Jakarta, [Tanggal Terbaru] – Ibu kota Jakarta kembali dihadapkan pada persoalan serius terkait keamanan fasilitas publik, menyusul maraknya aksi pencurian pelat besi pada sejumlah jembatan penyeberangan orang (JPO). Fenomena ini tidak hanya merugikan anggaran daerah, tetapi juga secara langsung membahayakan keselamatan ribuan pengguna fasilitas vital tersebut setiap harinya. Menanggapi eskalasi masalah ini, Penjabat Gubernur Jakarta, Pramono Anung, tampil ke publik dengan instruksi tegas dan solusi inovatif, menyoroti insiden pencurian di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, sebagai salah satu contoh nyata dari krisis infrastruktur yang mendesak ini. Peristiwa pencurian ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa; ia mencerminkan tantangan kompleks dalam menjaga integritas aset publik di tengah dinamika urban yang padat dan kebutuhan mendesak akan pengawasan yang lebih efektif serta material yang tahan terhadap motif kejahatan.
Strategi Mitigasi dan Inovasi Material untuk Keamanan JPO
Dalam respons cepat terhadap insiden berulang, Pramono Anung menginstruksikan Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, sebuah entitas krusial yang bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan dan jembatan di ibu kota, untuk segera mengambil langkah preventif dan korektif. Inti dari instruksi tersebut adalah penggantian pelat besi pada JPO dengan material alternatif yang secara fundamental tidak memiliki nilai jual di pasar gelap barang rongsokan, sehingga tidak menarik bagi para pencuri. “Saya sudah meminta kepada Dinas Bina Marga, semua JPO yang baru menggunakan wooden press yang tidak bisa lagi untuk diambil atau dicuri,” tegas Pramono kepada awak media. Pilihan pada wooden press, yang merujuk pada material komposit berbasis kayu atau engineered wood, merupakan terobosan signifikan. Material ini, yang diproses melalui tekanan tinggi, menawarkan kekuatan struktural yang memadai namun dengan nilai ekonomis yang sangat rendah di mata para penadah barang curian, menjadikannya solusi cerdas untuk memutus mata rantai motif pencurian. Inovasi material ini diharapkan dapat mengakhiri siklus perbaikan dan pencurian yang telah menghabiskan banyak sumber daya pemerintah dan mengancam keselamatan warga.
Pernyataan penting ini disampaikan Pramono Anung saat menghadiri kegiatan Penandatanganan Perjanjian dan Groundbreaking JPO yang menghubungkan kawasan Jakarta International Stadium (JIS) dan Ancol, di Jakarta Utara, pada Minggu, 25 Januari. Acara tersebut tidak hanya menandai dimulainya proyek infrastruktur baru yang vital, tetapi juga menjadi platform bagi pemerintah provinsi untuk menunjukkan komitmennya dalam mengatasi tantangan keamanan infrastruktur yang ada. Pembangunan JPO JIS-Ancol sendiri merupakan proyek strategis yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas antara dua destinasi penting di Jakarta Utara, mendukung mobilitas warga dan pengembangan pariwisata. Konteks pengumuman ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan baru, tetapi juga pada pengamanan aset yang sudah ada, dengan pelajaran berharga yang diambil dari insiden sebelumnya. Pramono juga menegaskan bahwa pencurian pelat besi JPO secara sistematis dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang hanya mencari keuntungan pribadi. Ia menilai kondisi ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi pemerintah daerah melalui biaya perbaikan dan penggantian yang berulang, tetapi yang lebih krusial, sangat membahayakan nyawa dan keamanan para pengguna fasilitas publik. Lubang menganga yang ditinggalkan akibat pencurian dapat menyebabkan pengguna tersandung, terjatuh, bahkan berisiko lebih fatal bagi pejalan kaki, terutama anak-anak, lansia, atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Sebagai mantan Sekretaris Kabinet (Seskab) pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Pramono Anung membawa pengalaman panjang dalam administrasi publik dan pemahaman mendalam tentang pentingnya tata kelola yang baik. Dengan latar belakang tersebut, ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memikul tanggung jawab dalam menjaga dan merawat fasilitas umum. “Saya juga meminta kepada seluruh warga, siapa pun yang mengambil itu, jangan, karena ini untuk kepentingan publik, bukan untuk urusan orang per orang,” tuturnya, menekankan bahwa fasilitas seperti JPO adalah milik bersama yang harus dijaga demi kemaslahatan kolektif. Imbauan ini bukan sekadar seruan moral; ia mencerminkan kebutuhan akan partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan dan pelaporan tindakan kriminal, serta kesadaran akan dampak merusak dari vandalisme dan pencurian terhadap infrastruktur publik. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman dan berkelanjutan.
Krisis Keamanan dan Dampak Sosial di JPO Sahabat
Fokus perhatian utama dalam gelombang pencurian ini adalah JPO Sahabat yang terletak di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Jembatan ini, yang merupakan jalur vital bagi ribuan pejalan kaki setiap hari, telah menjadi sasaran empuk para pencuri. Laporan menunjukkan bahwa pelat besi di JPO Sahabat telah berulang kali hilang akibat aksi pencurian yang terorganisir. Meskipun pada Minggu, 25 Januari, upaya penambalan telah dilakukan untuk menutupi bagian-bagian yang berlubang, insiden serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Frekuensi pencurian yang tinggi di lokasi ini mengindikasikan adanya sindikat atau individu yang secara rutin menargetkan material logam untuk dijual sebagai barang rongsokan. Setiap kali pelat besi dicuri, JPO tersebut berubah menjadi perangkap berbahaya, dengan lubang-lubang yang menganga di lantai jembatan yang dapat menyebabkan cedera serius bagi siapa pun yang melintas di atasnya. Kondisi ini secara signifikan mengurangi fungsi JPO sebagai sarana penyeberangan yang aman dan nyaman, memaksa pengguna untuk berjalan dengan ekstra hati-hati, bahkan berisiko menginjak area yang tidak stabil.
Dampak langsung dari pencurian ini terasa paling kuat di kalangan pengguna JPO. Marjiono, seorang warga sekitar yang setiap hari melintasi JPO Sahabat, mengungkapkan kekhawatirannya yang mendalam. “Kalau bolong, saya takut lewat. Jadi jalannya harus minggir-minggir,” ujarnya, menggambarkan betapa terganggunya rasa aman dan kenyamanan para pejalan kaki. Kesaksian Marjiono mencerminkan kegelisahan kolektif masyarakat yang merasa fasilitas publik yang seharusnya memberikan keamanan justru menjadi sumber kekhawatiran. Rasa takut untuk melintas di JPO yang berlubang tidak hanya memperlambat mobilitas, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis bagi pengguna, terutama bagi anak-anak sekolah, lansia, atau mereka yang membawa barang bawaan berat. Situasi ini mengikis kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga keamanan infrastruktur dasar, sekaligus menyoroti kebutuhan mendesak akan solusi yang lebih kokoh dan berkelanjutan daripada sekadar penambalan sementara.
Lebih lanjut, persoalan keamanan di JPO Sahabat diperparah oleh kondisi sistem pengawasan yang tidak berfungsi. Dua unit kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di JPO tersebut diketahui tidak beroperasi. Investigasi di lokasi menunjukkan bahwa kabel penghubung kamera tampak sudah terputus, mengindikasikan kemungkinan sabotase yang disengaja atau kurangnya pemeliharaan rutin. Akibatnya, pengawasan di lokasi menjadi tidak optimal, bahkan bisa dibilang nihil. Ketiadaan CCTV yang berfungsi menghilangkan alat vital untuk deteksi dini, identifikasi pelaku, dan pengumpulan bukti, sehingga para pencuri merasa lebih leluasa untuk melancarkan aksinya tanpa takut tertangkap. Kegagalan sistem pengawasan ini bukan hanya kerugian teknis; ia merupakan celah besar dalam strategi keamanan publik yang memungkinkan kejahatan terus berulang. Perbaikan dan pengaktifan kembali CCTV, atau bahkan pemasangan sistem pengawasan yang lebih canggih dan tahan vandalisme, menjadi langkah krusial yang harus segera diimplementasikan untuk mengembalikan fungsi pencegahan dan penegakan hukum di JPO-JPO yang rawan.
Secara keseluruhan, tantangan pencurian pelat besi JPO di Jakarta adalah masalah multi-dimensi yang membutuhkan pendekatan komprehensif. Dari inovasi material seperti wooden press yang digagas oleh Penjabat Gubernur Pramono Anung, hingga perbaikan sistem pengawasan CCTV yang terintegrasi, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga fasilitas umum, setiap elemen memegang peran penting. Insiden di JPO Sahabat Daan Mogot adalah pengingat keras bahwa keamanan infrastruktur publik tidak bisa ditawar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus terus berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap JPO di ibu kota aman, fungsional, dan dapat diandalkan oleh seluruh warganya, bebas dari ancaman pencurian dan kerusakan yang membahayakan.


















