaman terhadap keselamatan pejalan kaki akan terus membayangi, mengikis kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas hidup warga kota.


















